Pages - Menu

Rabu, 08 November 2017

Suwuk, Obat Dokter dan Sakit Gigi

Suwuk, Obat Dokter dan Sakit Gigi
Oleh : Joyo Juwoto

Suwuk adalah istilah pengobatan suatu penyakit atau menyelesaikan suatu masalah tertentu dengan wasilah do’a.  Selain doa biasanya seorang yang ahli suwuk menggunakan media tertentu untuk nyuwuk pasiennya. Media yang dipakai bisa air, daun, bunga, tanah, amalan, maupun doa-doa yang harus di baca oleh orang yang meminta suwuk dengan bilangan tertentu.

Sebagai seorang yang pernah nyantri, saya sangat kenyang dengan yang namanya suwuk, baik itu minta disuwuk maupun nyuwuk sendiri. Untuk opsi nyuwuk sendiri ini hanya saya pakai untuk urusan pribadi saya, bukan nyuwuk orang lain. Saya jelaskan demikian karena khawatir setelah tulisan ini saya posting banyak yang datang ke saya untuk minta disuwuk. Hal ini tentu akan membuat saya kalang kabut, karena selaian memang tidak bakat nyuwuk, saya juga tidak punya keberanian untuk nyuwuk orang lain.

Kali ini saya ingin menceritakan suwuk yang berkenaan dengan sakit gigi yang saya alami beberapa pekan yang lalu. Karena berbagai macam obat telah saya minum dan berbagai saran dari teman-teman yang pernah sakit gigi telah saya jalankan dengan patuh, bahkan saya juga pergi ke dokter untuk dikasih resep obat sakit gigi, namun ternyata sakit gigi saya belum sembuh-sembuh juga, maka saya terus mencari informasi tentang obat sakit gigi yang saya alami.

Sebagai makhluk ikhtiar terus saya lakukan, doa-doa kepada Allah Swt pun saya panjatkan. Saya berusaha kyusu’ dalam berdoa, dalam shalat, pasrah kepada Allah, dan memohon kesembuhan sakit gigi yang saya derita. Saya yakin manusia berkewajiban berusaha, sedang kesembuhan hanyalah milik Allah semata. Ya begitulah, kadang manusia akan mendekat kepada Allah jika ia punya masalah. Jika masalah yang mendera selesai kadang juga akan kembali lupa kepada Tuhan.

Setelah saya bertanya ke sana ke mari, akhirnya saya mendapatkan saran untuk nethekna untu (istilah yang dipakai dalam pengobatan sakit gigi) di Pak Ud, sebut saja begitu. Menurut informasi yang saya dapat, media yang dipakai adalah bonggol dari tanaman pandan berduri. Entah bagaimana caranya saya sendiri juga belum bisa membayangkan.

Dengan semangat empat lima dan semangat NKRI harga mati, setelah pulang dari sekolah saya pun meluncur ke tempat Pak Ud. Jodoh memang tidak ke mana, asam di gunung, garam di laut akhirnya pun ketemu jua di belanga. Begitu kira-kira para pujangga menulis moment pertemuanku dengan dengan Pak Ud si tukang thethek untu.

Setelah memperkenalkan diri, saya pun menyampaikan maksud kedatangan saya siang itu. Pak Ud dengan wajah yang ramah dan senyumnya yang merekah saya dipersilakan duduk dan menunggu. Beliau kemudian mempersiapkan peralatan untuk prosesi nethek untu dengan media pandan duri yang telah diambilnya.

Saya hitung ada sekitar sembilan batang pohon pandan yang diambilnya. Kemudian beliau menata selang air dari kran. Sebagai pasien yang baik dan penurut, saya hanya diam menunggu dan tidak banyak bertanya.

Setelah selang tersalurkan dengan kran dan airnya telah mengalir saya disuruh duduk dengan badan condong ke depan. Satu persatu pohon pandan itu ditempelkan di pipi di mana gigi saya sakit. Setelah itu pohon pandan yang menempel di pipi saya disiram dengan air dari selang tadi. Saya tidak tahu dan tidak mendengar doa  atau mantra apa yang dibaca  oleh Pak Ud.

Sepersekian menit air dari selang itu terus dialirkan di pipi saya. Saya hitung waktu pipi saya disiram air sekitar 70 kali hitungan. Setelah itu air selang pun diletakkan. Kemudian Pak Ud memreteli helai demi helai daun pandan hingga tersisa batangnya saja. Batang itu kemudian dilepaskan dari pipi saya dengan perlahan. Saya tetap tidak tahu doa apa yang di rapal oleh Pak Ud.

Setelah batang itu dilepaskan pipi saya diusap dengan songkok hitam yang dipakai oleh Pak Ud. Aneh bin ajaib, ada banya ulat-ulat gigi kecil-kecil yang menempel di songkok beludru hitam itu. Prosesi nethek untu dilakukan berulang kali hingga seluruh batang pandan yang jumlahnya sembilan habis.

Di putaran terakhir, saya melihat  dua ekor ulat gigi yang lebih besar dari sebelumnya. Kata Pak Ud itu mungkin babonnya. Setelah prosesi nethek untuk selesai, saya pun diberi air satu botol oleh Pak Ud untuk saya minum dan sisanya saya bawa pulang untuk diminum di rumah.

Selain memberikan air, Pak Ud juga berpesan agar saya tidak makan yang pedas-pedas, terkhusus untuk tiga hari ke depan. Saya pun mengiyakan pantangan yang dinasehatkan oleh beliau. Setelah itu saya pun pulang. Rasa sakit yang saya derita memang masih terasa, namun berangsung reda. Mungkin karena ulat giginya sebagai biang sakit gigi sudah keluar dipancing dengan bonggol pandan duri, sehingga rasa sakitnya makin menghilang.

Saya bersyukur sakit gigi yang tak terkirakan yang saya derita beberapa hari sedikit demi sedikit mulai mereda. Padahal sebelumnya dengan berbagai macam obat yang saya minum tidak memberikan efek sama sekali. Obat dari dokter gigipun ternyata belum berjodoh dengan penyakit gigi saya.


Alhamdulillah berkat wasilah suwuk sakit gigi yang saya derita akhirnya diberi kesembuhan oleh Allah Swt. hingga tulisan ini saya buat gigi saya sudah tidak sakit lagi. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar