Rabu, 19 Juli 2017

Tanda Ilmu Yang Bermanfaat

Tanda Ilmu Yang Bermanfaat
Oleh : Joyo Juwoto

Nabi Dawud as. berkata : “Ilmu di dada bagaikan lampu di dalam rumah.”  sungguh sebuah perumpamaan yang sangat gamblang dan luar biasa, bahwa sebuah ilmu pengetahuan haruslah bisa menerangi lingkungan dan tempat di mana ilmu itu ada. Sebanyak apapun ilmu yang di hafal dan dikumpulkan di dalam kepala seseorang, jika ilmu itu tidak memberikan cahaya terang bagi pemilik dan lingkungannya nya maka ilmu itu hanya tinggal sia-sia di memori otak pemiliknya.

Jika otak hanya berfungsi menyimpan memori berbagai ilmu saja tanpa diamalkan, lalu apa bedanya otak kita dengan flasdish, apa bedanya dengan hard disk pada sebuah sebuah komputer? Oleh karena itu ilmu yang bermanfaat adalah ilmu yang memberikan pengaruh bagi kehidupan seseorang, ilmu yang bermanfaat adalah ilmu yang bagai cahaya yang mampu memberikan penerangan, sekecil apapun itu.

Seseorang yang memiliki ilmu tentu tidak sama dengan orang yang tidak memilikinya, oleh karena itu jangan sampai ilmu yang telah kita miliki tidak berguna. Jadi mohonlah kepada Allah Swt agar kita bisa memiliki ilmu sekaligus bisa mengamalkan ilmu. Bisa mengamalkan ilmu adalah sebuah kenikmatan dan anugerah tak terhingga dari Allah,karena berapa banyak para penuntut ilmu, namun pada akhirnya ilmunya tiada atsar dan bekasnya, bagai menyiram seember air di padang pasir yang tandus, air itu hilang lenyap tanpa bekas.

Rasulullah Saw, sendiri mengajarkan doa kepada kita, agar kita senantiasa dijauhkan dari ilmu yang tidak bermanfaat. Rasulullah Saw sering berdoa kepada Allah: “Ya Allah aku berlindung kepada-Mu dari ilmu yang tidak berguna.” Ilmu yang berguna ini tidak hanya menghasilkan kebaikan di dunia saja, namun ilmu yang berguna dan bermanfaat juga menjadi garansi pahala kita selalu mengalir dan tidak terputus hingga besok di hari kiamat tiba.

Lalu apakah ilmu yang berguna itu ? Ketika Abul Qasim Al Junaid ditanya, beliau menjawab: “Bahwa yag dimaksud ilmu yang berguna adalah ilmu yang menunjukkan engkau kepada Allah, dan menjauhkan dari menurutkan hawa nafsu syahwatmu.” Karena memang ilmu yang baik dan berguna adalah ilmu yang membawa kita untuk tunduk dan takut kepada Allah Swt.


Jadi ilmu yang berguna atau yang bermanfaat bermuara pada penghambaan sejati kepada Allah. Ilmu yang berguna adalah ilmu yang sinar cahayanya mampu membuka tabir hati seorang hamba, untuk bisa lebih dekat mengenal dzat, sifat, asma, dan af’alnya Tuhan, serta mengerti bagaimana caranya beradab dan mengabdikan diri dan menghamba kepada-Nya.

Sabtu, 15 Juli 2017

Mengakses Informasi dan Ilmu Pengetahuan Dari Internet

Mengakses Informasi dan Ilmu Pengetahuan Dari Internet
Oleh “ Joyo Juwoto

Untuk memperoleh suatu ilmu pengetahuan di era sekarang sangatlah mudah, cukup berbekal gadged di tangan dengan seperangkat quota internet, kemudian kita tinggal berselancar sepuasnya di dunia maya, maka berbagai macam informasi dan disiplin ilmu pengetahuan dapat kita akses dengan mudah. Ya, ilmu sekarang sangat dekat, dan nyaris berada di dalam genggaman setiap orang.

Kemudahan-kemudahan seperti sekarang ini tentu patut kita syukuri, walau demikian tentu tidak semua informasi dan ilmu pengetahuan di internet dapat  dipertanggungjawabkan kebenarannya secara mutlak. Kita harus memilih dan memilah dengan cermat, agar tidak terjerumus ke dalam informasi dan pengetahuan yang kurang kredibel dan tidak bertanggung jawab.

Bukan berarti kemudahan dalam mengakses informasi dan ilmu pengetahuan di dunia maya menafikan bagi kita untuk mencari seorang guru. Belajar secara langsung kepada seorang guru sangatlah penting, lebih-lebih menyangkut ilmu agama. Karena jika kita mencari dan membacanya sendiri, bisa dimungkinkan terjadi salah paham dan lebih fatal lagi paham yang salah, hal ini tentu berdampak yang tidak baik.

Mungkin kita sering mendengar informasi atau membaca status di media sosial, bahwa belajar itu harus ada gurunya, jangan hanya bermodalkan gadged, jangan menjadi santrinya mbah google. Kalau mau nyantri ya masuklah ke pondok pesantren, belajar pada seorang Kiai pesantren, bukan hanya berbekal belajar di internet. Karena seseorang yang belajar di internet lebih banyak memungkinkan untuk salah tafsir dan salah paham terhadap konten ilmu pengetahuan yang dibacanya.

Hal ini menjadi penegasan bahwa internet jangan sampai menjadi sumber utama rujukan dalam belajar ilmu pengetahuan, lebih-lebih ilmu-ilmu agama seperti yang saya uraikan di atas. Karena banyak sekali kasus penyimpangan dan penyelewengan ajaran agama karena belajar tanpa guru yang mumpuni dan hanya mencomot dari internet.

Walau demikian tidak bisa dipungkiri bahwa informasi dan pengetahuan di internet juga banyak manfaatnya, apalagi didukung oleh media sosial lain semisal Whatshap, BBM, Line, dan berbagai media yang menghubungkan banyak orang, dengan mudahnya seseorang bisa saling ngeshare dan berbagi ilmu pengetahuan dengan sangat mudah, murah, cepat dan efisien.

Namun demikian sekali lagi saya katakan bahwa untuk mengakses maupun mengeshare suatu pengetahuan di media sosial, di internet harus selektif dan hati-hati. Jangan sampai konten yang kita baca dan kita sebarkan itu mengandung hal yang tidak baik, hoax, maupun konten-konten yang memprofokasi pihak-pihak tertentu. Baca dengan seksama dan teliti sebelum mengeshare suatu ilmu atau informasi, kenali website-website yang baik dan kredibel serta bertanggung jawab dalam membaca dan mengakses ilmu pengetahuan di internet.

Untuk mengetahui apakah suatu informasi dan keilmuan di internet bisa dipertanggungjawabkan, maka kita perlu mengenali ciri-ciri web yang kredibel dan bukan web abal-abal. Ini saya kira sangat penting sekali, agar kita tidak terjerumus ke lembah informasi dan ilmu pengetahuan yang abal-abal pula. Berikut saya sarikan beberapa tips untuk mengetahui kridibilitas sebuah web :

1.   Identitas pemilik atau pengelola web harus jelas. Hal ini sangat penting sekali, agar kita bisa mengetahui kredibelitas sebuah website. Biasanya penulis website perseorangan akan mencantumkan profilnya secara lengkap untuk menghilamgkan prasangka dari pembaca, sedang jika website dikelola lembaga kita perlu melihat atau mengecek kredibilitasnya.

2.   Website yang bertanggung jawab biasanya berbayar bukan gratisan, (Ups!!! Blog aku masih gratisan juga ding...:) ). Walau banyak pula web gratisan yang digunakan untuk hal kebaikan. Jadi tinggal kita pinter-pinternya mencari web yang bertanggung jawab.

3.   Periksa alamat awal web, apakah memakai HTTP ataukah HTTPS? HTTP kepanjangan dari Hypertext Transfer Protocol, sedangkang HTTPS adalah Hypertext Transfer Protocol Secure. Sekilas mungkin tidak ada beda antara HTTP dan HTTPS, namun huruf S dibelakang yang berasal dari kata Secure ini berfungsi mengacak semua lalu lintas data dengan enkripsi (Hehe..aku sendiri belum faham nih, mekanismenya). Memang untuk HTTPS tidak seratus persen mampu menjamin keamanan, tetapi yang pasti HTTPS lebih aman dari pada alamat yang HTTP.


Jumat, 14 Juli 2017

Besok Di Sini Akan Berdiri Pondok Besar!

Besok Di Sini Akan Berdiri Pondok Besar!
Oleh : Joyo Juwoto

KH. Misbah Zainil Mustafa Bangilan atau lebih dikenal dengan sebutan Mbah Bah, adalah seorang ulama yang alim, wira’i dan seorang Kiai yang insya Allah ma’rifatullah. Banyak kitab-kitab yang ditulis dan diterjemahkan oleh beliau ini, bahkan Mbah Bah juga menulis tafsir Al Qur’an 30 juz yang diberi nama kitab Al Iklil Fi Ma’ani at Tanzil. Di Bangilan sendiri tidak banyak ulama yang seperti beliau.

Dahulu saat Mbah Misbah menerjemahkan kitab-kitab klasik para ulama beliau dibantu oleh seorang santri lulusan Gontor, namanya Moehaimin Tamam. Selain menerjemahkan kitab tentu anak muda yang baru saja lulus dari pesantren di Ponorogo ini juga digunakan untuk nyantri dan menyerap ilmu dari Kiai Mbah Misbah. Sehingga tidak aneh jika suatu saat kelak, santri ini juga punya keinginan mendirikan pondok pesantren, sebagaimana Mbah Misbah juga mendirikan pondok sebagai media dakwah di tengah masyarakat.

Sebagai seorang yang alim dan arif billah tidak mengherankan jika dakwahnya Mbah Misbah di Bangilan khususnya di wilayah Karang Tengah Bangilan meninggalkan atsar pagi masyarakat. Hal ini terbukti bahwa ditempat mbah Misbah mendirikan pesantren, dulunya tempat itu masyarakatnya awam agama, dan jauh dari cahaya Islam. Seiring dengan perjalanan waktu, dengan penuh kesabaran, keihklasan dan keistiqamahan berdakwah, maka tempat yang dulunya belum mengenal Islam itu lama kelamaan diterangi dengan diinullah yaitu agama Islam.

