Selasa, 15 Agustus 2017

Sikap Toleransi Untuk Kebhinnekaan yang Tunggal Ika

Sikap Toleransi Untuk Kebhinnekaan yang Tunggal Ika
Oleh : Joyo Juwoto

Berbicara mengenai istilah kebhinekaan adalah hal sangat mudah, bahkan dengan ringannya lisan ini bisa mengucapkan kata bhinneka tunggal ika berkali-kali, hafal di luar kepala, menjadi jargon yang memukau dan semboyan yang sangat bagus, penuh muatan energi sosial yang positif dan membuka ruang dialektika kehidupan yang dinamis.

Kita tentu bersyukur dan sangat, sangat bersyukur, mendapatkan satu warisan azimat yang luar biasa dari sebuah rumusan bhineka tunggal ika. Para the founding fathers negeri Nusantara Indonesia Raya tercinta ini tentu sangat  menyadari akan hakekat kebangsaan yang dibangun di atas perbedaan ras, suku, bahasa, agama dan kepercayaan.

Oleh Karena itu, untuk mengikat keberagaman unsur-unsur itu, maka dibutuhkan satu landasan filosofis yang kuat dan universal. Maka dipilihlah satu kalimat yang berbunyi bhinneka tunggal ika, yang memiliki makna secara bebas berbeda-beda tetapi tetap satu jua.

Filosofis kebangsaan bhinneka tunggal ika sudah diajarkan kepada kita semenjak dari sekolah dasar hingga ke perguruan tinggi, dengan harapan setiap generasi muda bangsa Indonesia memahami betul makna dan penerapan dari kalimat ini. Bukan hanya sekedar hafal, namun hafal yang disertai dengan pemahaman dan kesadaran akan nilai-nilai yang dilahirkan dari kebhinnekaan.

Salah satu nilai dari rahim kebhinnekaan adalah sikap toleransi terhadap segala perbedaan yang menjadi platform bangsa ini. Toleransi sendiri dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, adalah sikap menghargai pendirian (pendapat, pandangan, kepercayaan, kebiasaan, dan kelakuan yang berbeda atau bertentangan dengan pendirian sendiri). Jadi dalam kebhinnekaan wajib hukumnya melahirkan satu pemahaman dan sikap serta konstruksi diri yang toleran kepada orang lain.

Kita tentu harus menyadari bahwa perbedaan adalah suatu hal yang wajar dan lumrah, karena memang kita terdiri dari berbagai ragam suku,ras, agama dan bahasa yang berbeda-beda. Segala macam perbedaan ini harus kita rawat biar bertumbuh kembang yang selaras sehingga mencipta harmoni semesta.

Sikap toleransi ini harus dikembangkan, dijiwai, dan dijadikan pengetahuan dan pemahaman bersama untuk diejawentahkan dalam kehidupan yang nyata, bukan hanya sekedar wacana, bukan hanya sekedar jargon, dan bahan pembicaraan di panggung seminar saja. Toleransi harus kita rawat dan kita perjuangkan bersama dengan penuh semangat kebersamaan dalam keberagaman.

Sikap toleransi ini adalah sebuah keniscayaan sikap yang harus ada dalam ruang individu maupun ruang publik, guna membangun kehidupan yang selaras dan damai diantara kelompok masyarakat yang berbeda-beda, seperti negeri Nusantara Indonesia tercinta.


Tidak ada pelangi yang tercipta dari satu unsur warna, dan pelangi terbesar serta terindah yang dianugerahkan Tuhan di jagad raya ini adalah kebhinnekaan warna di bumi Nusantara Indonesia Raya ini. Oleh karena itu mari kita rawat bersama kebhinnekaan yang tunggal ika dengan sikap toleransi antar kelompok masyarakat yang berbeda, baik itu berbeda sukunya, bahasanya, rasnya, maupun agamanya. 

Rabu, 09 Agustus 2017

Kang Djacka Artub Sang Fiksionis Romantis

Kang Djacka Artub Sang Fiksionis Romantis
Oleh : Joyo Juwoto

Pemuda ganteng dengan nama pena Jaka Tarub, eh maksudku Djacka Artub ini adalah seorang blogger fiksionis romantis yang dimiliki oleh Kabupaten Tuban. Tidak heran jika pemuda yang sudah menyunting secara sah, satu bidadari jelita di hadapan Pak Penghulu ini sangat flamboyan, lha wong menurut mata batin saya Kang Djacka ini keturunan dari putri rembulan sang Dewi Nawang Wulan. Ini terlihat dari nama penyamaran Kang Djacka yang hampir mirip dengan nama leluhurnya yaitu Jaka Tarub pemuda yang suka ngintip bidadari mandi di sendang.

Saya semakin yakin kalau Kang Djacka ini keturunan makhluk langit dapat kita lihat dalam satu bait puisinya yang sangat syarat merindukan rembulan datang. Dalam bait puisi yang berjudul "Dia; Secuil Rembulan" Kang Djacka ini berpuisi :

Aku, ... Masih tetap di sini. Berdiri terpaku menatap hitamnya gelap malam.
Kerlip bintang hanya terlihat indah di kejauhan

Tak mampu kusentuh  dalam dekapan.

Dia ... 
Secuil rembulan yang datang, hanya sekejap lalu menghilang.
Aku ingin menunggu, tapi rasanya mustahil malam ini ia akan kembali datang.

Akankah rembulan itu akan kutemui di malam berikutnya?
Entahlah.
Ah, kayaknya kerinduannya dengan simbah moyangnya yang ada di langit kayaknya sangat mengharu biru. Saya senang sekali membaca blognya Kang Djacka, tulisannya banyak beraliran fiksi romantis, wuihh...menghanyutkan deh pokoknya. Jika para sobat ingin melihat lebih banyak lagi dari tulisan Kang Djacka, maka kunjungi saja alamatnya di sini http://www.arektuban.com/ 

Kang Djacka ini menulis ternyata otodidak dan dengan dorongan energi cinta yang kuat. Saya berharap beliaunya segera merilis buku solo, baik itu kumpulan puisi maupun cerpen dan cerbungnya. 

Kapan-kapan saya pengin silaturahim dengan Kang Djacka, menikmati harumnya kopi hitam sambil mengobrolkan dunia antah berantah dari sebuah cerita non fiksi. Iya, kapan-kapan, menunggu purnama kelima belas menerangi remangnya malam di pinggiran desa Sekaran, Jatirogo.

Jumat, 04 Agustus 2017

Kang Rudi Blogger Top Dari Tuban

Kang Rudi Blogger  Top Dari Tuban
Oleh : Joyo Juwoto

Berbicara tentang Komunitas Blogger Tuban tidak akan lengkap tanpa menyebut sosok Kang Rudi, yang memiliki nama lengkap Fakhruddin ini. Lelaki yang mengaku telah memiliki Kanjeng Ratu dan Kanjeng Ratu Alit ini berasal dari desa Kapu Kec. Merakurak. Namun saat ini beliau sedang di luar kota, bekerja sebagai Analyst Infrastruktur Teknologi Informasi di PT Perusahaan Listrik Negara (PLN). Wah, sungguh sesuatu yang sangat membanggakan, seorang anak desa dari Tuban, bisa bekerja super keren di PLN Persero.

Ketika saya mengintip profil Kang Rudi di facebook, beliau ini lulusan Jurusan Teknik Informatika di Universitas Budi Luhur Semarang, jadi jika Kang Rudi sangat concern dengan dunia blogger memang sangatlah tepat. Selain pakar dalam dunia IT, Kang Rudi orangnya suka dengan hal-hal yang baru, khususnya mengenai Sejarah lokal Tuban, UMKM Tuban, pertanian, dan segala sesuatu yang berbau pedesaan. Kang Rudi ini juga sangat suka mengendors pelaku usaha kecil di daerahnya melalui tulisan di webnya berikut https://www.kangrudi.com/. Beliau juga suka menulis mengenai wisata-wisata lokal Tuban maupun tempat wisata lain di dalam negeri, kemudian mengunggahnya ke media sosial. 

Dari beberapa postingan Kang Rudi saya banyak mengenal wisata kuliner baik di Tuban maupun tempat yang pernah dikunjungi oleh Kang Rudi, selain itu  Kang Rudi juga suka menulis opini mengenai hal-hal yang positif. Karena Kang Rudi memang sosok blogger top Tuban yang selalu menyerukan berinternet yang baik, sehat dan bijak di dunia maya. Kang Rudi ini orangnya sangat tidak suka perdebatan yang tidak ada manfaatnya. Lebih baik menulis hal-hal yang positif dari pada harus memperdebatkan sesuatu yang tidak jelas jluntrungnya.

Saya sangat salut dengan pembawaan Kang Rudi yang low profile dan friendly ini, beliau di group Blogger Tuban sering memberikan bimbingan mengenai kebloggeran dan hal-hal yang berkenaan dengan dunia maya. Pokoknya teman blogger kita dari Kapu Merakurak ini sangat luar biasa. Semoga Kang Rudi sekeluarga sehat selalu dan terus bisa berkarya untuk bangsa, baik lewat dunia blogger maupun yang lainnya. Salam.