Kamis, 26 Mei 2016

Liburan Mandi Di Kali

Liburan Mandi Di Kali

Pagi yang cerah, udara sejuk bertiup dari persawahan, dan matahari bersinar dengan sempurna tanpa bayang-bayang mendung. Burung-burung berkicau riang di puncak dahan pepohonan di samping dan belakang rumah yang berada di pinggiran sawah. Suara burung Kutilang dan Trucukan pagi itu terdengar merdu sekali. 

Naila dan Nafa sudah bangun tidur, waktu menunjukkan pukul 06.00 WIB. Hari Ahad adalah hari libur TK Muslimat NU Bangilan di mana Naila Bersekolah. Naila merencanakan liburan ke rumah neneknya. Naila ingin mengajak adiknya, Nafa untuk  berlibur dan mandi di kali.

“Umi ayo ke Singsim, hari ini kan Naila libur” pinta Naila kepada Uminya. Nanti Nafa mau saya ajak bermain dan mandi di kali Mi” kata Naila

Nafa yang baru berumur dua tahun tidak menghiraukan Mbaknya, dia sedang asyik sendiri memencet tombol-tombol dolanan netbooknya.

“Ok nanti  kita ke sana, itu nunggu Abimu yang sedang sarapan ya” seru Umi Naila

“Iya Mi, Naila juga mau sarapan dulu ah !” kata Naila bersemangat karena akan pergi liburan ke rumah neneknya.

“Aku ikut, aku ikut...” tiba-tiba Nafa ikut bersuara sambil  terus saja bermain-main dengan netbooknya.

Rombongan kecil Abi, Umi, Nafa, dan Naila pagi itu meluncur ke Singsim, motor Beat yang ditumpangi membelah aspal jalan hingga kurang lebih lima belas menit telah sampai di rumah sang Nenek.

“Hore sampai, ayo mandi...ayo mandi...” Seru Naila kegirangan

“Nenek...nenek Naila mau mandi di kali ! teriak Naila sambil berlari masuk rumah Neneknya

“Naila, Nafa...ayo masuk cucu nenek yang cantik-cantik, sini Nafa  digendong dulu sama nenek” sambut Nenek dengan gembira

“Naila mau mandi di kali nek, Ayo Bi...ayo mi ke kali cepetan” Seru Naila tidak sabar

Rumah nenek Naila ada di Dusun Singsim Bangilan, tidak jauh di belakang rumah terdapat sungai kecil. Airnya jernih. Ada banyak ikan kecil-kecil yang hidup di dalamnya. Selain itu ada pula kodok, udang, Yuyu, dan binatang-binatang air lainnya.

Naila, Nafa kemudian berangkat ke sungai bersama Abi dan Umi. Sedang nenek di rumah menyiapkan masakan untuk makan siang.

Di sungai Naila dan Nafa mandi, mereka berdua main membuat candi-candian dari pasir. Mereka juga main lempar-lemparan batu. Naila dan Nafa senang sekali pagi itu bisa bermain-main air di sungai. Mereka berdua tertawa-tawa. Abi dan Umi Naila hanya melihatnya dari tepi sungai.

Rabu, 25 Mei 2016

Ajaran Sunan Ampel Tentang Larangan Mo Lima

Ajaran Sunan Ampel Tentang Larangan   Mo Lima

Minuman keras atau miras yang menjadi bagian dari salah satu Mo lima tidak hanya terlarang dalam ajaran Islam saja, namun hukum positif negara juga melarang membeli, meminum, mengedarkan dan memperjual belikan secara bebas minuman yang mengandung alkohol ini. Baru-baru ramai diberitakan bahwa Mendagri akan mencabut perda miras, hingga terjadi reaksi yang beragam dari masyarakat baik yang pro maupun kontra.

Orang-orang yang sok imannya kuat ada yang bilang, “Untuk apa perda minuman keras kalau memang kita bisa beragama dengan baik tidak usah itu ada perda, toh kita tidak akan meminumnya” Ada lagi yang menyanggah bahwa minuman keras adalah akar dari segala dosa, seperti kisahnya Barseso yang disuruh setan untuk berbuat dosa kepada Tuhan sedikit saja biar Barseso bisa beribadah dengan khusyu’, maka dari tiga dosa yang dipilihkan setan yaitu membunuh, berzina, dan minum-minuman keras, Sang Barseso pun memilih minum minuman yang memabukkan itu. Dari minuman keras itulah dosa lain akhirnya dilakukan juga yaitu menzinai perempuan dan akhirnya membunuhnya.

Pendapat pertama yang mengatakan bahwa negara tidak perlu membuat perda tentang larangan miras kelihatannya sangat bajik dan bijak, namun sangat naif. Untuk apa perda sedang dalam ajaran agama sudah dilarang, kalaupun ada yang jual kemudian tidak ada yang beli percuma kan, nanti juga tutup sendiri. Begitu kira-kira logikanya. Orang yang berpendapat seperti ini lupa bahwa manusia itu lemah dan sering lupa, oleh karena itu ia disebut Man-Nusia (orang yang dilalaikan), sedang iman itu adakalanya bertambah dan adakalanya berkurang. Kejahatan itu kadang bukan dari niat si pelakunya kata Bang Napi, tapi karena ada kesempatan juga. Oleh karena itu pemerintah perlu membuat aturan atau undang-undang mengenai hukum positif dalam masyarakat yang bisa diadaptasikan dari nilai-nilai agama. Termasuk salah satunya adalah tentang miras ini.

Larangan miras pun sebenarnya bukan hanya di era sekarang, jadi tidak perlu kaget jika ada perda anti miras. Jauh sebelum adanya Kemendagri bahkan sebelum negara ini lahir, miras sudah dilarang baik  oleh institusi kekuasaan saat itu maupun oleh ajaran agama yang dianut oleh masyarakat. Fakta di lapangan juga banyak menunjukkan bahwa kejahatan salah satunya diawali oleh miras. Seperti kasus yang baru saja heboh tentang Yuyun yang ramai-ramai diperkosa dan akhirnya dibunuh secara kejam. Apa kita masih memandang sebelah mata tentang bahaya miras ?

Dalam hasanah Jawa kita sering mendengar istilah “Mo Lima” yang berarti “Moh lima” (Tidak mengerjakan lima hal). Istilah Mo Lima ini diperkenalkan oleh Walisongo khususnya Sunan Ampel kepada santri-santrinya. Lima hal yang dilarang itu pada awalnya menurut sejarawan yang juga budayawan KH. Agus Sunyoto adalah meninggalkan lima ritual yang dilakukan oleh penganut ajaran Bairawa Tantra yaitu mamsa (daging), matsa (ikan), madya (arak), maithuna (seks), dan madras (semadhi) yang biasanya dilakukan di area pekuburan. Upacara ini dikenal dengan sebutan Pancamakara.

