Kamis, 29 Oktober 2015

Santri ASSALAM Bangilan Gelar Shalat Istisqo'

 Santri ASSALAM Bangilan Gelar Shalat Istisqo'

ربّى إنّى ظلمت نفسى ظلما كثيرا واغفرلى مغفرة من عندك. اللهمّ استجب دعاءنا يا ربّ العالمين

Gema istighfar  suara santri Pondok Pesantren ASSALAM Bangilan memenuhi halaman tempat dilaksanakannya shalat Istisqo'. Pagi itu santriwan-santriwati ASSALAM Bangilan memang sedang melaksanakan sholat minta hujan. Kemarau yang panjang, dan bencana asap di wilayah Sumatera dan Kalimantan membawa empati bagi seluruh rakyat Indonesia untuk ikut serta membantu dan mendo'akan agar hujan segera tiba. Begitu juga di Pesantren ASSALAM Bangilan, seluruh santri bersama jajaran dari Muspika Bangilan melaksanakan sholat istisqo' di halaman pesantren.


Bertindak sebagai imam shalat al Ustadz Al Kyai Muhammad Siddiq, sedang khatibnya adalah al Ustadz Al Kyai Yunan Jauhar. Dalam khutbahnya Gus Yunan mengingatkan kepada para jamaah untuk memperbanyak membaca istighfar kepada Allah Swt, agar dosa-dosa kita diampuni-Nya. Karena dengan memperbanyak membaca Istighfar Insyallah hujan akan segera diturunkan.
وأكثرو من الإستغفار فإنه سبب فى نزول الأمطار وحصول الأوطار 


Pelaksanaan shalat istisqo' yang dilaksanakan pada hari Kamis pagi, 29 Oktober 2015 berlangsung khusu', para jamaah berharap hujan yang penuh berkah segera turun dan menghijaukan sawah-sawah para petani, mengairi sumur-sumur yang kering, dan mampu memadamkan bencana asap yang melanda negeri Indonesia tercinta. Salam. Joyojuwoto

Sabtu, 24 Oktober 2015

Sugondo Djojopuspito Ketua Konggres Pemuda dari Tuban

Sugondo Djojopuspito Ketua Konggres Pemuda dari Tuban
Sebuah Renungan di Hari Sumpah Pemuda


Sebagai warga masyarakat Tuban kita layak bangga, ternyata momentum peristiwa besar yang menjadi tonggak sejarah pergerakan bangsa Indonesia, yang terjadi pada tanggal 28 Oktober 1928 dan sekarang yang kita kenal  sebagai Hari Sumpah Pemuda ternyata tidak terlepas dari peran seorang pemuda dari Tuban. Sugondo Djojopuspito yang menjadi ketua dari konggres itu terlahir di Bumi Ranggalawe pada tanggal 22 Februari 1905.

Sugondo Djojopuspito terpilih sebagai ketua konggres karena beliau berasal dari organisasi PPI (Persatuan Pemuda Indonesia) sebuah organisasi yang dianggap independen dan tidak kesukuan. Padahal Mohammad Yaminlah yang saat itu menjadi kandidat ketua. Karena Mohammad Yamin berasal dari Jong Sumatra (Kesukuan), maka atas persetujuan dari Muhammad Hatta dan Bung Karno terpilihlah Sugondo Djojopuspito.

Konggres pemuda ini memiliki makna yang besar bagi tumbuh kembangnya kesadaran persatuan dan kesatuan bangsa. Bagaimana tidak, organisasi-organisasi pemuda dari berbagai pulau di Nusantara seperti Jong Java, Jong Sumateranen Bond, Jong Bataks Bond, Jong Celebes, Jong Ambon, Jong Islamieten Bond, dan organisasi-organisasi pemuda lainnya sama berkumpul di Batavia untuk menyatakan trilogi sumpah pemuda yang meliputi : Satu Nusa, Satu Bangsa, dan Satu Bahasa Indonesia.

Peran Pemuda sebagai elemen perubahan bangsa (agent Of Change) memang sangatlah vital, karena pemuda adalah penerus perjuangan bangsa. Sesungguhnya terletak ditangan pemuda urusan bangsa ini, dan pada jejak langkah pemuda pula hidup dan matinya bangsa. Jika pemuda kita lemah, maka bangsa ini juga akan lemah. Jika pemuda kita mlempem maka bangsa ini juga akan mlempem. Oleh karena itu kita sebagai warga Tuban harus mewarisi semangat persatuan dan kesatuan yang telah dicontohkan oleh Sugondo Djojopuspito, jangan sampai kita mau dipecah-pecah hingga tak tersisa sedikitpun dari kekuatan kita. Ingatlah bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh.

Semangat sumpah pemuda ini harus kita rawat dengan sikap saling toleransi, harus kita sirami dengan semangat kegotong-royongan, harus kita pupuk dengan jiwa empati, walau kita berbeda-beda pada dasarnya kita berasal dari satu rumpun yang sama dari satu sumber yang sama. Semangat kebhinekaan harus kita tumbuhkan di tengah carut-marutnya kondisi bangsa ini. Kita jangan sampai berputus asa dan membiarkan benih-benih keretakan semakin melebar, jangan sampai ikatan persatuan kita putus karena hal-hal yang sepele. Karena beda club sepak bola, karena pilkada, pilgub, pemilihan kepala desa, pemilihan RT/RW dan lain sebagainya. Ingatlah harapan itu masih ada.

Mari kita meneladani peristiwa sejarah, meneladani para pahlawan-pahlawan kita. Mereka tidak mengharapkan apapun dari usahanya kecuali perjuangan semata. Mereka tidak mengharap kita menabur bunga di atas pusara, mereka tidak mengharapkan poto-poto mereka dipajang sebagai pahlawan-pahlawan bangsa, mereka hanya berharap kebesaran bangsa ini, mengharapkan kedaulatan negeri ini, mengharapkan rakyat makmur, hidup damai dalam naungan Negara kesatuan Republik Indonesia.

Sugondo Djojopuspito Sang Ketua Konggres Pemuda II sampai saat ini pun tak berharap apapun, karena beliau telah tenang dalam pelukan Tuhan. Walau pemerintah belum menganugerahi gelar Pahlawan Nasional. Tahun 1978 beliau wafat dan dimakamkan di Pemakaman Keluarga Besar Taman Siswa Taman Wijayabrata, Celeban, Umbulharjo Jogjakarta. Joyojuwoto

Kamis, 22 Oktober 2015

Dialektika Korupsi dan Masa Depan Peradapan Indonesia

Dialektika Korupsi dan Masa Depan Peradapan Indonesia

          
Pic : ikankoi.wordpress.com
  Korupsi menjadi kata yang paling banyak disebut dalam ranah hukum di negeri ini. Disetiap lini kehidupan anak bangsa korupsi menjadi hal yang lumrah dan jamak dilakukan, sehingga seakan-akan korupsi menjadi bagian dari peradapan dan budaya bangsa kita. Korupsi tidak hanya menjangkiti orang-orang yang awam akan konstitusi, justru korupsi itu menggurita di lembaga yang memakai simbol cakra milik Kresna yang dipakai untuk memberantas ketidak adilan. Korupsi tidak hanya menimpa orang-orang bodoh, justru korupsi banyak dilakukan oleh kaum cerdik cendikiawan. Masih lekat dalam ingatan kita tokoh-tokoh yang menggembar-gemborkan dan mengkampanyaken anti korupsi pun ternyata sebagian besar dari mereka justru ditangkap aparat hukum dan diprodeokan karena kasus korupsi juga. Apakah memang benar korupsi  telah menjadi bagian dari peradapan dan budaya asli bangsa ini ?

            Jikalau pun benar korupsi menjadi bagian dari kearifan lokal bangsa tentu kita sepakat bahwa hal itu tidak boleh kita wariskan kepada generasi-generasi setelah kita. Nilai-nilai yang baik wajib kita jaga dan kita wariskan sedang nilai-nilai yang merusak harus kita enyahkan. Harus ada gerakan radikal untuk menjadikan korupsi sebagai musuh bersama agar kita bisa membangun peradapan baru yang penuh integritas.

            Tradisi korupsi yang telah mengakar dan menjalari nadi-nadi kehidupan bangsa sejatinya bisa kita cegah sejak dini dengan memberikan pendidikan karakter yang kuat kepada anak bangsa, seperti pendidikan di sekolah seharusnya tidak hanya mengajarkan pengetahuan secara teoritis saja namun perlu ada format yang jelas dan terukur untuk membangun jiwa dan karakter anak didik. Kita patut bersyukur dan  bahagia akhir-akhir ini pemerintah telah menggembar-gemborkan struktur kurikulum 2013 yang mana dalam proses pembelajarannya wajib menggunakan pendekatan saintifik. Yaitu sebuah pendekatan yang diyakini menjadi titian emas bagi perkembangan pengetahuan dan keterampilan peserta didik.

Pemerintah sepertinya sangat mengharapkan keajaiban dari kurikulum ini, agar nantinya generasi emas Indonesia dua puluh atau tiga puluh tahun yang akan datang benar-benar muncul generasi yang benar-benar baru dan terlepas dari pengaruh rezim lama yang yang dianggap menjadi sumber  petaka negara. Tidak berlebihan memang harapan ini, karena mayoritas pejabat publik tersangkut dengan kasus endemik korupsi. Mulai dari kalangan pejabat, birokrat, penegak hukum, pengusaha saling main mata untuk menilap uang rakyat, untuk merampok kekayaan negara. Saling kerja sama dalam hal kemungkaran, seakan memang itu telah menjadi sebuah tradisi. Sungguh begitu ngerinya korupsi yang melanda negeriku tercinta ini.

Uswah yang baik dan keteladanan menjadi barang yang langka di era kini, kita seakan telah kehilangan bumi untuk berpijak. Kehilangan jati diri dan kemurnian identitas. Padahal dulu kita adalah bangsa yang besar. Lihatlah Mataram Kuno dengan Borobudurnya, lihatlah Sriwijaya yang menjadi pusat penyebaran agama budha se Asia Tenggara kala itu, dan lihatlah surya Majapahit yang cemerlang menerangi seantero nusantara. Abad itu adalah abad di mana di belahan dunia hanya ada dua kerajaan yang berjaya Majapahit dan kekaisaran Tiongkok.

Kita juga punya sejarah pemerintahan yang keagungannya seperti sebuah dongeng, sebuah kerajaaan yang dipimpin oleh Maharani, seorang Ratu namun keadilannya bagai malaikat yang menjelma di dunia. Kerajaan Kalingga yang dipimpin oleh Ratu Sima. Sang Ratu menerapkan undang-undang yang ketat kepada seluruh warga kerajaan, tidak terkecuali itu bangsawan istana, bahkan keluarganya sendiri. Hukum ditegakkan setegak-tegaknya, keadilan dijaga, hukum tidak pandang bulu, hukum menjadi panglima tertinggi bagi kehidupan masyarakat, makmur, aman, dan sejahteralah kerajaan Kalingga menurut catatan dari negeri Cina.

Mataram Kuno, Sriwijaya, Majapahit, Kalingga mungkin adalah sepenggal romantisme sejarah di negeri ini, namun kita perlu belajar dari kearifan sejarah itu, agar kacang tidak lupa pada kulitnya. Sebagaimana yang dikatakan oleh Bung Karno Jasmerah, jangan sekali-kali melupakan sejarah. Itulah bangsa yang besar, bangsa yang menghargai jasa-jasa para leluhurnya.

Tugas kita sebagai warga negara sekarang adalah menyambungkan kembali benang sejarah masa silam yang terputus, mencari missing link dari kearifan lokal yang telah tertukar karena syahwat kekuasaan dan bujukan keduniawian. Agar masa depan bangsa ini kembali cemerlang dan sinarnya memberkati seantero bumi pertiwi. Agar bangsa ini kembali menjadi bangsa Garuda yang akan terbang ke segala penjuru cakrawala nusantara. Joyojuwoto.


Rabu, 21 Oktober 2015

Refleksi Hari Santri; Pesantren dan Kiprahnya di Tengah Masyarakat

Refleksi Hari Santri; Pesantren dan Kiprahnya di Tengah Masyarakat

Pemerintah melalui Keputusan Presiden RI Joko Widodo Nomor  22 Tahun 2015 tertanggal 15 Oktober 2015 menetapkan setiap tanggal 22 Oktober sebagai Hari Santri Nasional. Penetapan hari santri ini tentunya akan mengukuhkan identitas dan peran santri di kancah nasional. Terlepas dari pro dan kontra tentang penetapan Hari Santri Nasional saya sedikit ingin merefleksikan tentang masyarakat pesantren.

Kata santri sendiri ada yang bilang berasal dari bahasa Sansekerta, dari kata Shastri yang berarti melek huruf. Pendapat lain menyatakan santri berasal dari bahasa Jawa dari kata cantrik, yakni seseorang yang mengikuti seorang guru dengan maksud berguru atau mengaji, kata santri inilah yang akhirnya membentuk satu lingkungan yang dikenal dengan nama pesantren. Terlepas dari pengertian dari mana asal kata santri yang pasti santri adalah golongan masyarakat yang pernah merasakan dan menuntut ilmu di pesantren. Baik dalam istilah mondok ataupun model santri kalong (santri yang tidak bermukim di pesantren).

Istilah santri tampaknya bakal go nasional mengikuti jejak songkok nasional kita yang lebih dahulu beken menjadi pakaian identitas nasional. Tidak salah memang, lha wong songkoknya, atau pecinya saja sudah menjadi ikon nasional kok pemakainya yang kebanyakan dari kalangan pesantren masih berputar-putar di ruang lingkup lokal. Masih saja berdebat qunut dan tidak qunut, tarawih sebelas rakaat ataukah dua puluh tiga rakaat, kalau shalat pakai nawaitu atau tidak dan permasalahan klasik lainnya.

Saya tentu tidak bermaksud merendahkan identitas santri, karena banyak juga santri-santri yang aksinya level  nasional bahkan mendunia.Contohlah KH. Hasyim Asy’ari, Kiai Wahab Chasbullah,Wakhid Hasyim,  Gus Dur, Cak Nur , Cak Nun beliau-beliau adalah kaum sarungan yang terlahir dari rahim pesantren. Tanpa meninggalkan identitas santri, mereka mampu berperan sebagai warga negara yang produktif dan konstruktif dalam membangun hasanah peradapan bangsa.

Santri seyogyanya peka terhadap isu-isu yang berkembang di tengah-tengah masyarakat, karena memang di masyarakat itulah akar santri menghunjam. Santri dan pesantren seharusnya menjadi semacam katarsis bagi jiwa masyarakat yang semakin keruh, dari pesantren seharusnya mata air kearifan bisa ditimba guna memenuhi dahaga peradapan yang semakin gersang. Pesantren adalah oase yang menyejukkan di tengah-tengah gencarnya budaya kekerasan dan kesewenang-wenangan yang melanda di sekitar kita. Dari sumber mata airnya yang jernih, dari kesejukan udara pesantren yang murni, dan dari tanah pesantren yang gembur kita berharap negeri ini kembali subur dan makmur, menjadi negeri yang baldatun thoyyibatun wa rabbun ghofur, negeri yang baik serta berada dalam ampunan Tuhan.


Dari Pesantren yang notabenenya merupakan lembaga pendidikan  asli bercorak nusantara kita berharap tumbuh kembangnya nilai-nilai kearifan lokal (wisdom lokal) yang dapat mereduksi dan memberikan anti bodi masyarakat khususnya generasi muda bagi masuknya nilai-nilai dan budaya luar yang nyaris tak terbendung di era globalisasi ini. Merujuk apa yang dikatakan oleh KH. Husein Mohammad Pengasuh Pondok Pesantren Dar al-Tauhid, Arjawinangun Cirebon, dalam buku “Pendidikan Karakter Berbasis Tradisi Pesantren”  beliau menyatakan : “Saya lahir, besar dan bergumul sepanjang hidup bersama pesantren. Ia memiliki nilai kemanusiaan profetik dan khazanah intelektual yang kaya. Maka, pesantren memiliki potensi besar untuk menjadi sumber inspirasi bagi masa depan bangsa-negara ini.” Joyojuwoto.

Sabtu, 17 Oktober 2015

Guru dan Masa Depan Peradaban Bangsa

Guru dan Masa Depan Peradaban Bangsa


Berbicara mengenai guru selalu menarik, apalagi guru didaulat sebagai pahlawan tanpa tanda jasa. Sangat akrab di telinga kita lagu-lagu yang begitu menyanjung peran guru. Tidak salah memang guru mendapatkan maqom dan derajat yang sedemikian tinggi, karena Allah sendiri pun memberikan penghargaan bagi profesi seorang guru. Dari peran seorang gurulah kita yang tidak bisa apa-apa akhirnya menjadi yang sekarang. Dalam kisah-kisah banyak diceritakan tentang guru-guru yang hebat, sejarah bercerita bagaimana liarnya Singa padang Karautan Ken Arok, namun ia tunduk dan takluk dibawah asuhan Brahmana Loh Gawe, bahkan kelak Ken Arok menjadi seorang raja besar pendiri kerajaan Singasari , kita tentu juga ingat dengan cerita bagaimana berandalannya anak Adipati Tuban, Raden Sahid namun akhirnya ia insaf setelah berguru kepada Sunan Bonang, bahkan menjadi Guru Suci Tanah Jawa dengan gelar Sunan Kalijaga. Tidak itu saja masih banyak guru-guru hebat yang berhasil mencetak generasi-generasi yang dahsyat.

Seorang guru tentunya harus memiliki kemampuan lebih dan di atas rata-rata manusia lainnya, karena guru memiliki tanggung jawab dan menjadi kunci serta penentu keberhasilan anak didiknya. Guru haruslah menjadi seorang teladan, seorang figur yang menginspirasi bagi anak didiknya, tidak salah dalam gugon tuhonnya orang Jawa bilang guru berasal dari kata digugu lan ditiru (menjadi teladan dan dicontoh). Oleh karena itu guru harus selalu meningkatkan kemampuannya baik itu kemampuan yang berkaitan dengan tugasnya sebagai pendidik maupun kemampuan personalnya sebagai anggota masyarakat. Agar jangan sampai konotasi guru berubah menjadi negatif wagu tur saru (tidak baik dan tidak pantas untuk ditiru)

Begitu pentingnya peran guru hingga pemerintah melalui APBN menganggarkan dana yang cukup besar guna peningkatan mutu guru. Tunjangan Profesi Guru (TPG) atau sertifikasi guru adalah salah satu bentuk program pemerintah untuk meningkatkan kemampuan guru, namun sayangnya menurut banyak kalangan dan fakta di lapangan belum ada peningkatan yang signifikan antara tunjungan profesi dengan peningkatan mutu guru. Hal ini terbukti dengan adanya nilai UKG yang jauh dari standart. Tidak jelas apa yang menjadi penyebab dari rendahnya nilai UKG guru, mungkin saja guru belum merasa bahwa program sertifikasi pada dasarnya tidak hanya bertujuan untuk kesejahteraan guru saja namun lebih dari itu tujuan utamanya adalah guna meningkatkan kemampuan dan kompetensi guru baik itu kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi sosial, dan kompetensi profesional sebagaimana yang diamanatkan oleh UU No. 14 Tahun 2005 pasal 10 tentang guru dan dosen.

Oleh karena itu guru haruslah terus mengasah kemampuannya hingga ia memang layak dipanggil Sang Guru.  Menurut Prof. Herawati Susilo, MSc Ph.D, pakar pendidikan Universitas Negeri Malang, setidaknya terdapat enam kriteria guru ideal, diantaranya adalah :

1.       Belajar sepanjang hayat
2.       Literate sains dan teknologi
3.       Menguasai bahasa Ingggris
4.       Melaksanakan Penelitian Tindakan Kelas
5.       Rajin menghasilkan karya tulis ilmiah
6.       Mampu mendidik peserta didik berdasarkan filosofi konstruktivisme dengan pendekatan kontekstual.

