Jumat, 23 Juni 2017

IKPA Buka Bersama Anak Yatim Dan Dhuafa' Di Sokogunung Kenduruan

IKPA Buka Bersama Anak Yatim Dan Dhuafa' Di Sokogunung Kenduruan
Oleh : Joyo Juwoto

Ikatan Keluarga Pondok ASSALAM (IKPA) bersama Baitul Mal Manfaat Surabaya, sore kemarin (22/06/2017) menggelar bhakti sosial yang dikemas dalam acara buka bersama dan santunan untuk anak yatim dan dhuafa' di desa Sokogunung Kec. Kenduruan.

Buka bersama 30-an anak yatim dan dhuafa' ini dilaksanakan di rumah Bapak Tarsiban atau rumah salah satu alumni IKPA, saudara Ali Mudhofir.

Kegiatan yang dilaksanakan secara rutin di penghujung bulan ramadhan ini telah berlangsung kurang lebih 5 tahun ini. Begitu konfirmasi Ust. Ahmad Nasiruddin, selaku koordinator kegiatan.

"Alhamdulillah, syukur  kepada Allah Swt, tahun ini kita bisa melaksanakan kembali, buka bersama dan santunan untuk anak-anak kita, yang ada di desa Sokogunung ini" kata ust. Marwan, ketua pusat IKPA saat memberikan sambutannya.

Ust. Marwan juga mengapresiasi atas kepedulian BMM Surabaya terhadap kegiatan sosial untuk anak-anak yatim dan dhuafa' yang dilaksanakan oleh IKPA. Kordinator dari BMM Surabaya, Bapak Fajar Cahyono juga merasa gembira, bahkan beliau menawarkan tahun depan IKPA bisa mencarikan tempat yang lebih pelosok dan yang disantuni lebih banyak lagi.

"Kalau bisa tahun depan, kita cari tempat yang lebih pelosok, dan yang disantuni bisa lebih banyak lagi, 100 anak, gitu! ujar Pak Fajar Cahyono dengan penuh semangat.

Alhamdulillah acara kemarin sore berjalan cukup lancar dan mendapatkan tempat di hati warga Sokogunung. Dari pihak IKPA tentu menyampaikan banyak terima kasih kepada shohibul bait, keluarga besar bapak Tarsiban yang telah banyak direpoti. Semoga Allah memberikan balasan kebaikan yang berlipat.

Terima kasih kepada keluarga besar IKPA yang ikut meramaikan acara kemarin, ust. Marwan, mas Ali Imron, mbak Khotimah, mbak Ana, mas Mashari, mas Charies, mas Syahid, dan kawan-kawan yang lain.

Terima kasih juga kepada para donatur dari teman-teman IKPA,  dan koordinator serta panitia kegiatan dan semua yang terlibat dalam kegiatan buka bersama dan santunan anak yatim. Semoga Allah memberkahi semuanya.

Semoga kegiatan positif dari kawan-kawan IKPA ini bisa berlanjut, dan ke depan jauh lebih baik lagi. Mari selalu menebar manfaat dan kebaikan, sekecil apapun itu. Semoga Allah Swt, memberkahi dan meridhoi. Aamiin

Kamis, 22 Juni 2017

Pulang Bersama Kambing Ataukah Bersama Nabi?

*Pulang Bersama Kambing Ataukah Bersama Nabi?*
Oleh : Joyo Juwoto

Dosa pertama yang dilakukan oleh makhluk Tuhan adalah kesombongan yang melahirkan sikap pembangkangan yang dilakukan oleh Iblis kepada Allah Swt. Iblis merasa lebih baik dari Adam, tetapi mengapa Allah menyuruh untuk bersujud kepada makhluk yang lebih rendah darinya, begitu kira-kira logika iblis.

Oleh karena itu hendaknya kita berhati-hati dalam berlogika. Agama Islam adalah agama yang tidak menafikan dengan logika manusia, namun berhati-hatilah dalam berlogika mengenai agama, karena pada dasarnya agama adalah riwayat yang bersambung hingga kepada Rasulullah Saw, jangan sampai karena membela logika akhirnya mengesampingkan riwayat.

Karena kadang-kadang logika beragama tidak sesuai atau tidak cocok dengan logika yang kita bangun. Karena sekali lagi bahwa agama adalah bagian dari riwayat yang bersumber dari wahyu Ilahi yang dinubuwwahkan kepada para Nabi dan Rasul-Nya.

Oleh karena itu, umat Islam harus belajar logika ilahiyyah dan nubuwwah, agar tidak terjebak dengan logikanya sendiri.

Berikut saya ambilkan sebuah kisah mengenai logika Nubuwwah yang saya simak dari pengajian tafsir Jalalain yang disampaikan oleh Gus Baha'  Narukan Rembang.

Pada saat Rasulullah Saw, dan sahabat Anshor serta Muhajirin berangkat ke medan Hunain, yaitu yang terjadi pada bulan syawal tahun ke 8 H, saat itu umat Islam mampu memenangkan peperangan melawan suku Hawazin.

Umat Islam mendapatkan ghanimah yang sangat banyak sekali. Pada saat itu ada beberapa orang Quraiys yang baru saja masuk Islam, diantaranya Mirdas, Uyainah bin Badr, Aqra' bin Habis, dan lain-lain.

Mereka-mereka ini baru sekitar 5 hari hingga 7 hari bergabung dan menyatakan keIslamannya. Namun pada saat pembagian harga ghanimah, Rasulullah memberikan sebanyak "ma bainal jabalain" atau jika dihitung sekitar 4000 ekor kambing. Dan  beliau tidak menyisakan untuk orang-orang Anshor, yang telah banyak berjasa membela agama Islam.

Jika dilogikakan secara awam, tentu Rasulullah Saw bertindak tidak adil. Sahabat Anshor yang banyak berjasa justru tidak mendapatkan bagian dari ghanimah perang.

Jika kita tidak memahami logika Nubuwwah yang sedang dijalankan Rasulullah, maka tentu kita akan memprotesnya. Dan memang benar, ada seorang yang bernama Dzul Khuwaishiroh memprotes kebijakan Nabi.

Dzul Khuwaishiroh adalah seorang yang ahli ibadah, di jidatnya ada tanda hitam, dan ia seorang yang senang dan banyak sekali membaca Al Qur'an. Namun dengan garangnya Dzul Khuwaishiroh ini berkata tidak sopan kepada Rasulullah Saw,
اعدل يا محمد !
Nabi Muhammad kemudian dengan ringan menanggapi protes tersebut.

ايأمنونى على اهل الأرض، ولا تأمنوني

Melihat ketidaksopanan dari Dzul Khuwaishiroh, Umar dan Khalid bin Walid menawarkan diri untuk membunuh orang yang telah lancang kepada Nabi. Namun Nabi melarangnya karena ia masih bersyahadat dan menjalankan shalat.

Sebenarnya para sahabat Anshor juga merasa aneh dengan sikap Nabi, namun mereka tetap berkhusnudzon dan percaya dengan apa yang dilakukan oleh Rasulullah Saw.

Tapi sebagai manusia biasa, ada juga desas-desus yang mengomongkan kebijakan Nabi dengan pembagian dari ghanimah perang. Selanjutnya Nabi memanggil pembesar kaum Anshor, Saad bin Ubadah. Nabi kemudian berkata :
ما قالة بلغتنى عنكم؟

Kemudian dengan diplomatis, Saad menjawab :

اما ذو اسلامنا فلا يقولون شيأ

Selanjutnya Rasulullah Saw mengumpulkan para Sahabat Anshor, dengan penuh kelembutan, beliau kemudian  bersabda :
اما ترضون ان يرجع الناس بالشاة والبعير؟ وترجعون انتم برسول الله الى ارحالكم؟

Mendengar itu kemudian orang-orang Anshor menangis dan memilih pulang dari medan perang membawa Rasulullah daripada hanya membawa kambing.

Padahal sebenarnya orang Anshor juga memiliki kekhawatiran setelah Makkah ditaklukkan, Rasulullah lebih memilih tinggal dan pulang ke Makkah dan kembali berkumpul dengan keluarga dan kerabatnya yang ada di Makkah.

Akhirnya terjawab sudah apa yang menjadi desas-desus dan pertanyaan dari para sahabat mengenai pembagian ghanimah perang Hunain. Kemudian Rasulullah pun melanjutkan sabdanya  :

المحيا محياكم والممات مماتكم

Legalah hati orang Anshor, kemudian mereka pun pulang bersama Nabi menuju kota Madinatul Munawaarah yang penuh berkah.

Selasa, 20 Juni 2017

Mendulang Pahala dan Laba di Pasar

*Mendulang Pahala dan Laba Di Pasar*
Oleh : Joyo Juwoto

Pagi ini untuk pertama kalinya saya menjalankan muamalah perdagangan di pasar tradisional Bangilan. Saya punya toko Babyshop di pasar yang tak beri nama Bunayya Babyshop.

Istrikulah yang paling berjasa menjalankan muamalah perdagangan ini, karena saya sendiri bisa dibilang sibuk disektor lain.

Karena anak pertama kami sakit, maka pagi ini saya yang menggantikan berjualan. Itung-itung mencari pengalaman baru, jagain toko.

Karena pas bulan ramadhan, dan pasar ramai, maka sudah menjadi tradisi kami untuk mengambil satu rewang. Karena ada rewang itulah, saya berani jaga toko. Jika tidak, saya tentu kesulitan, karena memang belum terbiasa.

Saya tentu berterima kasih dengan rewang toko kami, karena semua beliau yang handle. Saya jaga toko ya hanya jaga saja, hanya nunggoni susuk dari pembeli.

Dari muamalah perdagangan ini banyak pelajaran yang bisa saya petik. Keluar masuknya pembeli,  tawar menawar antara penjual dan pembeli, hingga berbagai interaksi di dalamnya.

Sebagai seorang penjual, harus menampakkan wajah yang ceria, istilah jawanya grapyak semanak. Dalam hal ini, secara teori kayaknya penjual akan mendapatkan banyak pelanggan dibanding penjual yang selalu menampilkan wajah juteknya.

Selain berpotensi mempunyai banyak pelanggan, menampakkan wajah ceria termasuk menjalankan kesunahan dan akhlaqnya Kanjeng Nabi Muhammad Saw, jadi akan banyak pahala yang didulang oleh seorang penjual yang bassyul wajhi, yang ceria wajahnya. Bukankah Nabi  Bersabda : Tabassumuka fii wajhi akhiika shodaqatun.

Berdagang sendiri adalah termasuk jalan rizki yang yang disyariatkan oleh ajaran agama, jadi selain berfungsi sebagai muamalah juga berfungsi sebagai ubudiyyah.

Jadi berdagang itu ibadah yang mendapatkan pahala doeble, pahala diakhirat dan juga pahala di dunia yang berupa laba dari aktivitas perdagangan.Tentunya perdagangan yang berpahala adalah perdagangan yang dilakukan sesuai dengan ajaran Islam, dan jauh dari tipu daya dan kebohongan. JJ.