Aliran para penyembah Dewi Durga ini melakukan upacara Pancamakara berbaur baik laki-laki dan perempuan. Biasanya mereka makan-makan bersama kemudian minum-minuman keras hingga mabuk dan dilanjutkan pesta seks dan setelah itu bersemadi memuja dewa Betari Durga. Lebih sadis lagi jika tingkat keilmuan mereka sudah tinggi makan-makannya tidak lagi daging sapi, kerbau, dan ikan namun yang mereka makan adalah daging manusia, minumannya pun juga bukan arak lagi namun diganti darah, kemudian dilanjutkan pesta seks bersama diantara para pengikut Bairawa Tantra. Hal ini dapat kita lihat dalam serat Nyai Calon Arang seorang Janda Sakti dari Dusun Girah yang menebar teror pada masa Raja Erlangga di Kediri.

Begitu sadis dan mengerikannya perilaku orang-orang yang mengamalkan upacara ini yang di dalamnya ada pesta arak. Oleh karena itu Sunan Ampel melarang santri-santrinya untuk mo lima karena mengacu pada praktek ritual bairawa tadi. Selanjutnya ma lima versi sekarang yang dikembangkan oleh para wali adalah pelarangan ma lima yang meliputi madat (candu), madon (main perempuan), main (judi) minum (minuman keras), dan maling (mencuri) yang kesemuanya itu termasuk perbuatan yang tercela dan merugikan orang lain.

Minuman keras ada yang mengatakan bermanfaat, jadi meminumnya tidak apa-apa kalau itu dipakai sebagai sarana obat. Tentang hal ini Allah SWT telah menjelaskan dalam Al Qur’an surat Al Baqarah  ayat 219 yang isinya manfaat yang dihasilkan oleh minum-minuman keras ini jauh lebih sedikit dibanding madharat yang ditimbulkan oleh minum-minuman keras, oleh karena itu meminumnya sedikit ataupun banyak tetap tidak diperkenankan atau diharamkan.

Mungkin kita pernah mendengar istilah masyarakat di Tuban yang notabene sebagai penghasil minuman khas toak, bahwa minum “toak sak cendak iso kanggo noto awak” (toak satu gelas bambu dapat dipakai sebagai obat badan). Kemungkinan awalnya seperti itu namun akibat yang ditimbulkan selanjutnya adalah tetap mafsadah dan madharatnya lebih besar dari faedahnya. Oleh karen itu jauhi hal-hal yang tidak bermanfaat dan membawa pada kerusakan diri maupun orang lain.

Dalam hasanah masyarakat Jawa memang telah digambarkan perilaku dari orang-orang yang suka minum-minuman keras. Pada awalnya memang membuat senang dan tenang pada tegukan yang pertama namun nanti akibatnya akan menyebabkan kematian. Baik itu kematian jasmani maupun ruhani. Perhatikan tahapan-tahapan dari para peminum atau pecandu minuman keras. Tegukan pertama disebut Eka Padma Sari, kenikmatannya bagai megisap sari bunga, kedua Dwi Amartani, kenikmatannya menjalar disekujur tubuh, ketiga Tri Bawula Busana, lupa terhadap kondisi pakainnya, keempat Catur Wanara Rukem, perilakunya seperti kera, kelima Pancasurapanggah, lupa terhadap segala marabahaya, keenam Sad Guna Weweka, rasa marahnya bangkit, ketujuh Sapta Kukila Wresa, mengoceh seperti burung, kedelapan Astha Kacara-cara, perilakunya ngawur, kesembilan Nawa Wagra Lapa, sudah tidak berdaya, dan yang terakhir tegukan yang kesepuluh adalah Dasa Buta Mati, seperti orang yang mati bahkan bisa mati beneran.

Begitulah bahayanya orang yang mabuk-mabukan karena miras yang awalnya berupa kenikmatan yang akhirnya membawa kesengsaraan. Mabuk membuat orang tidak waras dan tidak jernih pikirannya oleh karena itu perlu dihindari, tidak hanya mabuk miras saja yang berbahaya namun mabuk-mabuk lainnya juga sangat berbahaya seperti mabuk harta, mabuk kekuasaan, mabuk wanita (Harta,Tahta, Wanita) yang kesemuanya akan berujung pada kehancuran dan penderitaan. Maka berhati-hatilah dan hendaknya kita selalu eling lan waspada. Joyojuwoto


Selasa, 24 Mei 2016

Tombo Ati, Jalan Dakwah Sunan Bonang

Tombo Ati, Jalan Dakwah Sunan Bonang

Tombo ati iku lima sak wernane
Kaping pisan moco Qur'an  sakmanane
Kaping pindo, sholat wengi lakonono
Kaping telu wong kang sholeh kumpulono
Kaping papat weteng iro ingkang luwe
Kaping limo dzikir wengi ingkang suwe
Slah sawijine sopo biso ngelakoni
Insyaallah Gusti Allah nyembadani

Di mushola-mushola kampung tembang ini masih sering dinyanyikan sebagai puji-pujian sebelum shalat jamaah didirikan. Syahdu mengalun dan menjalari memori kenangan indah kita masa silam. Tembang ini adalah sebuah petuah purba yang masih lestari hingga kini di tengah gempuran budaya internet yang merajalela. Di antara budaya asing yang semakin menghimpit akal pikiran masyarakat nusantara.

Tembang ini digubah dan diciptakan oleh salah seorang Walisongo, yaitu Sunan Bonang. Dengan kepiwaiannya, Sunan Bonang yang saat itu sedang berdakwah di tengah-tengah masyarakat Hindu-Budha bisa menyatu, berselaras, mengkultur dengan budaya setempat sambil menyisipkan ajaran-ajaran Islam. Sempurna, tembang ini tidak hanya sangat populer pada zamannya, hingga bertahan sampai sekarang, namun tembang ini juga mampu menaklukkan cadas-cadas kejahiliahan pada masyarakat Jawa kala itu hingga dengan ridho berduyun-duyun memeluk ajaran agama Sang Rosul.

Metode dakwah Sunan Bonang dan sunan-sunan lainnya memang luar biasa, dakwah para wali tidak hanya terjebak pada tekstualitas dan formalitas Al Qur’an dan Sunnah, namun lebih dari itu ajaran-ajaran Islam diracik dan disarikan dengan indah kemudian disuguhkan kepada masyarakat Nusantara hingga mereka mau menerima dakwah Islam bahkan dengan keridhoan dan suka-cita. Inilah yang dikenal dengan dakwah kultural atau berdakwah dengan konsep “Bil mauidzatil Hazanah” sebagaimana yang tercantum dalam Surat An-Nahl ayat : 125  yang artinya :

Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk. (An Nahl : 125)

Dakwah para wali memang merangkul bukan memukul, mengislamkan bukan malah mengkafir-kafirkan, menebar cinta dan kasih sayang antar sesama bukan malah menumbuhkan sikap kebencian di tengah-tengah masyarakat, hingga masyarakat merasa aman dan nyaman dalam pelukan cinta kasih Tuhan.