Oleh karena itu jalan di sekitar pondoknya Mbah Bah disebut sebagai jalan Soponyono, karena siapa mengira tempat yang awalnya adalah tempat masyarakat awam agama, sekarang menjadi tempat yang dihuni oleh masyarakat santri, yang esok, siang, dan malam hari sibuk mengaji dan menderas kitab suci. Oleh karena itu jalan di dekat pondoknya mbah Misbah oleh masyarakat di sebut sebagai jalan Soponyono (Siapa menyangka).

Jika seorang hamba Allah telah diterangi cahaya Ilahi, maka nur ma’rifat ini yang akan menuntunnya dalam melangkah memperjuangkan agama Allah Swt, terbukti dengan kiprah mbah Kiai Misbah di Bangilan yag berhasil menyalakan obor hidayah di tengah gelap gulitanya masyarakat di mana beliau berdakwah.

Diantara tanda dari arif billahnya Mbah Misbah adalah sebuah dawuh ketika beliau ini sedang perjalanan Dan sampai di Jalan raya selatan Makam Kaji yang ada di dusun Punggur Desa Banjarworo Bangilan. Saat itu mbah Misbah bilang kepada santri yang nderekke beliau :

“Ngger! besok ning tanah kuwi bakal ngadek pondok pesantren sing gedhe!”
Dawuh mbah Misbah sambil mengarahkan jari telunjukknya ke arah lembah persawahan yang ada di selatan makam Kaji.

Santri yang nderekke mbah Misbah pun menyahut, “Nopo mboten teng tanah meniko, Yai?

Tanya santri kepada mbah Bah, sambil menunjukkan satu tanah yang agak  tinggi di sebelah timurnya lembah persawahan yang ditunjuk oleh Mbah Misbah.
Mbah Misbah hanya menjawab : “Ora...ora, sing siseh kono!”

Dawuhnya Mbah Bah ini diucapkan berkenaan dengan santri beliau yang membantu menerjemahkan kitab. Ya seorang santri yang saya ceritakan di awal tadi. Moehaimin Tamam bukanlah anak Kiai, beliau adalah putra Pak Badrut Tamam, seorang pedagang sukses di Bangilan. Hanya saja Pak Badrut Tamam ini sangat cinta dan hormat kepada Kiai. Hormat dan takdzimnya Pak Badrut Tamam inilah yang mungkin menjadi salah satu sebab anaknya kelak menjadi seorang Kiai dan akhirnya mendirikan pondok pesantren yang dikenal dengan nama Ponpes ASSALAM Bangilan Tuban.

Santri dari Gontor yang saya ceritakan tadi, yang juga Kiai saya, yaitu KH. Abd. Moehaimin Tamam, sebelum mendirikan pondok di Punggur, telah mendirikan Pondok Pesantren di Weden, kemudian pindah ke Bangilan. Dari Bangilan inilah pondok pesantren ASSALAM yang didirikan oleh KH. Abd. Moehaimin Tamam akhirnya melebarkan sayapnya mendirikan pondok pesantren ASSALAM putra, tepat di lokasi yang ditunjuk oleh jari ma’rifatullahnya Mbah Yai Misbah Zainil Mustofa. Wallahu a’lamu bis Showab.



Cahaya Ma’rifatullah

Google.com
Cahaya Ma’rifatullah
Oleh : Joyo Juwoto

Seorang yang arif billah atau seorang hamba yang telah mencapai derajad ma’rifatullah bukan orang yang serba tahu dan faham akan segala rahasia-rahasia dan isyarat dari Allah Swt. Ma’rifatulah sendiri sebenarnya adalah keadaan di mana seorang hamba mengenal Tuhannya dengan musyahadah Jamal dan Jalal-Nya dengan mukasyafah, tanpa perlu menggunakan dalil  dan alasan apapun, baik itu dalil yang bersifat Aqliyyah maupun dalil yang bersifat Nagliyyah.

Kadang seorang yang baru saja menempuh jalan suluk, menginginkan berbagai macam karomah yang menjadikan ia lebih peka terhadap sir ilahiyyah. Ada pula yang menempuh jalan menjadi seorang Salik agar ia memiliki kelebihan di atas rata-rata orang lain. Padahal menurut para ulama sholihin, bahwasanya untuk mencapai kedudukan arif billah itu bukan untuk tujuan dan maksud yang demikian. Oleh karena itu hendaknya kita berhati-hati dalam menempuh jalan ini.

Di dalam Kitab Al Hikamnya, Ibnu Athaillah As Sakandari memberikan gambaran atau ciri-ciri, bahwasanya diantara tanda-tanda dari orang yang berma’rifatullah adalah orang yang selalu membutuhkan Allah, selalu berhajat kepada Allah, selalu bersama Allah, di manapun dan kapanpun, dan perasaan itu selalu ada dan tak kunjung hilang menyelimuti batinnya.

Segala amal dan perbuatan seorang yang arif billah selalu digantungkan dan disandarkan kepada Allah Swt. Tak pernah sedikitpun hatinya berpaling dari wajah Allah, jiwanya tidak tergoda selain Allah Swt. Di manapun ia berada di situ wajah Allah dihadapnya. Dalam Surat Al Baqarah ayat 115 Allah berfirman yang artinya : “Dan kepunyaan Allah-lah timur dan barat, Maka kemanapun kamu menghadap di situlah wajah Allah. Sesungguhnya Allah Maha Luas (rahmat-Nya) lagi Maha mengetahui.”

Seorang yang telah mencapai maqam Ma’rifatullah ini sangat mendalami dan memahami segala apa yang diikrarkannya saat membaca doa iftitaf di awal rakaat shalat sesudah takbiratul ihram :

إِنَّ صَلاَتِيْ وَنُسُكِيْ وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِ لِلهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ

Artinya : “Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah karena Allah Tuhan seru sekalian alam”

Demikianlah orang yang arif billah hanya menginginkan Allah saja di dalam segala hal ihwal ibadahnya, kehidupannya bahkan hingga kematiannya. Seorang yang arif billah tidak tertarik pada segala sesuatu yang selain Allah Swt. Hanya Allah yang selalu bertahta di dalam hati sanubarinya. Hanya Allah-lah yang menarik seorang arif hingga ia merasa lebur di dalam nur-Nya, hilang eksistensinya karena fana diri fillah.




Kamis, 13 Juli 2017

Percik Cahaya Tuhan

Google.com
Percik Cahaya Tuhan
Oleh : Joyo Juwoto

اللَّهُ نُورُ السَّمَاوَاتِ
Artinya : “Allah (Pemberi) cahaya (kepada) langit dan bumi.  (An Nur : 35)

Di dalam Al Qur’an surat An Nur ayat 35 dia atas dijelaskan bahwasanya Allah adalah (pemberi) cahaya langit dan bumi. Kelanjutan dari ayat itu masih cukup panjang, tetapi saya ingin membahas sedikit yang menyangkut titik point Allahu Nuurus Samaawat wal Ard, bahwasanya Allah Swt, adalah pemberi cahaya kepada langit dan bumi.

Dari sepenggal ayat Al Qur’an ini bisa kita tadabburi, bahwasanya Allah adalah cahaya bagi langit dan bumi. Pengertian cahaya ini bisa kita uraikan secara dhohir dan batin. Secara sederhana dan singkat, berikut uraian mengenai Allahu Nuurus Samaawat wal Ard.

Pengertian pemberi cahaya di sini secara dhohir bisa diartikan bahwasanya Allah-lah yang memberikan karunia kepada semesta raya dengan cahaya. Jika siang hari Allah mengirimkan sumber cahaya yaitu matahari dengan sinarnya yang menerangi bumi sepanjang waktu dan tiada pernah henti, jika malam hari Allah mengirimkan bulan dan bintang-bintang di langit yang senantiasa berpijar sepanjang malam, menemani kegelapan semesta.

Bisa kita bayangkan jika alam semesta ini tanpa penerangan, betapa kita akan kesulitan melihat warna-warni keindahan semesta raya yang telah diciptakan oleh Allah Swt untuk manusia. Yang ada hanya pekatnya malam yang menghitam, dan kelamnya hitam yang mencekam, kita tidak akan melihat apapun, karena semua adalah kegelapan.

Dengan karunia-Nya inilah Allah memberikan cahaya kepada langit dan bumi, agar manusia bisa melihat kebesaran dan keindahan jagad raya yang telah digelar di sepanjang mata kita memandang. Hijaunya rumput dan dedaunan, mekarnya bunga yang berwarna-warni, birunya laut yang menghampar, indahnya gunung-gunung yang kokoh terpancang di atas bumi adalah karunia tak terhingga dari sepercik cahaya Tuhan yang dianugerahkan kepada umat manusia di muka bumi ini.

Secara batiniyyah, makna dari ayat Allahu Nuurus Samaawat wal Ard, adalah Allah sebagai pemberi petunjuk akan jalan kebenaran kepada manusia. Jalan yang terang benderang, yaitu agama Islam. Melalui cahaya Al Qur’an yang dibawa oleh Malaikat Jibril dan disampaikan kepada Nabi Muhammad Saw, melalui seorang Rasul inilah, Allah mengirimkan manual book bagi wakil-wakilnya yang ada di dunia.

Selain cahaya Al Qur’an yang menjadi percik cahaya Tuhan, bahwasanya Nabi Muhammad Saw sendiri adalah Nur, atau cahaya. Para ulama sufi sering menyebutnya sebagai Nur Muhammad. Dalam dunia tasawuf Nur Muhammad ini dianggap sebagai asal muasal dari segala ciptaan Tuhan di seluruh jagad raya.

Manusia sebagai khalifatullah yang diberi tugas untuk menjalankan misi ilahiyyah, menyampaikan apa yang menjadi pesan langit untuk penduduk bumi, agar tidak sesat dalam kegelapan, maka hendaknya manusia berusaha mengakses dua sumber cahaya Tuhan ini, yaitu Al Qur’an dan Nur Muhammad.

 Jadi secara batiniyyah cahaya Allah yang berupa Al Qur’an dan Nur Muhamad ini harus selalu kita nyalakan di dalam dada dan batin kita, agar kita senantiasa bermandikan cahaya Tuhan. Wallahu a’lamu bis showab.


Minggu, 09 Juli 2017

Jomblo Tetap Happy

Jomblo Tetap Happy
Oleh : Joyo Juwoto


Jomblo bukanlah sebuah kutukan,  jadi tak perlu risau dengan status yang mungkin anda sandang saat ini. Lazimnya status-status yang lain , jomblo tetaplah status yang tidak perlu kita sembunyikan,  katakan jomblo kalau memang iya, tak perlu malu,  dan jangan lupa bahagia dengan kejombloan Anda.

Ingin bukti bahwa menjadi jomblo tidak perlu bersembunyi dari sinar matahari?  Datanglah ke Polsek Bangilan,  di depannya itu ada satu warung bakso,  namanya Warung bakso jomblo happy.  Iya kan,  benerkan, jomblo bukan kutukan?  Tapi jomblo justru bisa menjadi peluang.

Saya sih yakin,  bahkan haqqul yakin pemilik warung bakso ini seorang jomblo yang beruntung.  Jomblo memang pejuang yang ulet,  coba kamu tentu pernah baca buku yang judulnya jomblo revolusioner,  karya seorang jomblo dari Tuban yang ngetop pula. Ah,  ini tentu meneguhkan alasan untuk bilang jangan takut menjadi jomblo,  dengan catatan bukan jomblo permanen abadan abada tentunya.

Ngomong-ngomong tentang bakso jomblo kayaknya asyik deh!  Di situ tu ente-ente akan mendapatkan menu sajian yang super keren.  Ingat hanya pakar jomblo yang bisa membuat dan menyajikannya dengan sempurna.  Mau coba! Sana buruan!!!

Eh,  tak kasih bocoran dulu ya,  biar pas ke sana,  agan-agan tidak ketawa mati kepingkel-pingkel.  Menunya tu keren-keren banget.  Haha... Pokoknya super deh,  dan yang pastinya harganya tidak membuat kantong jadi ompong.  Serius,  dah mendingan segera otewe ke sana.
Eh,  bentar!  Ni menunya :

1. Bakso Patah Hati
2. Bakso Jatuh Hati
3. Bakso Jomblo Happy
4. Bakso Selalu Salah di Matamu
5. Bakso Senja Berkabut
6. Bakso Mangkok


Wuihh!!!  Mantap keren bekenkan!!!  Ayo buruan ajak shohib-shohibmu semua ya!!!

Masuk Tahun Ajaran Baru, KMI ASSALAM Melaksanakan Khutbah Iftitah TP. 2017-2018

Masuk Tahun Ajaran Baru, KMI ASSALAM Melaksanakan Khutbah Iftitah TP. 2017-2018
Oleh : Joyo Juwoto

Memasuki Tahun Ajaran Baru 2017/2018 KMI ASSALAM tadi pagi mengawali kegiatan pembelajaran dengan agenda tahunannya yaitu apel Khutbatul Iftitah (KI). Sudah menjadi tradisi di Madrasah yang berada dalam naungan pondok pesantren itu, sebelum masa orientasi siswa baru diadakan khutbah perkenalan atau khutbatul Iftitah yang disampaikan langsung oleh Direktur KMI ASSALAM Bangilan Tuban, KH. Yunan Jauhar, S.Pd., M.Pd.I.

Seluruh santri lama dan baru, beserta seluruh dewan Asatidznya pagi itu (9/7/2017), berkumpul di halaman pondok pesantren ASSALAM dengan berseragam lengkap. Khutbatul Iftitah adalah suatu pertemuan awal tahun guna mengingatkan dan membangkitkan kembali jiwa semangat untuk berdisiplin guna berkhidmah untuk umat, dan berjuang untuk memajukan peradaban melalui lapangan pendidikan di pondok Pesantren ASSALAM.

Dalam Khutbah Iftiyahnya Gus Yunan menyatakan bahwa : ”Pondok Pesantren ASSALAM dan KMI nya adalah tempat untuk menyemai bibit-bibit unggul seorang guru. Guru-guru yang siap untuk ditanam dan tumbuh berkembang diberbagai tempat. Guru-guru yang siap berjuang di berbagai medan untuk membela dan memperjuangkan Islam.” Begitu ucap generasi kedua Pimpinan Pondok Pesantren ASSALAM Bangilan.

Lebih lanjut beliau juga menegaskan bahwa Pondok Pesantren ASSALAM adalah media untuk mewariskan nilai-nilai kepemimpinan guna memperjuangkan agama Allah, Li ‘i’laa’i Kalimatillah di bumi persada Nusantara tercinta ini. “ASSALAM Mengestafetkan Nilai-Nilai Perjuangan Untuk Kemuliaan Umat dan Bangsa.”

Pondok Pesantren ASSALAM Bangilan, dengan seluruh Hawary-hawarynya siap menyongsong medan perjuangan dengan berkapitalkan nilai keikhlasan, sebagaimana yang sering digembar-gemborkan oleh Pendiri Pondok Pesantren ASSALAM Bangilan Tuban, Abah KH. Moehaimin Tamam, “Ittabi’uu Man Laa Yas’alukum Ajran WaHum Muhtaduun” (Ikutilah orang-orang yang tidak meminta imbalan dan mereka mendapatkan petunjuk dari Allah Swt.)


Nilai perjuangan dan keikhlasan ini dalam bahasa Pondok Pesantren ASSALAM, yang diajarkan dan dicontohkan kepada seluruh santriwan-santriwati ASSALAM Bangilan Tuban, adalah yang sebagaimana dikutip dari dawuhnya Tri Murti Gontor, KH. Ahmad Sahal yang tersohor dan melegenda, yang berbunyi“Bondho Bahu Pikir Lek Perlu Sak Nyawane Sisan”, Seluruh Santriwan-santriwati dan Hawary-hawary ASSALAM di manapun berada yang telah tersibhgoh jiwa ASSALAM, pasti siap lahir dan batin berjihad dan berjibaku demi kemajuan agama nusa dan bangsa, guna meraih ridho dari Allah Swt.

Sabtu, 01 Juli 2017

Kisah Maling Sakti dan Maling Aguna

Kisah Maling Sakti dan Maling Aguna
Oleh : Joyo Juwoto

Syahdan disebuah negeri antah berantah, terdapat sebuah kerajaan yang dipimpin oleh seorang raja yang adil dan bijaksana. Sang Raja selalu memperhatikan kondisi dan keadaan rakyatnya secara menyeluruh, sehingga ia menugaskan kepada para punggawa kerajaan untuk selalu keliling kampung-kampung, guna melihat dan melaporkan kondisi terkini dari rakyat yang dipimpinnya.
Namun sayang perhatian Sang Raja kepada rakyatnya melalui para punggawa itu diselewengkan dan tidak dikerjakan dengan amanah. Khususnya sikap dari Sang Patih kerajaan sebagai penanggung jawab dari tugas Raja, Patih ini selalu memberikan laporan yang menyenangkan Sang Raja, seakan tidak pernah ada masalah yang terjadi atas rakyat yang dipimpinnya.
Suatu ketika, di sebuah perkampungan dipinggiran dari kerajaan terjadi suatu musibah. Entah sebabnya apa, kampung itu para lelakinya sama meninggal dunia, yang tinggal hanya para janda-janda tua yang lemah. Namun ajaib ada seorang pemuda yang selamat dari musibah yang aneh itu. Sebut saja namanya Jaka. Maksud hati, Jaka ingin meninggalkan kampungnya yang telah mati. Tapi hatinya tidak tega melihat janda-janda tua yang nantinya akan mati satu persatu karena wabah lapar yang melanda mereka. Nasib mereka tentu tidak ada yang mempedulikannya. Dan tinggal Jaka seorang diri.
“Apa yang harus aku lakukan? orang-orang itu membutuhkan makanan untuk menyambung hidupnya, sedang tanah di kampung ini sedang dilanda paceklik, dan tidak ada yang bisa saya lakukan” pikir Jaka.
Jaka bingung, ia merenung seorang diri, apa yang harus dilakukannya ? Karena tidak memiliki keahlian apapun Jaka berfiir untuk menjadi pencuri saja, mencuri makanan yang digunakan untuk menyelamatkan puluhan nyawa yang tak berdaya di kampungnya.  Jika para pencuri yang diincarnya adalah harta kekayaan, lain dengan Jaka, ia adalah seorang pencuri spesialis makanan yang ada di rumah-orang-orang kaya. Ia tidak mau mengambil lebih daripada makanan. Karena memang niatnya hanya untuk memberi makan para janda-janda tua yang tidak berdaya.
Dengan menggunakan pakaian hitam-hitam, Jaka hampir setiap malam keliling kampung-kampung disekitarnya, menyilap masuk rumah dan menguras makanan yang ada di rumah orang-orang kaya. Jaka dalam menjalankan aksinya menggunakan nama samaran Maling Aguna.
Pada suatu kesempatan, dii istana kerajaan, Sang Raja sedang mengadakan pasewakan agung, dalam rangka mendengarkan kondisi yang terjadi di tengah-tengah rakyat. Para punggawa beserta sang Patih menghadap Sang Raja, mereka melaporkan hasil blusukannya ke kampung-kampung. Seperti biasa Sang Raja yang duduk di atas singgahsana mendengarkan dengan seksama apa yang dilaporkan oleh para bawahannya.
“Wahai Sang Patih, bagaimana kondisi rakyatku di luar sana? tanya Sang Raja kepada patih yang duduk di sebelahnya.
“Ampun Paduka Raja, berdasarkan pengamatan para petugas kerajaan, rakyat di luar sana dalam kondisi yang makmur, turah sandang, turah pangan. Masyarakat tata tentrem kerta raharja, gemah ripah lohjinawe” Atur Sang Patih kepada Paduka Raja.
Setiap ada pertemuan kerajaan, selalu kata itu yang diucapkan oleh Sang Patih, berulang-ulang dan tidak ada yang berubah, sedangkan para punggawa yang lain hanya mengiyakan dan sendiko dawuh atas laporan dari Sang Patih.
“Jika memang kondisinya demikian, maka pertemuan kali ini cukup sekian” begitu titah Sang Raja, kemudian ia undur diri meninggalkan pasewakan agung kerajaan. Raja sebenarnya kecewa, karena setiap pertemuan dari waktu kewaktu, seakan laporan dari bawahannya hanya satu lagu, itu-itu saja. Raja menjadi bosan.
Di tengah kebosanannya, Sang Raja akhirnya berkeinginan untuk keluar istana sendiri. Beliau ingin melihat dan mendengar langsung kondisi rakyat di luar dinding istana. Apakah yang dikatakan oleh bawahannya memang benar adanya.
Sang Raja kemudian menyamar dengan memakai pakaian rakyat jelata, tanpa pengawalan beliau keluar istana dengan diam-diam. Di luar dinding istana ternyata keadaannya sungguh mencengangkan, Sang Raja bisa melihat secara langsung kondisi rakyat yang dipimpinnya. Sang Raja terus berjalan dari satu tempat ke tempat yang lain, dari satu kampung k kampung lainnya. Hingga pada suatu malam beliau sampai di sebuah tanah lapang, di situ ada pesta rakyat pasar malam. Berbagai macam tontonan digelar, orang-orang sama berdatangan, melihat tontonan pasar malam.