Dari pemaparan kriteria guru ideal tersebut maka diharapkan guru bisa meningkatkan mutu dan kualitasnya, apalagi sekarang pemerintah memberikan berbagai kemudahan dan tunjangan profesi bagi guru yang mana pamrihnya agar guru lebih bermutu dan sejahtera tentunya.

Jabatan guru bukanlah jabatan sembarangan, tidak semua guru mampu mencapai maqom guru yang sebenarnya. Dalam kelas sosial masyarakat Hindu jabatan guru kastanya lebih tinggi dari kasta ksatria, guru menjadi bagian dalam kasta brahmana, kasta yang paling tinggi dalam strata sosial masyarakat kala itu. Dalam serat Wulangreh diterangkan tentang kriteria seorang guru yang layak dan pantas untuk diguroni. Biar lebih jelas saya kutipkan teks pupuh ke empat Dandhanggula karya Sri Pakubuwana IV sebagai berikut :

Nanging yen sira nggeguru kaki
Amiliha manungsa kang nyata
Ingkang becik martabate
Sarta kang wruh ing kukum
Kang ngibadah lan kang wirangi
Sokur oleh wong tapa
Ingkang wus amungkul
Tan mikir pawewehing liyan
Iku pantes sira guronana
Serta kawruhana

Artinya :

Namun jika berguru wahai anakku
Pilihlah manusia yang sudah nyata
Yang baik akhlaqnya
Serta yang memahami hukum
Yang ahli ibadah dan ahli mengendalikan diri
Sangat beruntung jika mendapatkan ahli bertapa
Yang meninggalkan urusan dunia
Sehingga sudah tidak memikirkan pemberian orang lain
Itu yang pantas tempat engkau berguru
Serta syarat dan rukun berguru pun harus kau ketahui

Berdasarkan wejangan klasik karya Sri Pakubuwana di atas jabatan guru adalah jabatan seorang brahmana, jabatan orang-orang suci yang mengabdikan dirinya untuk kemaslahataan masyarakat. Ajaran dalam serat Wulangreh sangat layak dan relevan untuk kita implementasikan dalam kehidupan guru-guru bangsa ini, agar guru menjadi lokomotif penggerak bagi perbaikan kehidupan berbangsa dan bernegara. Karena memang tugas dan fungsi guru adalah mencerdaskan kehidupan anak bangsa dan mengembangkan manusia Indonesia seutuhnya, yaitu  manusia yang bertaqwa terhadap Tuhan yang Maha Esa dan berbudi pekerti luhur, memiliki ketrampilan, kesehatan jasmani dan rohani, kepribadian mantap dan mandiri serta tanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan, sebagaimana yang menjadi tujuan pendidikan bangsa. Joyojuwoto

Jumat, 16 Oktober 2015

Syi'ir Tanpo Waton, dan Tradisi Keilmuan Sang Imam

Pic : http://biografiulamahabaib.blogspot.co.id/
Syi'ir Tanpo Waton sangat populer dan masyhur di kalangan umat Islam khususnya kaum Nahdliyin, begitu populernya hingga syi'iran ini diputar di masjid-masjid dan mushola menunggu shalat jamaah lima waktu didirikan. 

Tidak hanya populer karena langgam dan cengkoknya yang memang lembut dan enak didengar di telinga, namun syi'ir yang banyak disebut-sebut sebagai  syi'ir Gus Dur ini pun banyak dikutip dan dijadikan dalil. Khususnya pada bait "Akeh kang apal Qur'an Haditse... seneng ngafirke marang liyane, Kafire dewe ra digatekke... yen iseh kotor ati lan akale"

Sebenarnya tidak masalah bagi saya mengambil syi'ir atau apapun namanya sebagai dalil atau bahkan sebagai dalih sekalipun asalkan memenuhi kaidah ilmiah dan memiliki sumber yang jelas. Mungkin saya menulis ini sudah kadaluwarsa karena syi'ir ini sudah ada dan populer sekitar tiga atau empat tahun yang lalu. Namun maksud saya menulis  tentang Syiir Tanpo Waton karena sampai sekarang masih saya jumpai orang-orang yang mengatakan bahwa syiir ini adalah ciptaan Gus Dur. Padahal diberbagai sumber telah disebutkan dengan meyakinkan dengan sadar dan tanpa paksaan dari pihak manapun bahwa pencipta tembang syiir Tanpo Waton adalah KH. Muhammad Nizam atau akrab disebut Gus Nizam, pengasuh Pondok Pesantren Ahlus Shofa wal-Wafa Simoketawang, Wonoayu Sidoarjo.

Walau telah ada klarifikasi dan sumber yang jelas mengenai pencipta syiir ini, namun sayangnya banyak kalangan yang masih saja menyebut bahwa Gus Dur lah penciptanya. Gus Nizam sendiri memang tidak mempermasalahkan jika syiir ini dianggap sebagai syiir Gus Dur, namun hal ini tentu tidak mengubah status pencipta dari syiiran ini. 