Tombo ati adalah salah satu mahakarya dari sekian banyak metode dan jalan dakwah yang digunakan oleh Sunan Bonang untuk mendekati masyarakat Jawa yang sangat kental dengan budaya Hindhu-Budhanya. Sedikit demi sedikit nuansa itu diwarnai dengan ajaran Islam, ajaran untuk taat dan cinta kepada Allah dan Rasulnya melalui media gending-gending dan pujian-pujian yang berisi pengagungan kepada Allah dan shalawat kepada Rasulullah SAW. Ini adalah jalan dakwah yang sangat inspiratif dan luar biasa. Indah, lembut, konstruktif, dan terbukti hasilnya dapat kita rasakan dan kita nikmati hingga kini.

Dengan tombo atinya Sunan Bonang berusaha menyentuh sisi yang paling penting dari manusia, yaitu hati. Hati atau Qolbun secara lahiriah bermakna segumpal daging yang berada di dalam rongga dada sebelah kiri yang memiliki fungsi menyaring potensi racun-racun yang masuk ke dalam tubuh manusia. Sedang hati yang bermakna halus atau non indrawi adalah bersifat ketuhanan atau bermakna hati ruhani.

Dalam sebuah hadits dijelaskan bahwa di dalam jasad manusia terdapat segumpal daging, jika segumpal daging itu baik, maka baiklah  seluruh jasad, jika segumpal daging itu rusak, maka rusaklah seluruh jasad, ketahuilah, dia itu adalah hati. Jadi hati ini memiliki peran vital dalam kehidupan manusia baik kehidupan jasmaninya maupun ruhaninya. Rusaknya hati Jasmani tentu berkenaan dengan penyakit-penyakit jasmani dan badan kasar manusia, sedang rusaknya hati ruhani berhubungan dengan rusaknya tingkah dan perilaku manusia dalam menjalani kehidupannya secara vertikal maupun secara horizontal. Baik itu kehidupan yang berperikemanusiaan dan berperiketuhanan.

Begitu urgennya hati, sehingga Sunan Bonang memperikan perhatian lebih pada dakwahnya agar manusia senantia mempunyai hati yang sehat, qolbun Saalimun yang berkonsukuensi pada baiknya seluruh jasad manusia baik dalam pengertian jasmani maupun ruhani, agar manusia terhindar dari hati yang sakit atau qolbun saaqimun yang tentu konsekuensinya merusak potensi jasmani dan ruhani seseorang.

Dalam sebuah Syair dinyatakan :
Hati adalah kerajaan jiwa yang harus kamu jaga
Dengan mengingat Pemiliknya
Cermin jiwa yang harus kau taburi dengan bunga dzikir
Dan kau rasakan kehangatan cahaya-Nya
Agar jiwamu yang gelap menjadi terang

Oleh karena itu dengan pendekatan tembang tombo ati seseorang diharapkan memiliki kesehatan hati yang prima dengan jalan terus menerus mengingat Sang pemilik Hati. Sunan Bonang kemudian membuat satu formula untuk mengobati hati dan selalu menjaga kesehatan hati itu dengan konsep tombo ati yang berisikan sebagaimana yang tertuang dalam tembangnya, yaitu :
1.      Membaca Al Qur’an sambil merenungkan maknanya
2.      Mendirikan shalat malam (tahajud)
3.      Berkumpul dengan orang sholeh
4.      Banyak berpuasa
5.      Senantiasa berdzikir kepada Allah SWT

Dari lima obat hati yang diracik dan ditawarkan oleh Sunan Bonang dalam bentuk tembang itu adakah yang berbeda dan tidak sesuai dengan ajaran Al Qur’an dan Hadits ? Tentu jawabannya tidak ada bukan ? Ini adalah kearifan dan kelapangan jiwa dari para wali dalam berdakwah sebagaimana yang saya tulis di atas yang tidak mementingkan tekstualitas dan formalitas semata.

Bayangkan saja jika kelima hal itu dapat kita kerjakan, kira-kira kita akan menjadi orang yang seperti apa ? tentu jawabannya menjadi orang-orang yang beruntung baik di dunia maupun di akhirat kelak. Qod Aflaha Man Zakkaaha, “Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang menyucikan jiwanya (Qs. Asy-Syams : 9)

Begitu pula jika kita tidak mampu melaksanakan ajaran-ajaran itu tentu kita akan merugi dunia akhirat karena sakit akut yang menimpa hati kita, sedang kita tidak mengambil obat dari apa yang telah diajarkan oleh Sunan Bonang. Wa Qod Khooba Man Dassaaha, “Dan sesungguhnya merugilah orang-orang yang mengotorinya (Qs. Asy-Syams : 9). Joyojuwoto.

Sabtu, 21 Mei 2016

Ramadhan yang Tidak Sekedar Puasa

Ramadhan yang Tidak Sekedar Puasa

Ramadhan sebentar lagi tiba, Siapapun tentu sama bergembira menyambut kedatangan tamu agung utusan Tuhan ini kepada umat Islam. Ramadhan adalah bulan mulia yang layak mendapatkan sambutan dengan sepenuh hati dan segenap jiwa. Jauh-jauh hari aroma Ramadhan telah mewangi memenuhi atmosfir relung hati.

Tuhan memang Maha Pengasih, Ia memberikan anugrah yang luar biasa di bulan Ramadhan. Pahala-pahala dilipat gandakan, dosa-dosa diampunkan, pintu surga di buka lebar-lebar, sedang pintu-pintu neraka digembok dengan kokohnya. Ramadhan memang luar biasa, jangankan kita sibuk beramal tidur pun bernilai ibadah.

Tuhan memang Maha Adil, puasa diwajibkan tapi balasan pahala sunnah maupun wajib berlimpah-ruah. Manusia memang punya sifat cenderung berbarter dengan Tuhan, mau beramal kalau diberi pahala, mau bershodaqah kalau balasannya lebih banyak dari yang ia shodaqohkan, tapi tak apalah Tuhan Maha Baik, ia ikuti maunya si hamba.

Di bulan Ramadhan masjid-masjid penuh, mushola-mushola memasang tenda karena jama’ahnya membludak. Terapi ramadhan benar-benar mujarab menarik orang-orang untuk rajin beribadah. Pengajian di gelar di mana-mana, atribut ramadhan  pun bertebaran di sudut-sudut kampung dan kota, tidak mau ketinggalan acara-acara tivi mendadak ramadhan.

Ramadhan hadir sebagai sarana taskiyatun-nafs, ramadhan sesuai namanya adalah membakar, membakar nafsu-nafsu duniawi, membakar sampah-sampah dosa, hingga menerbitkan cahaya ketaqwaan sebagaimana yang menjadi muara dari ramadhan itu sendiri La’allakum Tattaqun.

Taqwa adalah puncak penghambaan makhluk kepada Sang Khaliq dengan taqwa hamba dapat menemukan jati dirinya, menemukan kembali fitrahnya dan mendapati kemurnian jiwanya.


Oleh karena itu mari meramadhankan diri dengan sepenuh hati, biar ramadhan kita tidak sekedar puasa, tidak sekedar ritualistik semata. Rasulullah SAW telah mengingatkan kepada kita “Berapa banyak orang yang berpuasa tetapi tidak mendapatkan dari puasanya itu kecuali lapar dan dahaga” ah betapa ruginya. Ramadhan bulan yang selalu kita nanti-nantikan, yang selalu kita rindukan semoga tidak hanya sekedar menjadi siklus musiman saja yang hampa makna. Mari bersama bergembira menyambut ramadhan yang mulia. Joyojuwoto 

Jumat, 20 Mei 2016

Ayo Ramai-ramai Berpantai di Pasir Putih Remen Tuban

Ayo Ramai-ramai Berpantai di Pasir Putih Remen Tuban


Pantai Pasir Putih Remen Jenu Tuban baru-baru ini mulai booming, tak salah memang keindahan dan panorama pantai pasir putih sangat menggoda pandangan mata.  Sobat-sobat semua sudah pernah berkunjung belum ?

Selain tempatnya indah juga mudah dijangkau dengan transportasi baik dengan bermotor maupun dengan kendaraan roda empat. Dari arah Tuban kota rute menuju pantai lokasi pantai pasir putih melalui jalur pantura ke arah terminal baru Tuban. Sepanjang perajalanan sobat semua bisa menikmati indahnya pemandangan sepanjang pantai Kute hingga sampai di bumi perkemahan Mangrove Center.

Dari pos Mangrove Center sobat semua terus ke arah barat hingga sampai di Kec. Jenu timurnya hotel Wilis, di situ terdapat pertigaan dan sobat semua ambil ke kanan ke arah Remen. Kalau susah rutenya sobat bisa langsung bertanya pada orang-orang yang sobat jumpai diperjalanan saja deh. Simpelkan J.


Peluh dan keringat yang sobat keluarkan untuk berpantai di pasir putih Remen Jenu tidak akan sia-sia bro, di sana sobat bisa bersantai nyantai di tepi pantai menikmati sengatan sinar matahari atau menikmati sepoi-sepoi angin laut sambil bermain gelombang yang riang. Pasirnya itu lho bro putih dan indah banget, tentunya tidak kalah dengan pantai-pantai yang telah beken dan terkenal di tanah air kita.


Jika telah puas bermain dengan pantai sobat semua bisa menikmati aneka warung yang menyediakan berbagai kuliner dari masyarakat sekitar. Tempatnya nyaman dan sejuk di bawah tangan-tangan pohon cenara yang melambai-lambai. Wahh... ayo bro ramai-ramai berpantai di Pasir Putih Remen Tuban. Joyojuwoto

Kamis, 19 Mei 2016

Mengokohkan Tali Persaudaraan

Mengokohkan Tali Persaudaraan

Persaudaraan adalah sebuah keniscayaan dalam hidup, di manapun kita tentu punya saudara baik itu saudara kandung, saudara dalam lingkar garis keturunan, ataupun saudara dalam arti yang lebih luas yang bersumber dari satu keturunan bapak Adam dan Ibu Hawa. Dalam Al Qur’an Allah SWT menyebut bahwa orang yang beriman itu bersaudara. Jalinan persaudaraan antara maupun diantara manusia sangatlah penting mengingat manusia adalah makhluk sosial yang membutuhkan relasi.

Jika al Qur’an mengatakan bahwa orang mukmin adalah bersaudara hal ini mengandung konsekuensi keimanan seseorang. Bahkan tidak sempurna iman seseorang hingga ia mengakui rasa persaudaraan itu, dan persaudaraan pun membutuhkan konsekuansi-konsekuensi yang harus dipatuhi oleh seorang hamba yang beriman.

Namun sayang rasa persaudaraan diantara sesama orang beriman mulai tampak melemah dan kendor, indikasinya sangat kelihatan sekali  di era ini, karena beda kepentingan, beda partai, beda ormas, beda tahlil atau tidak,  beda qunut atau tidak qunut telah menyulut tali permusuhan diantara orang-orang yang seharusnya saling menjaga tali persaudaraan Ukhuwwah Islamiyah.

Tidakkah kita ingat betapa Rosulullah SAW dengan para sahabat Muhajirin dan sahabat Anshor yang saling menjaga tali persaudaraan diantara mereka. Mereka bagai sebuah bangunan yang saling menguatkan, jika salah satu dari mereka sakit seakan-akan lainnya merasakan sakit yang sama. Dan kisah ini bukan hanya isapan jempol semata. Inilah salah satu faktor yang menjadikan dakwah Islam di Madinah mencapai puncak kegemilangannya. Mereka saling mengutamakan kepentingan saudaranya dibanding kepentingannya sendiri. Lihatlah betapa hebatnya Abu Bakar saat bersama Nabi pergi hijrah ke Madinah, Abu Bakar sangat mengkhawatirkan keselamatan Nabi dibanding keselamatannya sendiri. Tengoklah bagaimana Abu Ayyub Al-Anshari mengutamakan Rosulullah untuk menempati rumahnya, dan betapa indahnya kata-kata Abdurrahman bin Auf ketika ditawari rumah beserta harta bendanya oleh salah seorang sahabat Anshor.

بَارَكَ اللهُ لَكَ فِي اَهْلِكَ وَمَالِكَ وَدُلَّنِىْ عَلَى السُّوْقِ
“Semoga Allah memberikan berkat padamu, keluargamu, dan hartamu, tunjukkan aku pasar”

Betapa indahnya jalinan persaudaraan yang telah dicontohkan oleh generasi Anshor dan Muhajirin ini di madrasah yang langsung dididikoleh Rosulullah SAW.
Rosulullah SAW bersabda :
من رضي من الإخوان بترك الإفضال فليؤاخ أهل القبور

Artinya : “Barang siapa rela tidak mengutamakan saudara maka hendaklah ia bersaudara dengan penghuni kubur”

Begitu kerasnya Rosulullah SAW memberikan perumpamaan bagi orang yang tidak mau mengutamakan kepentingan saudaranya, sehingga beliau menyuruh orang yang seperti itu lebih baik bergaul dengan penghuni kubur saja.