Di sana-sini para pedagang juga banyak yang berjualan, menggelar dagangannya. Ada penjual singkong goreng, penjual tahu, penjual kacang, dan aneka ragam makanan lainnya. Di sudut lapangan, ada seorang tua yang menggelar tikar, pak tua itu duduk sendiri diterangi oleh obor yang menyala-nyala. Tidak ada seorang pun yang datang mendekat, karena memang tidak ada satu pun makanan atau barang yang dijualnya. Karena penasaran sang Raja yang menyamar pun mendekat.
“Wahai Pak Tua, apa yang sedang engkau lakukan di tempat keramaian ini? apakah engkau sedang menjual sesuatu?
“Wahai orang asing, saya memang sedang jualan, dan yang saya jual itu ilmu, namun sayang tidak ada yang datang mendekat” jawab si bapak tua tadi.
“Memang ilmu apa yang engkau jual pak tua? apakah ilmu kesaktian, kedigdayaan, atau ilmu sihir? selidik Sang Raja lebih jauh.
“Bukan Kisanak, saya menjual ilmu yang sangat bermanfaat, jika Kisanak bersedia membeli, setiap dua kalimat Kisanak harus membayarnya seharga dua keping dirham, dan nanti akan lanjut ke kata berikutnya, juga berlaku harga yang sama” jawab Pak Tua yang aneh itu.
“Wah!!! sangat mahal sekali, dua kalimat seharga dua dirham”
“Jika engkau tidak bersedia, ya tidak apa-apa, silahkan pergi dari sini” jawab pak tua.
Tapi karena Sang Raja penasaran dengan penawaran pak tua tadi, akhirnya Sang Raja memutuskan untuk membeli ilmu yang ditawarkan oleh pak tua tadi.
“Baiklah Pak Tua, saya membeli ilmu yang engkau jual” Jawab Raja.
“Dengarkan wahai kisanak, ilmu yang saya berikan tidak akan saya ulang, oleh karena itu dengarkan baik-baik” Kata pak Tua melayani permintaan calon pembeli ilmunya.
Tinimbang turu aluk tenguk-tenguk” sudah kisanak, itu dua kalimat yang harus engkau bayar dengan dua dirham, sini uangnya. Pinta Pak Tua sambil menyodorkan tangannya kepada Sang Raja yang menyamar.
Sang Raja bingung, dua kalimat itu dikatakan sebagai ilmu yang bermanfaat, lalu apa manfaatnya? pikir sang raja.
Seperti tahu yang dipikirkan oleh pembelinya,Pak Tua berkata : “Jika engkau ingin tahu kelanjutannya, engkau harus membayar dengan harga yang semisal, Kisanak”
 “Baiklah, lanjutkan, nanti akan saya bayar semuanya”, jawab Sang Raja dengan agak jengkel.
“Hehe...hehe...baiklah, tapi jangan lupa, kau bayar sejumlah kalimat yang akan aku sampaikan, dan dengarkan baik-baik, karena aku tidak akan pernah mengulanginya lagi” jawab Pak Tua sambil terkekeh.
“Tinimbang tenguk-tenguk aluk njongok, tinimbang jongok aluk ngadeg, tinimbang ngadeg aluk mlaku, tinimbang mlaku nganggur, aluk mlaku sing ana tujuane. Tinimbang mlaku ana tujuane aluk mlaku ngubengi omah, tinimbang mlaku ngubengi omah aluk mlaku ngubengi kampung”
“Sudah itu ilmu yang aku jual kepada engkau Kisanak,dan bayarlah sesuai dengan kesepakatan awal kita”
Walau masih terheran dan penasaran dengan ilmu yang dibelinya, Sang Raja pun membayar permintaan dari Pak Tua. Kemudian ia pun pergi meninggalkan tanah lapang yang mulai sepi. Sambil berjalan Sang raja merenungi ilmu yang telah diterimanya dari Pak Tua yang aneh itu.
Sang Raja terus berjalan di tengah kegelapan malam, hingga sampailah ia disebuah pertigaan jalan perkampungan, saat itu kondisi sangat sepi.
Tiba-tiba dari arah jalan di depan Raja muncullah seorang yang berpakaian hitam-hitam. Lelaki yang berpakaian hitam itu kaget, spontan ia berkata : “Hah! siapa kamu, malam-malam keluyuran di tempat ini! Sang Raja yang menyamar pun tak kalah kagetnya, ia pun menjawab sekenanya, “Aku maling Sakti” Kamu siapa? “Aku Maling Aguna” Jawab laki-laki berpakaian hitam tadi.
“Owh, kita sama-sama maling ya, ayo nanti tak tunjukkan tempat yang banyak harta benda yang dapat kita curi” Ajak maling Sakti kepada sahabat barunya, Maling Aguna.
“Baiklah, tapi saya initidak pernah maling harta benda, saya hanya maling nasi dan makanan saja. Kampungku kena musibah, penduduknya hanya tinggal janda-janda tua yang tidak ada yang memberikan makan, oleh karena itu saya mencuri makanan untuk mereka” Jawab Maling Aguna.
 Singkat cerita mereka berdua kemudian pergi ke Istana Raja untuk mencuri.
“Tempat apa ini kok indah sekali, banyak makanan pula? tanya Maling Aguna kepada Maling Sakti.
“Ini adalah istana Raja, dia bukan orang baik, ayo kita ambil dan kita habiskan harta-hartanya” Jawab Maling Sakti.
Namun Maling Aguna enggan dan takut untuk mencuri di Istana, karena ia beranggapan Raja adalah pemimpin yang baik, yang tidak patut hartanya untuk dicuri.
“Tidak, saya hanya akan mengambil makanan saja, saya tidak tega mencuri di tempat raja saya, raja orangnya baik” Jawab Maling Aguna sambil menangis karena sedih telah mencuri di istana raja yang dianggapnya baik itu.
Setelah peristiwa itu Maling Aguna meninggalkan sahabatnya Maling Sakti, ia merasa gak enak diajak mencuri di istana rajanya sendiri. Kemudian unuk memenuhi kebutuhan makanan di kampungnya, Maling Aguna mencuri dari orang-orang kaya di tetangga desa seperti biasa.
Suatu ketika, karena penjagaan semakin ketat, Maling Aguna mulai mencuri dengan cara melubangi tanah dari sisi luar pagar. Kemudian ia membuat lubang yang menghubungkan ke dalam rumah. Tidak disengaja saat Maling Aguna melubangi tanah dan masuk sebuah kamar di kepatihan, lubang itu tepat berada di bawah ranjangnya Sang Patih.
Saat itu Sang Patih sedang tiduran dan bercengkrama dengan istrinya di atas ranjang, mereka tidak menyadari kalau di bawah sudah ada Maling Aguna.
“Diajeng istriku, seandainya kamu memilih, suka mana, Kang Masmu ini menjadi Patih ataukah menjadi Raja?
“Ah Kang Mas, tentu aku suka jika Kang Mas menjadi Raja saja, bukan hanya seorang Patih” jawab istrinya.
“Baiklah Diajeng, sebentar lagi keinginanmu akan menjadi kenyataan, saya punya sebuah semangka ajaib, besarnya satu jun, itu saya letakkan di bawah ranjang. Semangka itu telah aku racuni, dan besok akan aku hadiahkan kepada Raja, Ia pasti senang, dan kau akan tahu sendiri cerita selanjutnya” Kata Sang Patih kepada istrinya.
Mendengar percakapan itu, Maling Aguna ketakutan, ia segera kembali menutup lubang yang ada di bawah ranjang Sang Patih. Dengan tergesa Maling Aguna berlari keluar lubang. Maling Aguna kebingungan, ia mencari-cari temannya Maling Sakti, di sekitar Istana Raja. Karena menurut pengakuan Maling Sakti, ia sering mencuri harta kekayaan Raja.
Benar saja, Maling Aguna bertemu dengan Maling Sakti di dekat tembok luar Istana, dengan terbata dan gugup, Maling Aguna menceritakan apa yang telah didengarnya dari pembicaraan Sang patih dengan Istrinya di ranjang yang sempat dicuri dengar oleh Maling Aguna.
“Wahai Maling Sakti, saya mohon selamatkan Sang Raja dari rencana pembunuhan Sang Patih, engkau pernah  bilang, bahwa engkau punya kenalan orang dalam istana, maka saya mohon sampaikan ini kepada Raja, benar saya tidak bohong” pinta Maling Aguna kepada saahbatnya yang tidak lain adalah Sang Raja itu sendiri.
“Baiklah, saya percaya dengan ceritamu, pulanglah kamu ke kampungmu, saya akan ke istana dan menceritakan ini kepada sahabat saya yang ada di dalam istana” Jawab Maling Sakti.
Legalah hati Maling Aguna, ia kemudian pulang meninggalkan sahabatnya. Maling Sakti sendiri merenungi segala kejadian yang dialami di istananya. Mulai dari laporan-laporan para punggawanya yang selalu baik-baik saja, hingga akhirnya ia keluar istana dan bertemu dengan seorang bapak tua penjual ilmu. Dari ilmu bapak tua itulah Sang Raja mengamalkan ilmu tersebut, sehingga ia mengetahui keadaan sesungguhnya rakyat yang dipimpinnya. Dari situ pula ia bertemu dengan maling budiman, Maling Aguna, Maling yang hanya mencuri makanan sekedar untuk menutupi rasa lapar penduduk kampungnya.
Dari perjalanannya itu akhirnya terbongkar pula muslihat busuk yang sedang dijalankan oleh Patihnya, yang akan mendongkel kekuasaannya, hingga Sang Patih tega akan membunuhnya, dengan cara meracuninya. Untung ada Maling Aguna sahabatnya yang mengetahui akan hal itu, sehingga ia selamat dari pembunuhan yang telah direncanakan oleh Patihnya sendiri.
Sebelum Sang Patih pergi ke istana dan memberikan hadiah semangka ajaibnya, lebih dulu Sang Raja datang ke kediaman Sang Patih dengan membawa pasukan bersenjata lengkap. Patih yang tidak punya  rasa terima kasih itu ditangkap dan diadili oleh kerajaan sesuai dengan rencana makar yang akan dijalankannya.

Setelah peristiwa itu kerajaan yang dipimpin oleh Sang Raja menjadi kerajaan yang makmur nan sentausa. Rakyat hidup bahagia dalam perlindungan raja yang adil dan bijaksana.