Minggu, 28 Agustus 2011

Mencetak Generasi Qurotaayun


Mencetak Generasi Qurotaayun

Rasulullah SAW bersabda:
Setiap dari kalian adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya. Seorang imam adalah pemimpin dan dia bertanggunjawab atas kepemimpinannya.  Dan, orang laki-laki adalah pemimpin dalam keluarganya dan bertanggungjawab atas kepemimpinannya. Dan, wanita adalah pemimpin di rumah suaminya.  Dan akan ditanya, dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya.  Dan, seorang pelayan adalah pemimpin atas  harta tuannya, dan ia akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannnya itu. (Muttafaq alaih)

Secara alamiah kepribadian ibu sangat dekat dengan anak-anaknya dan mencintai mereka.  Dia pandai menarik hati mereka , sehingga mereka senantiasa membuka jiwa dan hati bagi sang ibu yang dicintainya.  Mereka mengungkapkan berbagai permasalahan yang dihadapinya, sang ibu menanggapinya dan berusaha untuk mengatasi dan mengarahkan mereka mengendalikan perasan mereka dengan tetap memperhatikan tingkat pemikiran dan usia mereka.

            Sejarah telah membuktikan pengaruh ibu sangat besar terhadap anak,  Umar bin Abdul Aziz adalah contoh dari pendidikan seorang ibu yang baik, ibunya Layla adalah hasil perkawinan Ashim bin Umar bin Khattab dengan gadis pemerah susu yang jujur yang bernama Fatimah. Seperti dalam buku Kehidupan para Tabiin[i], ketika Umar bin Khattab menemukan kejujuran Fatimah maka ia mengawinkan dengan anaknya Ashim.  Dari perkawinan inilah lahir Khalifah Umar bin Abdul Aziz, Khalifah dari Bani Ummayh yang mampu mencerahkan Islam pada masanya.
            Sementara itu, anak Muawiyah seperti Yazid dan keponakan Muawiyah anak Zayid, Ubaidillah [ii], dilahirkan dari ibu Yazid berasal dari suku Badui  yang  dinikahi karena kecantikan, kedudukan, dan keluargannya. Sehingga keduanya tidak mewarisi sifat-sifat Muawiyah yang penuh kesantunan, pandangan politiknya.  Sementara itu Ubaidillah tidak mewarisi kecerdasan dan kecerdikan Ziyad, tapi ia hidup bodoh dan lemah, ibunya suku Persia yang tidak memilik keahlian yang dapat menjadikan anaknya menjadi orang besar.

Ummu Madrasatun
Dengan demikian ibu adalah guru terbaik bagi anak, yang dapat dilihat, dirasakan kedekatannya, sehingga akan menumbuhkan perasaan-perasaan anak yang akan melahirkan sikap terhadap berbagai hal.  Menurut Doob (1947)[iii], sikap pada hakikatnya adalah implicate response  yang terjadi langsung setelah rangasangan, baik disadari atau tidak disadari. Implicate response yang tersembunyi ditambah faktor-faktor lain dari dalam diri individu seperti dorongan, kehendak, kebiasaan dan lain-lain akan menimbulkan tingkah laku nyata.
            Oleh karena itu, kontribusi ibu terhadap perkembangan perilaku anak adalah kuat.  Sehingga, peranan ibu untuk menumbuhkan anak yang berkepribadian kuat, terbuka, tidak mudah tersinggung, cerdas adalah dominan.   Ibu yang pemurung akan melahirkan anak yang pemurung, sebaliknya ibu yang ceria akan melahirkan anak yang ceria.  
            Dalam kaitannya dengan kemajuan sebuah bangsa, maka posisi ibu adalah strategis.  Karena dengan kaum ibu yang sehat lahir dan bathin akan melahirkan generasi muda yang sehat lahir dan bathin pula. 
            Lantaran itulah  dengan posisi yang strategis, adalah tugas semua komponen masyarakat, untuk mendudukkan kembali posisi ibu pada porsinya.  Bukan hanya ibu biologis  saja, akan tetapi juga ibu seutuhnya.

Kerjasama Orang Tua dalam Mendidik  Anak
            Akan tetapi, peluang ibu  untuk menjadi ibu seutuhnya sangat tergantung peran suami.   Karena sesuai dengan tugas suami yang dibebankan Islam padanya, maka  ia bertugas mencari nafkah, dan mendidik istri, sehingga kerjasama suami dan istri dalam mendidik anak adalah mutlak.  Artinya, pembagian tugas jelas, mencari nafkah adalah domain suami, mendidik anak adalah domain istri.
Namun, hal ini tidak berhenti pada pembagian tugas.  Tapi, melanjutkannya menjadi sinergi, ada kerjasama, baik dalam perencanaan dan pelaksanaan tugas-tugas tersebut.  Sehingga timbul suasana saling pengertian.
Dan, untuk menumbuhkan rasa saling mengerti, kontribusi suami berperanan besar, karena ia diharapkan  mampu menampilkan sosok pemimpin sekaligus perencana pendidikan  keluarga.  Ia musti  mampu membuat rancangan garis besar pendidikan anak baik itu jangka pendek, menengah, dan jangka panjang.  Yang kemudian didiskusikan dengan istri bagaimana pelaksanaannya sehari-hari.

Masa Keemasan Anak
Masa Pranatal
            Pada dekade 1940-an, para ahli psikologi perkembangan mulai  menunjukkan perhatian serius pada perkembangan pranatal ini Hurlock (Suharsono, 2002)mengatakan[iv], bahwa bebagai riset medis diketahui bahwa kehidupan janin yang sangat singkat dalam kandungan ibu mengalami fase perkembangan yang sangat dahsyat.
            Menurut Suharsono[v]ada empat aspek dasar yang sangat menentukan yang diperbuat ibu dan ayah bagi perkembangan janin.  Pertama, aspek fisik dan material.  Kedua,aspek moral. Ketiga, aspek intelektual. Keempat, aspek spiritual.

Masa 0-5 th
            Berbagai penelitian menunjukkan, lebih dari 50% perkembangan individu terjadi pada usia dini yang merupakan periode subur bagi pertumbuhan otak. Pada masa ini asupan gizi sangat berpengaruh. Selain itu penanaman nilai sangat perlu dikenalkan dan ditanamkan.
            Penanaman nilai-nilai pada fase ini dilakukan harus dalam suasana gembira dan menyenangkan, sehingga akan melahirkan anak yang terampil, perkembangan bahasa cepat dan koordinasi inderanya cepat. Para peneliti di Baylor of Medicine menemukan, perkembangan otak anak yang jarang diajak bermain atau jarang disentuh lebih kecil 20% atau 30% dari ukuran normal pada usia itu[vi].

Cara-cara Nabi Mendidik Anak
            “Ajarlah, permudahlah, dan jangan persulit! Gembirakanlah dan jangan takut-takuti! Jika salah seorang dari kalian marah hendaklah berdiam diri!  (HR. Bukhori dan Ahmad)
Keteladanan orang tua merupakan modal penting dalam mendidik anak, karena orang tualah yang paling banyak diikuti oleh anak-anaknya, dan mereka pulalah yang memberi pengaruh kuat terhadap jiwa anak, oleh karena itulah maka Rasulullah mengatakan “Maka kedua orang tuanyalah yang membuatnya menjadi yahudi, nasrani atau majusi.”
Selain itu, orang tua perlu bersikap adil dan tidak pilih kasih, cerita dalam Al Qur’an tentang saudara-saudara Yusuf cukuplah menjadi pelajaran agar setiap orang tua bersikap adil terhadap anak-anaknya. Dan Rasulullahpun mengatakan dalam sebuah hadist yang diriwayatkan oleh Muslim yang berbunyi, “Bertakwalah kepada Allah, bersikaplah adil terhadap anak-anak kalian.”
Untuk mendapatkan kemudahan dari Allah maka orang tua sebaiknya berdoa untuk anak-anaknya
Rasulullah bersabda “Janganlah kamu berdoa buruk ke atas dirimu, janganlah kamu berdoa buruk atas anak-anakmu, janganlah kamu berdoa buruk ke atas pelayanmu dan janganlah kamu berdoa buruk ke atas harta-hartamu! Jangan sampai kamu (berdoa begitu) bertepatan dengan waktu (dimana) Allah (akan mengabulkan doa), lalu tutun di dalamnya pemberian (yang kamu minta) sehingga doamu itu benar-benar terkabul.”  (HR. Abu Dawud)  
               


[i]) Ahmad Mahmud, Azhari, Potret 28 Tokoh Tabiin, Jakarta, Robbani Pers 2006, hal 309 - 310
[ii] )Al Hasyimy, Dr. Muhammad Ali, Jati  Diri Wanita Muslimah, Jakarta, Pustaka Al kautsar, 1997,hal 202
[iii] )Sarlito Wirawan Sarwono, Teori Psikologi Sosial, Jakarta, 1995, hal 20
[iv] )Suharsono, Melejitkan IQ, IE, & IS, Jakarta, 2002, hal 33
[v] )Suharsono, Melejitkan IQ IE & IS, Jakarta,2002, hal 37
[vi]).Rahmawti Neny, Ali Nugraha, Kiat Merangsang Kecerdasan Anak, Jakarta, 2003, hal 3

Tidak ada komentar:

Posting Komentar