Oleh karena itu jangan karena hal-hal yang khilafiyah saja kita sesama umat Islam saling bermusuhan, saling berhdap-hadapan, saling menjatuhkan.  Karena pada dasarnya kita telah meyakini bersama bahwa perbedaan-perbedaan adalah sebuah rahmat dari Tuhan. Mari kembali hidupkan tali persaudaraan agar kejayaan umat segera didapat. Mari saling memaafkan segala kesalahan-kesalahan saudara kita, Jauhi prasangka, jauhi sikap saling menghakimi, dan jadilah setitik  cahaya yang menerangi gelap-gulitanya peradapan.  Salam Ukhuwwah dan Salam Cinta dari Saudaramu. Joyojuwoto

Selasa, 17 Mei 2016

Kali Ilang Kedunge, Pasar Ilang Kumandange Dalam Prespektif Liberalisasi Perekonomian Indonesia

Kali Ilang Kedunge, Pasar Ilang Kumandange
Dalam Prespektif Liberalisasi Perekonomian Indonesia

Pic : google.com
Masyarakat Nusantara khususnya Jawa tentu tidak asing dengan istilah Kali Ilang Kedunge (Sungai kehilangan mata airnya), Pasar Ilang Kumandange (pasar kehilangan suaranya), sebuah unen-unen yang diugemi masyarakat sebagai sebuah ramalan masa depan yang dinisbatkan kepada seorang raja agung dari Kediri yaitu Prabu Jayabaya.

Banyak orang mempercayai bahkan menjadikan ramalan Jayabaya atau sering dikenal dengan istilah Jangka Jayabaya sebagai sebuah kiblat untuk membenarkan suatu peristiwa yang terjadi di tanah air atau bahkan menentukan suatu pilihan-pilihan dalam berbangsa dan bernegara.  Simaklah konsep kepemimpinan yang dikenal dengan istilah na-ta-na-ga-ra yang sangat populer di tengah-tengah masyarakat kita. Otak-atik matuk itu ternyata sangat dipercayai oleh masyarakat kita.

Begitu masyhur dan tenarnya Jangka Jayabaya sehingga dianggap apa yang diramalkan oleh beliau dianggap sebagai sebuah kebenaran. Dan ajaibnya memang hampir semua yang diramalkan oleh Jangka Jayabaya menjadi sebuah kenyataan.

Saya sebenarnya tidak mempersalahkan dan tidak ingin membahas mengenai ramalan-ramalan Jayabaya, namun sebagai orang Jawa saya tertarik juga untuk ikut menelisik dan menghubung-hubungkan isi ramalan Jayabaya dengan kejadian-kejadian masa sekarang. Karena memang ramalan Jayabaya ini jika kita perhatikan sangat cocok dengan fenomena yang terjadi di sekitar kita.

Salah satunya Jangka Jayabaya yang ingin saya bahas adalah mengenai ramalan Kali Ilang Kedunge, Pasar Ilang Kumandange. Dengan teropong masa depan yang akurat Jayabaya meramalkan bahwa kelak bangsa Nusantara akan mengalami masa di mana banyak sungai yang telah kehilangan mata airnya, dan mengalami zaman di mana pasar telah kehilangan geliatnya. Kalau kita baca secara literal ramalan ini telah sampai pada masanya, di mana banyak mata air yang mengering disebabkan perusakan hutan dan pembalakan liar, sehingga banyak sumber mata air yang menjadi aliran-aliran sungai mengering. Begitu juga mngenai pasar yang telah kehilangan geliatnya.

Pasar di sini tentu merujuk pada pasar tradisional di mana para penjual dan pembeli sama bertransaksi di sebuah pasar, namun sekarang pasar tradisional telah kehilangan kumandangnya dengan hadirnya pasar-pasar modern semisal mall-mall yang bertebaran di mana-mana, Indomart, Alfamart, yang menjamur di kota-kota hingga pedesaan-pedesaan.

Jika lebih jauh saya mengamati mengenai ramalan Jayabaya mengenai Kali Ilang Kedunge, ternyata maksud dari ramalan itu tidak hanya sekedar berbicara mengenai keringnya mata air sungai, namun Jayabaya memperingatkan kita bahwa besok akan ada zaman di mana masyarakat akan kehilangan sumber air di sekitar mereka karena ulah dari para pemilik modal yang difasilitasi oleh sistem liberalisme di bidang perekonomian negara. Masyarakat sebagai pemilik sah dari sumber air dipaksa harus membeli air dari perusahaan-perusahaan air minum yang menjamur di mana-mana.

Ini adalah proses liberalisasi dalam sistem perekonomian kita yang sangat kebangeten. Air yang menjadi kebutuhan dasar manusia yang seharusnya dapat dinikmati secara gratis, namun masyarakat sampai harus membeli, iya kalau memang kita susah air itu wajar, sedang di tanah yang kita pijak mata air deras mengalir namun rakyat harus mengkonsumsi anugerah Tuhan itu dengan cara membeli.

Dalam landasan hukum perundang-undangan sistem perekonomian kita sebenarnya negara telah menyatakan bahwa bahwa “Bumi, air, dan kekayaan yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat” sebagaimana dalam pasal 33 ayat 3. Namun  pada kenyataannya negara melegislasi adanya upaya dari para pemilik modal untuk menguasai cabang-cabang produksi penting yang menguasai hajat hidup orang banyak.sehingga mau tidak mau masyarakat harus tergantung oleh kepentingan kaum kapitalis.

Sebenarnya tidak hanya Undang-undang dasar saja yang melarang para pemilik modal untuk menguasai sumber hajat hidup orang banyak, namun dalam Islam sendiri juga hal itu dilarang. Dalam sebuah hadits Rosulullah SAW bersabda yang kira-kira redaksinya demikian : “Al Muslimuuna Syurakaa’un Fi Tsalaatsin : AL Maa-u, Wal Kalaa-u, Wan Naar” artinya : Orang Islam itu bersekutu dalam tiga hal : Air, Padan Gembala, dan Api (Sumber energi).

Di sini jelas menguasai sumber mata air adalah sebuah kejahatan yang tidak hanya dilarang oleh undang-undang negara namun juga dilarang oleh Rosulullah SAW. Hanya karena kepentingan-kepentingan sesaat idealisme kita sebagai bangsa dan sebagai pemeluk agama kita gadaikan. Berapa banyak sumber hajat hidup orang banyak yang seharusnya diproteksi oleh negara dan dipakai sebesar-besarnya untuk kepentingan rakyat namun justru negara menjualnya kepada pihak kapitalis atas nama kerja sama, atas nama investasi, atas nama penanaman modal dan lain sebagainya.

Sekarang sumber-sumber daya alam kita telah habis dikuasai oleh pihak asing, pihak kapitalis dan tidak ada lagi yang tersisa untuk rakyat negara masih merasa kurang, negara masih ingin merongrong kepentingan rakyatnya. Negara demi memenuhi ambisi kekuasaannya akhirnya membidik sektor lain milik rakyat entah atas nama apalagi agar dapat dikomoditaskan. Terbuktilah jangka Jayabaya mengenai “Pasar Ilang Kumandange.”

Berdirilah mall-mall denga izin atau dengan tanpa izin, berdirilah pasar-pasar swalayan baik dengan cara legal maupun dengan cara menggusur perumahan rakyat. Bahkan sekarang di desa-desa bermunculan pasar-pasar yang milik para pemlik modal. Pasar-pasar tradisional akhirnya dipaksa mati suri, bahkan mati beneran. Bayangkan para pedagang di pasar tradisional yang hanya modal pas-pasan yang tanpa model dan inovasi dalam sistem penjualan dipaksa berhadap-hadapan dengan pelaku ekonomi dari kelas kakap tentu akan kelimpungan.

Belum lagi para penjual di pasar tradisional yang hanya berpenampilan biasa saja dihadapkan dengan para Sales Promotion Girl (SPG) yang walau kadang tidak  nyambung dengan produk yang dijual tapi tentu secara naluri para konsumen akan berbondong-bondong dengan Jaka Sembung Budhal Mbecak tadi,... wah tidak nyambung cak :) !.

Oleh karena itu saya berharap pemerintah memiliki kepedulian terhadap kepentingan rakyatnya guna ikut serta membantu masyarakat kecil, bukan malah ikut serta mempercepat proses sakaratul mautnya perekonomian Pancasila yang menjadi dasar dari perekonomian rakyat. Karena bagaimanapun juga negara punya tanggung jawab dan akan dimintai pertanggung jawaban atas kepemimpinannya. Dan tujuan negara ada bukan lain seperti yang tertuang dalam pancasila sila kelima dalam rangka untuk mewujudkan “keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia, dan bukan keadilan bagi para seluruh liberalis dan kapitalismenya. Joyojuwoto

Serat Darmo Gandhul : Upaya Diskriminasi Masuknya Islam Ke Nusantara

Serat Darmo Gandhul :
Upaya Diskriminasi Masuknya Islam Ke Nusantara

Masa lampau kadang menjadi tempat berlindung dan menyembunyikan kenyataan yang sebenarnya bagi kelompok-kelompok tertentu yang tersingkir dan terpinggirkan dari sebuah peristiwa sejarah. Karena masa lampau sudah terjadi dan tidak mungkin untuk kita tilik kembali maka diperlukan sejumlah fakta dan data yang valid yang dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah untuk mempercayai suatu peristiwa masa lampau. Jadi tidak dengan sekedar menjadikan suatu data sejarah adalah sebagai sebuah kebenaran tanpa kita gunakan pendekatan-pendekatan ilmu pengetahuan yang kridibel. Bukan hanya sekedar comot sana, comot sini asal sesuai dengan kepentingan kita.

Semisal serat Darmo Gandhul, biasanya data-data dalam serat ini banyak dipakai oleh kelompok-kelompok tertentu yang ingin mendiskritkan masuknya Islam ke Nusantara. Islam yang dibawa oleh Walisongo ke tanah Jawa dan Nusantara yang pada umumnya telah diterima dengan baik oleh penduduk Nusantara dengan damai berusaha diusik dengan isu-isu yang tidak bertanggungjawab. Darmo Gandhul adalah sebuah karya tulis yang dianggap bahkan dijadikan rujukan sejarah oleh orang-orang yang ingin merusak citra Islam.

Diantara citra yang ingin dibangun oleh tulisan seseorang yang mengaku dengan nama Ki Kalamwadi adalah mengenai suksesi keraton Majapahit menuju era Demak Bintoro. Dalam serat Darmo Gandhul disebutkan bahwa Dewan Walisongo dianggap yang mendalangi runtuhnya keraton Majapahit dengan cara mendukung dan memerintahkan Raden Patah yang juga putra dari Prabu Brawijaya untuk menyerang kedudukan ayahnya sendiri sebagai raja. Padahal dalam sejarah keruntuhan keraton Majapahit yang ditandai dengan sengkalan “Sirna Ilang Kertaning Bumi” adalah disebabkan oleh perang Paregreg yang berkepanjangan.

Perang saudara antara Keraton Majapahit Brang Wetan yang dipimpin oleh Bhre Wirabhumi dan Keraton Majapahit Brang Kulon di bawah pimpinan Prabu Wikramawardhana inilah yang menjadi sebab kemunduran dari kerajaan Majapahit. Perang Paregreg ini benar-benar merobek-robek kekuatan dan kebesaran Majapahit yang dulu pernah jaya di Era Hayam Wuruk dengan Maha patih Gajah Mada.

Fakta-fakta sejarah yang demikian tidak disinggung sama sekali oleh Ki Kalamwadi dalam serat Darmo Gandhulnya. Ia hanya berusaha menyudutkan agama Islam yang baru masuk ke Tanah Jawa. Sebenarnya tulisan Ki Kalamwadi sama sekali tidak bisa disebut sebagai sumber sejarah. Menurut Prof. Dr. Hasanu Simon dalam bukunya “Misteri Syekh Siti Jenar” (2004) Serat Darmo Gandhul ini ditulis sekitar tahun 1908 tanpa menggunakan rujukan yang jelas dan objektif. Si penulis sendiri pun tidak berani menunjukkan identitasnya dan menggunakan nama samaran Ki Kalamwadi. Sebagaimana tulisan-tulisan yang senada semisal Serat Gatholoco yang isinya juga menjelek-jelekkan Islam juga tidak ditemukan siapa penulisnya. Di sini sudah tampak jelas akan lepas tangannya penulis terhadap apa yang dituliskannya.

Selain berisi distorsi sejarah terhadap Raden Patah yang dianggap sebagai anak durhaka karena telah melawan orang tuanya sendiri, Serat Darmo Gandhul juga berisi hujatan-hujatan terhadap dewan wali khususnya Sunan Ampel dan Sunan Bonang. Sunan Ampel dianggap tidak memiliki adab dan kesantunan serta tidak mengenal balas budi. Dulu awalnya datang ke Jawa diterima dengan baik oleh Raja Majapahit, namun seiring dengan berjalannya waktu justru para wali itu menusuk raja Majapahit dari belakang. Sedang Sunan Bonang mendapatkan tempat yang cukup banyak dalam serat ini. Dinyatakan Sunan Bonang pergi ke daerah Kediri di sana Sunan Bonang dianggap melakukan perbuatan yang tidak terpuji, diantaranya mengutuk gadis dan perjaka tidak laku kawin, mengubah arah aliran sungai Brantas hingga menyengsarakan masyarakat, hingga merusak patung-patung buatan Prabu Jayabaya. Dalam serat itu diceritakan Sunan Bonang berdebat dengan Raja Jin Butolocaya dan Sunan Bonang merasa kalah dalam berdepat sehingga melakukan perbuatan yang semena-mena.

Dilihat dari kacamata sejarah ilmiah jelas cerita-cerita mengenai perjalanan Sunan Bonang ke wilayah Kediri yangkemudian mengutuk perawan desa, memindahkan aliran sungai, tidaklah masuk akal. Kisah ini hanya ada dalam legenda saja yang tidak jelas sumbernya. Karya tulis semisal ini ada saja yang memakainya sebagai sumber sejarah dan dianggap sebagai suatu kenyataan. Apalagi serat ini ditulis empat abad sesudah peristiwa suksesi Majapahit ke era Demak Bintara.


Jadi sangat jelas dan gamblang serta wela-wela bahwa Serat Darmo Gandhul ada dan ditulis dalam rangka untuk mendiskritkan ajaran Islam. Dan serat ini lebih menyerupai sebuah karya sastra fiksi yang memiliki misi terselubung dan terang-terangan merusak citra Islam yang rahmatan lil ‘alamin. Joyojuwoto

Minggu, 15 Mei 2016

Adab Itu Kemuliaan

Adab Itu Kemuliaan

الأدب شرفٌ
“Adab Itu Kemuliaan”

Ada sebuah hikmah yang mengatakan “Al Adabu Fauqol Ilmi” Adab itu di atas ilmu pengetahuan. Begitu tingginya maqam adab hingga diletakkan di atas ilmu pengetahuan, padahal kita tahu bahwa maqam ilmu sangatlah tinggi. Tidak salah memang kalau adab itu lebih tinggi dari ilmu karena ilmu tidak akan ada faedahnya jika tidak disertai dan dihiasi dengan adab yang mulia. Kepandaian terhadap ilmu tanpa didasari adab hanya akan menyebabkan mafsadah-mafsadah saja. lihatlah di era sekarang, banyak orang berilmu namun kurang adab hasilnya perbuatan-perbuatan dan amal mereka justru mengkhianati teori-teori ilmu pengetahuan yang mereka pelajari sendiri.

Saya sebenarnya sangat risau bin galau jika melihat dunia pendidikan sekarang, walau tidak semuanya namun setidaknya ini menjadi sinyal merah bagi dunia pendidikan di Indonesia. Adab yang menjadi mahkota kemuliaan seorang pelajar mulai ditanggalkan dan ditinggalkan.

Indikasinya sudah sangat terasa dan sangat memprihatinkan, di era yang serba materialistik ini hubungan antara guru dan murid sudah bukan lagi hubungan batin, ‘alaqah ruhiyah, namun lebih kepada hubungan materi saja. Murid bahkan sang wali murid merasa telah mahal-mahal membayar biaya sekolah maka ia dengan seenaknya saja memberlakukan dan bersikap bahwa sekolah adalah transaksi bisnis semata. Tidak kalah memprihatinkannya juga ada walau tidak semua lembaga sekolah juga didesain seperti model bisnis. Naudzu billah.

Tidak heran jika perilaku para siswa jauh dari adab yang semestinya. Lihatlah ketika ada pengumuman kelulusan Ujian Nasional, mereka menyikapi dengan hal-hal yang kurang bermanfaat dan cenderung destruktif. Apa mereka tidak tahu, atau memang sudah menjadi latah bahwa pemerintah sekarang tidak mematok kelulusan dari nilai Ujian Nasional, ah bangga yang fatamorgana.

Merayakan kegembiraan tidak ada yang melarang bahkan justru sangat dianjurkan namun, namun ketika baru dinyatakan lulus UN saja sudah begitu euforianya, sebenarnya saya bertanya-tanya apa yang sedang ada di kepala mereka ?

Dengan bangganya mereka berkonvoi di jalan-jalan raya, mengganggu lalu-lintas, suara knalpotnya yang berisik, kemudian baju-nya dicorat-coret tidak jelas, disobeki sana-sini, dan berbagai kegilaan lain yang dipertontonkan. Ah!!! Mereka memang belum pernah tahu rasanya lembaran-lembaran skripsinya di tinta merahi oleh dosen pembimbing. Atau belum pernah merasakan dahsyatnya pertanyaan-pertanyaan malaikat Munkar-Nakir walau soal itu sudah dianggap bocor namun tidak ada satupun orang yang berani menjamin bahwa dirinya akan lulus dari itu.

Sekali lagi adab adalah kemuliaan, seyogyanya seorang terpelajar memiliki adab yang baik sebagaimana yang dikatakan oleh Pram, “Adil sejak dalam pikiran.” Cobalah mari berfikir sejenak wahai generasi muda, wahai harapan bangsa, wahai tumpuan cita dan cinta orang tua, di tangan kalianlah masa depan kami-kami yang telah tua-tua ini. Jangan gadaikan nasib bangsa Indonesia tercinta ini dengan kesia-siaan yang engkau lakukan. Begitu juga kami yang tua-tua ini juga akan berusaha memberikan teladan yang baik dengan terus memegang teguh adab kebaikan guna menebar manfaat dan kemaslahatan bagi umat semesta raya.

Ayo para pelajar generasi muda bangsa mari berjalan beriringan, bergandengan tangan, merapatkan barisan, dan saling menguatkan untuk mewujudkan nilai-nilai dan tujuan dari Pancasila utamanya sila yang kedua “Kemanusiaan yang Adil dan Beradab” serta melunasi janji kemerdekaan dari para generasi pendahulu kita, dan tentu harapan itu masih ada. Joyojuwoto

Jumat, 13 Mei 2016

Sikap Tawadhu’

Sikap Tawadhu’

Ketika ditanya oleh seseorang tentang tawadhu’, Fudhail menjawab : “Tawadhu’ adalah kamu tunduk kepada kebenaran, dan patuh kepadanya sekalipun kebenaran itu kamu dengar dari anak kecil, bahkan sekalipun kamu dengar dari orang yang paling tidak tahu kiblatnya sholat.” Itulah salah satu definisi sikap tawadhu’ yang bersumber dari ulama zaman dahulu, mereka tidak pernah meremehkan sebuah kebenaran, tidak pernah memandang dari mana kebenaran itu bersumber, kebenaran tetaplah sebuah kebenaran sekalipun bersumber dari orang yang lebih kecil dari kita bahkan bersumber dari orang yang tidak benar sekalipun.
Abu Yazid berkata : “Selagi seorang hamba masih mengira bahwa diantara makhluk masih ada orang yang lebih buruk darinya maka ia adalah orang yang sombong.” Dikatakan kepadanya : Lalu kapan iamenjadi orang yang tawadhu’ ? Abu Yazid menjawab : “Apabila tidak memandang adanya kedudukan dan hal bagi dirinya.”
Begitulah ulama-ulama zaman dahulu menjadikan sikap tawadhu’ ini menjadi hiasan dan kemuliaan, walau mereka memiliki kedudukan yang tinggi secara keilmuan, maupun secara pangkat dan derajad namun hati mereka tunduk dan tawadhu’ kepada sesama. Tidak merasa paling benar, tidak menyombongkan pangkat dan kedudukannya. Dalam surat AL Hijr ayat 88 Allah SWT berfirman :
واخفض جناحك للمؤمنين (88)
Artinya : “Dan berendah dirilah kamu terhadap orang-orang yang beriman.”
Begitulah Allah SWT menginginkan hamba-hambanya yang beriman untuk salah berendah diri terhadap orang mu’min lainnya, saling menjaga silaturahmi, menjaga ukhuwwah, dan saling berhusnudzon diantara mereka. Jika sikap tawadhu’ ini diterapkan maka persatuan umat Islam akan kuat dan kemuliaan seorang mu’min akan terjaga.
Namun lihatlah di era sekarang, antara satu mu’min dengan mu’min yang lain tidak ada lagi ketawadhu’an. Bahkan kata mu’min sudah jarang kita dapati, yang ada tinggal kelompok-kelompok seperti NU, Muhammadiyah, Syi’ah, Salafi, Wahabi, HTI dan kelompok-kelompok lain yang terpecah-belah dalam firqoh-firqoh yang saling menyalahkan. Persatuan umat Islam tercerai-berai dalam golongan-golongan. Mereka lupa akan nilai persaudaraan untuk saling mengasihi, saling menjaga silaturahmi, saling menghormati, dan saling menguatkan tentunya.
Oleh karena itu mari kita kembali pada sikap tawadhu’ yang telah dicontohkan oleh ulama-ulama zaman dahulu yang menjadikan tawadhu’ sebagai hiasan dalam berkehidupan, tidak mudah menyalahkan kelompok lain, saling mengkafirkan diantara orang-orang mu’min, dan saling menghormati dan menghargai diantara perbedaan-perbedaan yang ada. Jadikanlah perbedaan itu sebagai jalan rahmat yang perlu disyukuri bersama.
Cukuplah dengan tawadhu’ umat Islam mendapatkan kemuliaan, dengan lapang dada mendapatkan ketaqwaan, dan dengan keyakinan umat mendapatkan kejayaan. Mengesampingkan motif-motif duniawi untuk meraih ridho Tuhan, guna mewujudkan perikehidupan yang rahmatan lil ‘alamin. Dalam sebuah hadits Rosulullah SAW bersabda :
الكرم التّقوى, والشّرف التّواضع, واليقين الغنى
Artinya : “Kedermawanan adalah taqwa, kemuliaan adalah tawadhu’, dan keyakinan adalah kekayaan ( Diriwayatkan oleh Ibnu Abu Dunya. AL Hakim meng-isnad-kan bagian awal dan berkata : Sahih sanad-nya)
Mari bersama membangun kejayaan umat dengan ketawadhu’an, menghindari sikap merasa paling benar sendiri, saling menyalahkan, menghindari saling curiga sesama mu’min, dan tentunya meneladani sikap dan perilaku Rosulullah SAW, para sahabat, tabi’in, tabi’it tabi’in dan para ulama salafus saleh yang menjadi panutan kita semua. Joyojuwoto

Selasa, 10 Mei 2016

Hutan Sagu Merakurak, Bernuansa Alam Papua

Hutan Sagu Merakurak, Bernuansa Alam Papua

Dengan peta geografis yang beragam Tuban memiliki kekayaaan dan potensi wisata alam yang heterogen. Selain sobat-sobat bisa menjelajahi keindahan wisata pantai, seperti pantai perbatasan, keindahan TPI (Tempat Pelelangan Ikan) di  Bulu, Pantai Sowan, Pantai Jamong di Tambakboyo, Pantai Pasir Putih Remen, Mangrove Center yang sudah tersohor di jagad perkemahan, pantai Cemara atau pantai Kute, hingga wisata historis pantai Boom saksi kebesaran Nusantara masa silam, sobat semua juga bisa menikmati wisata alam bernuansa alam Papua.

 Belum tahu kan sobat semua untuk yang satu ini, hutan sagu nuansa alam Papua. Hutan sagu ternyata tidak hanya ada di daerah pedalaman saja. Jika sobat ingin melihat keindahan dan sensasi nuansa alam Papua sobat tidak perlu jauh-jauh ke sana. Di Tuban tepatnya di desa Tuwiri Wetan Kec.Merakurak terdapat miniatur hutan sagu.

Walau tentu tidak seluas dan selebat di alam Papua asli setidaknya kesejukan hutan sagu di Merakurak cukup memberikan hiburan tersendiri bagi sobat-sobat semua yang ingin menikmati wisata alam yang masih perawan ini.

Sobat-sobat bisa menyusuri hutan sagu sambil berjalan kaki ataupun memakai sepeda motor, tapi hati-hati yang jangan sampai terperosok di rawa-rawa. Di tengah-tengah hamparan pohon sagu  yang hidup dan tumbuh di rawa-rawa sobat semua akan merasakan kesejukan udaranya yang full oksigen tentunya. Jika beruntung sobat akan dapat melihat hewan-hewan khas rawa seperti kadal, kodok,  ular, hingga biawak. Seru kan !!!

Di tengah-tengah hutan sagu ini juga mengalir sungai yang indah, kemilau airnya keperak-perakan terpapar sinar matahari dari balik rimbunnya dedaunan, gremiciknya bagai melodi cinta surgawi yang menyejukkan pendengaran. Wah mantap pokoknya. Jika berani, sobat bisa merasakan kesejukan air kali di tengah hutan sagu ini dengan bermandi ria di dalamnya. Wah !!! asyiknya bluron di kali.

Selain menyimpan potensi wisata jelajah alam, hutan sagu ini juga memberikan nilai ekonomis bagi masyarakat sekitar. Biasanya masyarakat sekitar memanfaatkan daun-daun sagu untuk dibuat welit (atap anyaman daun sagu) yang akan dijual sebagai bahan atap untuk gubuk, gazebo, atau warung kaki lima. Selain itu masyarakat juga biasa mencari ikan di aliran sungainya yang jernih.


Namun sayang potensi wisata hutan sagu ini belum mendapat perhatian dan sentuhan dari pihak pemerintah desa atau pemkab sehingga dapat memberikan pemasukan bagi kas desa ataupun pendapatan daerah. Hutan sagu itu masih berupa hutan perawan yang luput dari perhatian kita semua. Ayo siapa yang mau melamar perawan hutan sagu Merakurak ?