Sikap ikhtiyat (kehati-hatian) dalam mengutip suatu dalil tentu sangat penting sekali, apalagi dalil itu  berkaitan dan dipakai untuk masalah-masalah keagamaan, yang mana al-Qur'an dan Haditslah yang memiliki hak otoratif untuk dijadikan sebagai dalil, yang kemudian nanti diikuti oleh ijma', qiyas, dan lain sebaginya, tentu hal ini perlu mendapat perhatian serius dari kalangan umat Islam. Jika menyebutkan sumber dalil yang jelas saja kita masih saja salah dan sembrono, kemudian di mana letak kehati-hatian itu. Dan Syiir Tanpo Waton jelas ditulis oleh Gus Nizam, maka seyogyanya kita menghormati beliau dengan cara menyebutnya dan menuliskannya bahwa itu memang karya beliau.

Mari mengambil teladan dari para generasi salaf zaman dahulu yang bersungguh-sungguh dalam mencari sumber ilmu. Imam Bukhori harus menempuh perjalanan berkilo-kilo meter untuk memastikan kebenaran sebuah hadits yang beliau dengar. Saat itu belum ada kendaraan seperti sekarang, komunikasi juga masih manual belum ada HP, internet, dan segala produk kecanggihan peradapan yang memudahkan seseorang mencari sebuah kebenaran. Namun dengan sabar sang Imam berjalan berhari-hari guna mencari kebenaran dari hadits yang di dengarnya. Padahal itu baru salah satu syarat dari syarat-syarat derajad sebuah hadits. belum syarat-syarat lain yang harus dipenuhi bahkan untuk orang yang meriwayatkan hadits itu sendiri, semisal  dobit, siqqoh, dan wara.

Begitulah contoh dan keteladanan dari Ulama zaman dahulu yang perlu untuk kita teladani tentunya, sehingga kita tidak sekedar asal ngomong lebih-lebih itu yang berkenaan dengan suatu keilmuan yang tidak kita fahami. Mari terus belajar dan selalu menunjukkan sikap tawadhu' karena kita bukanlah apa-apa, mari mendekat pada Kyai, dan terus mengaji, dan mengkaji. Joyojuwoto


Kamis, 15 Oktober 2015

Semarak Pawai Muharram 1437 H TPA/TPQ Se Kec. Bangilan


Bangilan, 14/10/2015 - www.4bangilan.blogspot.com - Momen pergantian tahun selalu mendapat sambutan yang istimewa dari masyarakat. Begitu juga kemarin saat tanggal 1 Muharram 1437 TPA/ TPQ Se Kecamatan Bangilan mengadakan pawai ta'aruf yang diikuti oleh sekitar tiga ribu santriwan dan santriwati yang berada di lembaga Taman Pendidikan Al Qur'an diseluruh pelosok desa-desa di Kec. Bangilan. 

Kegiatan pawai Muharram kali ini disemarakkan dengan tampilan atraktif group drum band dari TPA desa Kablukan, begitulah memang santriwan-santriwati di era modern tidak hanya mahir dalam mengaji namun juga mampu berkreasi dalam nada-nada permainan alat musik kotemporer agar santri tidak dianggap sebagai generasi kolot yang anti kemodernan zaman. Walau demikian alat musik khas pesantren semisal banjaran juga tidak boleh ditinggalkan, karena hal itu menjadi warna lokal dan penanda identitas khas dari pesantren, terbukti dari sebagian peserta pawai dengan asyiknya bershalawat dengan dengan iringan musik hadrohan.

Pawai Muharram yang mengambil tema "Dengan Semangat Muharram Kita Semarakkan Tuban Bumi Wali Dengan Mencetak generasi Yang Madani dan Qur'ani" mengambil start dari masjid  Mundri desa Sidodadi yang kemudian finis di kantor Kecamatan Bangilan. Peserta pawai semakin meriah ketika panitia membagi-bagikan door price kepada peserta.

Dalam sambutannya ketua NU ranting Bangilan Bapak Zubaidi mengatakan agar umat Islam mampu mengambil pelajaran dari makna bulan Muharram yang dimuliakan oleh Allah, dan agar umat Islam bisa meneladani pelajaran hijrah, yaitu hijrah dari perbuatan yang tercela menuju perbuatan yang terpuji. Karena dari spirit hijrah inilah penanggalan Islam di mulai. Sekian. Joyojuwoto.

Kamis, 08 Oktober 2015

Harta Karun Mata Air Krawak

Harta Karun Mata Air Krawak

Mata air Krawak berada di wilayah Kec. Montong berbatasan dengan Singgahan. Mata air ini berada di sebelah kanan jalan raya jalur Singgahan-Tuban. Mata air Krawak atau sumber Krawak  menjadi satu-satunya sumber yang menyuplai air menuju lokasi air terjun Nglirip. Tanpa sumber Krawak dapat dipastikan sungai yang mengalir ke arah air terjun akan kering. Padahal sungai ini menopang kehidupan masyarakat di sekitar Jojogan, Ngogro, dan Tanjungrejo.

Sungai yang melewati wilayah-wilayah tersebut mengalir sepanjang tahun tanpa mengenal musim. Masyarakat petani tentu sangat diuntungkan dengan adanya sungai itu. Di penampungan air di lokasi air terjun Nglirip alirannya terbagi menjadi dua aliran. Satu aliran  air dialirkan ke lembah Nglirip yang menjadi air terjun dan satunya dialirkan ke arah barat dibuatkan kanal yang berada di bawah bukit maqomnya Mbah Jabbar dan dialirkan ke wilayah Jojogan bagian barat. Menurut salah seorang warga Jojogan kanal air itu sangat dalam  dibuat di era Belanda. Melihat debit air yang selalu mengalir sepanjang waktu dan aliran airnya cukup deras kemungkinan bisa dimanfaatkan warga sebagai alternatif pembangkit listrik tenaga air. Selain itu warga sebenarnya juga bisa memanfaatkan aliran sungai sebagai lahan untuk peternakan ikan sistem keramba.


Melihat potensi sungai-sungai yang berada di bawah aliran sumber Krawak yang dipakai untuk pertanian atau yang lainnya sebenarnya sangat disayangkan sekali jika pohon-pohon yang menopang mata air banyak ditebangi tanpa pilih. Hutan yang menjadi penyangga Daerah Aliran Sungai (DAS) pun tak lepas dari penebangan yang tentu ini dilakukan oleh institusi yangg memiliki wewenang  terhadap hutan.  

Aliran sungai  yang berada di atas sumber Krawak telah kering, saya pernah ke hulu hingga sampai di petilasan Kedung Banteng dan hutan-hutannya telah menjelma menjadi persil warga. Sebenarnya wilayah sepanjang aliran sumber Krawak memiliki potensi yang bagus untuk objek wisata keluarga. Apalagi di tempat itu ada icon maqom Mbah Jabbar yang selalu menarik perhatian para wisatawan. Pemerintah daerah atau desa setempat bisa bekerja sama untuk membuat konsep yang menarik agar wilayah sumber Krawak, air terjun Nglirip, dan maqom Mbah Jabbar menjadi satu paket destinasi wisata di Kab. Tuban.


Setiap melewati hutan Krawak saya selalu membayangkan, di sepanjang jalan pohon-pohon jati dibiarkan rimbun dan besar. Kera-kera bergelayutan di dahan-dahannya yang kokoh. Air sungai mengalir jernih bersamaan dengan ikan-ikan yang berkilauan di dalamnya. Di pinggir-pinggir jalan dibangun gazebo-gazebo tempat peristirahatan sambil menikmati sepoi-sepoi angin gunung yang menyejukkan. Serta semburat matahari di pagi hari, ataau menikmati sepenggal senja yang menggantung di cakrawala barat. Namun tentu saya tahu bahwa  ini hanya sebuah khayalan tingkat tinggi yang jauh dari realisasi. Saya mungkin terlalu mengikuti gelora romantisme yang berlebihan saja.  Karena pada kenyataannya pohon-pohon jati di sepanjang jalan sedang menggersang dan siap untuk ditebang. Pokok-pokoknya telah diteras, daunnya telah berguguran, gelamnya telah dikuliti, pohon jati itu siap diolah untuk memenuhi ambisi modernitas zaman.


Saya tidak hendak protes kepada siapapun jua, tidak pada para petani yang tidak punya lahan sehingga membuka hutan untuk dibuat persil, saya juga tidak hendak protes kepada perhutani yang harus menebang pohon-pohon jati itu. Namun menurut saya hutan dengan segala mata rantainya adalah harta karun yang tak terhingga yang harus  kita wariskan kelak. Pohon-pohonnya, flora dan faunanya, sumber air nya adalah titipan masa depan dan milik anak cucuk kita, dan sebenarnya kita sedang meminjam lingkungan ini dari generasi penerus. Oleh karena itu mari jaga dan lestarikan alam ini untuk kita kembalikan dengan kondisi yang baik jika masanya telah tiba. Joyojuwoto

Rabu, 07 Oktober 2015

Buku, Guru, dan Menulis

Buku, Guru, dan Menulis
Oleh : Joyojuwoto

Menulis adalah sebuah keniscayaan lebih-lebih bagi seorang yang berpropesi sebagai guru. Sebagaimana yang tercantum dalam UU No. 14 Tahun 2005 pasal 10 tentang guru dan dosen disebutkan bahwa seorang guru yang profesional  setidaknya harus memiliki empat kompetensi, yaitu kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi sosial, dan kompetensi profesional. Karena menurut PP. Nomor 74 tahun 2008 menjelaskan bahwa kompetensi profesional guru merupakan kemampuan guru yang berkaitan dengan penguasaan pengetahuan, teknologi, dan atau seni dan budaya atas bidang pelajaran yang diampunya.

Atas alasan inilah seharusnya seorang guru harus menulis. Dengan menulis seorang guru  dapat meningkatkan kompetensi profesionalnya, karena menulis sangat dituntut untuk menguasai bidang disiplin ilmu yang akan ditulisnya. Selain itu tentu guru yang penulis akan berusaha mencari, membaca, dan menela’ah berbagai referensi yang dipakai sebagai bahan untuk menulis.

Menulis dan menghasilkan sebuah karya buku memiliki multi manfaat bagi seorang guru. Salah satunya tentu memberikan tambahan kredit poin untuk kenaikan jabatan, promosi jabatan bagi seorang guru PNS. Manfaat lain dari menulis tentu ini menjadi salah satu cara untuk membuka pintu rezeki. Jika ketepatan buku itu best seller maka seorang guru akan mendapatkan keuntungan finansial juga. Dan yang paling penting dari aktivitas menulis adalah sebagai sarana untuk menebar manfaat dan menjadi ladang amal kebaikan dengan dakwah bil qalam, dakwah dengan pena yang pahalanya akan terus mengalir sepanjang buku itu dibaca dari masa ke masa.

Guru sebagai instrumen penting serta yang menjadi ujung tombak perubahan dan kemajuan suatu bangsa tentu harus selalu mengasah kemampuan dan skilnya guna berada di garda depan bagi proses penyerdasan kehidupan anak bangsa. Oleh karena itu dua hal penting sebagai tolak ukur maju mundurnya suatu kebudayaan bangsa adalah buku dan menulis. Sebanyak apa buku yang dihasilkan dan ditulis oleh warga negara Indonesia menjadi penanda masa keemasan bangsa ini. Mari menengok sejarah keemasan dunia Islam abad pertengahan, saat itu yang mana mesin cetak dan foto copy belum ditemukan tapi jumlah koleksi buku di perpustakaan Baitul Hikmah masa pemerintahan Harus Ar Rasyid menurut catatan sejarah sekitar dua juta jilid buku. Suatu jumlah yang luar biasa tentunya di masa itu, bahkan di masa sekarang.

Minat baca, buku, dan menulis berbanding lurus dengan peningkatan kompetensi seorang guru, namun sayang produksi buku di Indonesia sangat rendah. Menurut catatan www.kompas.com pada tahun 2011 produksi buku di Indonesia sekitar 20.000 judul buku. Jika dibandingkan dengan penduduk Indonesia yang berjumlah sekitar 240 juta jiwa perbandingannya satu buku dibaca oleh 80.000 orang. Jumlah ini tentu sangat tidak ideal sekali dan imposible. Padahal seharusnya guru berada di garda terdepan dalam hal gerakan membaca, menulis, dan membeli buku. Rendahnya minat baca salah satunya tentu disebabkan kurangnya koleksi buku, jika koleksi buku minim maka sangat sulit diharapkan untuk bisa menulis.

Pemerintah dengan program sertifikasi guru yang fungsi sejatinya untuk meningkatkan kompetensi dan mutu guru ternyata jauh dari harapan. Dana yang diberikan pemerintah kebanyakan hanya menyasar pada fungsi kesejahteraan saja. Menurut pengamatan saya di tingkat lokal ternyata sertifikasi guru belum mampu mendongkrak dan meningkatkan daya beli buku bagi seorang guru guna menunjang profesionalitas guru sebagaimana yang dimaksud. Saya kira juga wajar jika dana sertifikasi bisa digunakan untuk meningkatkan kesejahteraan guru, namun sisi peningkatan kompetensi guru juga perlu mendapatkan ruang dan perhatian.

Buku menjadi hal  penting bagi seorang guru, baik untuk dibaca ataupun untuk ditulis. Tentang membaca saya selalu teringat dengan dawuh Kyai saya di pesantren, beliau selalu berpesan untuk selalu membaca. Bahkan beliau mengatakan “Jangan mengaku menjadi santri ASSALAM, kalau belum cinta membaca”  begitu dawuhnya.

Menurut  Feuntas yang saya kutip dari WA salah satu teman “Buku tidak menulis dirinya sendiri. Juga tidak digodok dalam komite. Menulis adalah aksi seorang diri yang kadang menakutkan.”  Jadi perlu keberanian, tekad,dan komitmen bagi seorang guru untuk memproses pengetahuan dari buku untuk diolah menjadi buku-buku yang lainnya.  Oleh karena itu menurut saya fardlu ‘ain hukumnya seorang guru harus menulis buku, setidaknya menulis artikel, makalah, PTK, dan model-model tulisan ilmiah lainnya guna meningkatkan dan memberikan keteladan dalam dunia akademik di dunia pendidikan agar kelak pendidikan di Indonesia benar-benar mampu mencerdaskan kehidupan anak bangsa dan mengembangkan manusia Indonesia seutuhnya, yaitu  manusia yang bertaqwa terhadap Tuhan yang Maha Esa dan berbudi pekerti luhur, memiliki ketrampilan, kesehatan jasmani dan rohani, kepribadian mantap dan mandiri serta tanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan.


Saya kira tidak berlebihan buku, guru, dan menulis, menjadi bagian penting bagi sebuah proses metamorfis perubahan bangsa yang berperadapan. Sekian.  Joyojuwoto