Kamis, 03 Desember 2009

Membaca Mitos Arya Jipang


Nama Cepu semakin mengglobal seiring dengan rencana eksplorasi Blok Cepu. Pengekplorasian minyak ini mau tidak mau turut mengangkat nama kota di ujung timur wilayah Jawa Tengah yang berbatasan dengan Jawa Timur ini. Hampir setiap saat Cepu disebut dalam berbagai media, baik lokal, nasional, maupun internasional. Cepu memang dikaruniai potensi alam yang menarik, terutama kandungan minyak yang melimpah. Potensi alam ini menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan yang ingin berkunjung.


Petilasan Arya Jipang
Selain minyak, sesungguhnya Cepu memiliki daya tarik lain yang tak kalah menarik. Salah satunya adalah objek wisata sejarah. Objek ini berupa peninggalan sejarah masa lampau, Petilasan Kadipaten Jipang Panolan. Kerajaan ini terkenal di masa pemerintahan Adipati Aryo Penangsang dengan tunggangan kuda saktinya, Gagak Rimang. Petilasan ini terletak di desa Jipang, berjarak sekitar 8 kilometer dari kota Cepu.

Untuk mencapai daerah Jipang, bisa ditempuh dengan kendaraan sepeda motor atau mobil. Petilasan ini berbentuk makam Gedong Ageng yang dahulu merupakan bekas pusat pemerintahan dan bandar perdagangan Kadipaten Jipang. Di tempat ini bisa ditemukan Petilasan Siti Hinggil, Petilasan Semayam Kaputren, Petilasan Bengawan Sore, Petilasan Masjid, dan makam kerabat kerajaan waktu itu, antara lain makam Raden Bagus Sumantri, Raden Bagus Sosrokusumo, Raden Ajeng Sekar Winangkrong, dan Tumenggung Ronggo Atmojo. Di sebelah utara Makam Gedong Ageng dapat ditemukan Makan Santri Songo. Disebut demikian karena di situ dapat ditemukan sembilan makam santri dari Kerajaan Pajang yang dibunuh oleh prajurit Jipang karena dicurigai sebagai telik sandi atau mata-mata pemerintahan Pajang.

Menurut juru kunci Makam Gedong Ageng, Salekun (50), setiap hari selalu ada pengunjung yang datang ke makam. Tidak saja dari daerah di sekitarnya, tapi juga dari luar daerah, terutama Solo dan Yogyakarta. Banyak juga peziarah dari Surabaya dan Jakarta. Mereka datang dengan berbagai maksud. Ada yang sekadar ingin mengunjungi dan melihat dari dekat peninggalan sejarah zaman Mataram Islam ini, banyak pula yang datang dengan hajat tertentu, seperti pengusaha yang ingin sukses, pejabat yang ingin kedudukan, atau berharap kesembuhan bagi kerabat yang sakit. "Saya kerap dimintai bantuan untuk menyampaikan maksud-maksud tersebut," ujar generasi ketiga dari trah juru kunci makam itu yang telah sebelas tahun lebih mengabdikan dirinya.

Mitos di Seputar Jipang

Sosok Aryo Penangsang sebagai penguasa Jipang Panolan sangat dihormati masyarakat Jipang. Karena rasa hormat itu pula, mereka sampai tak berani membicarakan tentang Adipati yang dibunuh oleh Danang Sutowijoyo ini. Saat saya mencoba menanyakan hal tersebut kepada beberapa warga, mereka menolak menjawabnya. Alasannya, mereka takut kualat kalau membicarakannya.

Setiap pengunjung wisata sejarah Jipang ini harus menjaga sopan santun, terutama saat masuk ke lingkup makam. Menurut juru kunci Salekun, ada beberapa pantangan yang tidak boleh dilanggar saat berkunjung ke makam. Pantangan itu antara lain dilarang membawa benda-benda yang ada di lingkungan makam, bahkan secuil tanah pun. Pengunjung juga diminta untuk uluk salam terlebih dahulu saat akan masuk makam, dan jangan tinggi hati atau menyepelekan hal-hal yang ada dalam kompleks makam. "Kalau pantangan-pantangan ini dilanggar biasanya ada kejadian yang tidak baik menimpa orang tersebut," ujarnya.

Salekun bercerita, dahulu pernah ada pejabat pemerintahan Blora yang mengambil sebuah batu bata di lingkungan makam. Saat diingatkan oleh juru kunci, pejabat tersebut berujar,"Aryo Penangsang iku Bupati, aku ya Bupati. Apa bedane?" Mendapat jawaban tersebut akhirnya juru kunci membiarkan pejabat tersebut membawa pulang batu bata dengan dibungkus kain putih dan disimpan di rumahnya. Beberapa hari kemudian tersiar kabar bahwa pejabat tersebut meninggal dunia. "Tapi, saya tak tahu persis apa ada hubungan antara batu bata dengan meninggalnya pejabat tersebut," tukasnya. Cerita-cerita mistis yang bersumber pada sosok Aryo Penangsang tumbuh subur di Jipang. Misalnya ada cerita yang mengatakan bahwa sesekali aliran sungai Bengawan Sore yang berada dekat makam airnya berwarna merah darah. Darah itu diyakini berasal dari darah Aryo Penangsang saat ditombak oleh Danang Sutowijoyo. Ada juga yang bercerita bahwa di sekitar Bengawan Sore ada pohon kelapa yang kerap didatangi oleh kuda tunggangan Aryo Jipang, Gagak Rimang. Kalau malam terdengar ringkikan kuda tersebut. Konon pohon kelapa tersebut dahulu merupakan tempat untuk menambatkan kuda Gagak Rimang.

Tidak hanya itu, pasir yang berada di sungai Bengawan Sore tidak berani ditambang oleh penduduk. Padahal, pasir di sungai itu terkenal kualitasnya bagus. Penambangan hanya terjadi di sungai Bengawan Solo yang melintasi sebagian wilayah Cepu. "Dahulu pernah ada yang berani menambang, tapi saat pasir dibawa ke Pati dengan truk, esok harinya truk kembali dengan membawa pasir itu lagi," cerita Salekun.

Warga Jipang juga memiliki tradisi sedekah bumi sebagai ungkapan rasa syukur. Tradisi ini disebut dengan manganan dan biasanya dilakukan di makam Gedong Ageng. Setidaknya ada tiga acara manganan, yakni saat turun hujan pertama kali, saat tanam padi, dan saat panen. Acara ini biasanya disertai dengan pertunjukan seni tradisi, seperti ketoprak, wayang krucil, wayang kulit, atau seni tradisi yang lain. Namun pantangannya, "kalau nanggap kethoprak jangan sampai mengambil lakon Aryo Penangsang. Bisa berbahaya!" ungkap Salekun wanti-wanti.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar