Senin, 24 April 2017

Perutmu Adalah Sumber Penyakitmu

Perutmu Adalah Sumber Penyakitmu
Oleh : Joyojuwoto

Sumber penyakit adalah perut, jika kita tidak berhati-hati dalam hal masalah perut maka kita akan punya banyak masalah dengan kesehatan kita. Lebih-lebih dewasa ini jika kita tidak berhati-hati dengan makanan yang kita konsumsi, maka kita akan merasakan kerugian pada saatnya nanti. Dalam sebuah riwayat dikatakan : المعدة بيت الدّاء, ada yang mengatakan ini adalah nasehatnya dokter Arab, Harits bin Kaldah yang artinya adalah : “Lambung adalah rumah penyakit.” Maka berhati-hatilah dalam mengisi perutmu dengan makanan ataupun minuman. Pilihlah makanan dan minuman yang halal dan thayyib.

Ajaran Islam memang sangat memperhatikan betul tentang makanan ini, sampai-sampai Allah sendiri memperingatkan manusia untuk memperhatikan benar dengan apa yang dimakannya. Di dalam Al Qur’an Surat Abasa, ayat 24 Allah berfirman :
فَلْيَنْظُرِ الإنْسَانُ إِلَى طَعَامِهِ (٢٤)

Artinya : “Maka hendaklah manusia itu memperhatikan makanannya.”

            Dalam hal makanan yang mungkin dianggap sesuatu yang sangat remeh, Allah Swt sendiri, memperingatkan dengan serius. Karena makanan yang kita konsumsi sangat mempengaruhi kesehatan kita. Jika kita sehat tentu kita akan lebih mudah untuk menunaikan kewajiban-kewajiban kita kepada-Nya.

          Seperti yang saya kemukakan di atas kita diwajibkan mengkonsumsi makanan yang halal lagi thayyib. Kedua unsur ini harus ada dalam makanan maupun minuman yang kita konsumsi agar membawa keberkahan di dalam tubuh ini. Halal saja tidak cukup, begitu pula thayyib saja masih kurang, begitulah kesempurnaan Islam dalam memberikan petunjuk kepada hamba-hambanya.

          Wawasan mengenai makanan dan minuman ini tentu wajib diketahui oleh semua orang Islam, selain karena makan adalah aktivitas rutin yang kita kerjakan dan menjadi hak wajib bagi tubuh, mengetahui makanan yang baik dan bergizi, yang halal lagi thayyib, agar nantinya makanan yang kita konsumsi membawa dampak kebaikan bagi tubuh yang sehat dan kuat. Bukankah Allah Swt, sangat menyukai orang-orang yang kuat lagi sehat, dibandingkan orang-orang yang lemah dan tak berdaya ?

          Oleh Karena itu perhatikan betuk jenis makanan yang kita konsumsi dan cara kita mengkonsumsi makanan. Dua hal ini akan membawa afek yang baik bai kesehatan badan. Di era sekarang kita tentu prihatin dengan banyaknya jenis makanan dan snack-snack yang banyak mengandung unsure racun di dalamnya. Seperti pewarna makanan,pengawet, pemanis, perasa dan lain-lain yang tidak mentaati  kaidah kesehatan. Hampir di dalam makanan yang kita konsumsi mengandung unsure-unsur itu. Jadi jangan heran jika sekarang banyak sekali penyakit yang aneh-aneh yang menimpa masyarakat.

          Selain jenis makanan yang perlu kita perhatikan agar tubuh ini sehat adalah pola makan yang kita terapkan. Menurut Rasulullah Saw, pola makan ini sangat mempengaruhi kesehatan badan. Dalam Sebuah haditsnya beliau bersabda :

ما ملأ آدمي وعاء شرّ من بطنه بحسب ابن آدم لقيمات يقمن صلبه فإن كان لا بدّ فاعلا فثلثه لطعامه وثلث لشرابه وثلث لنفسه. (رواه الإمام احمد والترمذي وغيرها)

Artinya : Tidaklah seorang anak Adam (manusia) mengisi bejana yang lebih buruk dari perutnya. Cukuplah baginya beberapa suap yang bisa menegakkan tulang sulbinya. Jikalau memang harus berbuat, maka sepertiga untuk makanannya, sepertiga untuk minumannya, dan sepertiga untuk nafasnya. (HR. Imam Ahmad dan at-Tirmidzi dan selainnya.)

          Dari hadits di atas Rasulullah Saw, sangat memperhatikan pola makan, jangan sampai makan sebanyak dan sekenyang perutnya, tapi cukup makan sekedarnya dan tidak terlalu kekenyangan, bahkan Rasulullah sendiri tidak pernah kenyang dalam makan. Rasulullah mengajarkan perut jangan sampai dipenuhi oleh makanan saja, namun harus dibagi sepertiga untuk makanan, sepertiga untuk minuman, dan sepertiga lagi untuk ruang nafasnya.

          Mari meneladani dan mengikuti petunjuk Rasulullah Saw dalam hal makan, agar makanan yang kita makan berkah dan bermanfaat untuk tubuh kita, dan mari menghindari berlebihan dalam makan agar makanan yang kita konsumsi tidak menjadi racun dan tidak menjadi sumber penyakit yang akan menggerogoti kesehatan kita. Jaga makanmu, jaga perutmu, agar kita sehat selalu.


Minggu, 23 April 2017

Perlukah Menulis Buku ?

Perlukah Menulis Buku ?
Oleh : Joyojuwoto

Menulis mungkin ada yang mengatakan sebagai pekerjaan yang sia-sia belaka, menghabiskan waktu, dan pekerjaan orang yang tidak punya pekerjaan. Anggapan seperti ini tentu lahir dari ketidaktahuan akan pentingnya sebuah buku. Saya sendiri kadangpula punya anggapan demikian pula, untuk apa menulis, toh sudah banyak yang nulis, untuk apa menulis toh tulisanku jelek, tidak bermutu dan seabrek kalimat-kalimat yang sebenarnya melemahkan semangat menulis, dan tentu pertanyaan-pertanyaan itu tidak penting sama sekali.

Jika bukan karena berniat menebar manfaat dengan menulis, saya sebenarnya enggan untuk menulis. Rasa tidak pede dengan tulisan yang kurang bermutu benar-benar mengganggu semangat dan pikiran untuk menulis. Jika bukan karena saya merasa ada beban yang terlepas dari jiwa ketika menulis, jika bukan karena saya merasa bahagia kalau menulis, saya juga enggan melakukan aktivitas ini. Sejelek apapun tulisan yang saya hasilkan, setelah saya menuliskannya ada kebahagian yang membuncah di dalam hati. Dan perasaan ini tidak pernah saya dapatkan dari aktivitas apapun kecuali ya menulis tadi. Ringkasnya dengan alasan-alasan saya itu akhirnya saya menulis juga, walau tulisan saya masih belum bagus, tapi kebahagiaan ini selalu ada di sana.

Saya menulis sebenarnya sudah sangat lama, tapi niat benar-benar untuk menulis baru sekitar tahun 2015, saat itu saya ikut bergabung di group literasi Sahabat Pena Nusantara (SNP) di Whatshap yang didirikan oleh Ustadz Husnaini dari Lamongan. Dengan bergabung di group itu akhirnya saya terpacu untuk bisa menulis. Sejak group itu didirikan ada aturan anggota SPN harus rutin setor tulisan dengan tema yang telah ditentukan. Saya sangat gembira akhirnya  di tahun 2015 buku antologi pertama saya dengan SPN terbit judulnya Quantum Ramadhan, setelah itu setiap enam bulan sekali SPN selalu menerbitkan buku antologi, hingga sekarang.

Setelah buku perdana terbit, saya akhirnya semakin terpacu untuk menulis mandiri, hasilnya dua buku solo saya terbit di tahun 2016, yang pertama adalah buku Sirah Nabawiyyah judulnya “Jejak Sang Rasul” sebuah sejarah singkat Nabi Muhammad  Saw, dan solo  buku kedua yang saya hasilkan adalah”Secercah Cahaya Hikmah.”Saya merasa senang dan bahagia akhirnya saya bisa menerbitkan buku secara indie.

Untuk tahun 2017 ini saya juga punya keinginan menerbitkan buku, sudah ada puluhan cerpen yang rencananya akan saya antologikan menjadi sebuah buku mandiri. Ya setidaknya dalam hidup ini ada yang saya tinggalkan untuk peradaban, yaitu buku. Bagaimanapun bentuk rupa dan isi dari sebuah buku tentu ada hal yang bisa dipetik untuk kehidupan kita. Karena bagaimanapun buku dan tulisan akan lebih lama hidup dan bertahan dibanding usia kita sendiri. Oleh karena itu menulislah walau hanya satu buku yang kita tinggalkan dalam hidup ini. Karena dengan buku dan tulisan engkau akan mengabadi, begitu kira-kira pesan sastrawan dari Blora, Pramoedya Ananta Toer.

Jadi menulis buku menurutku sangatlah penting, dari  buku kita bisa membagikan ilmu dan pengalaman. Bisa kita bayangkan jika generasi zaman dahulu tidak meninggalkan tulisan apapun, maka kita akan kesulitan dan kebingungan dalam mempelajari ilmu pengetahuan. Bahkan mu’jizat terbesar di dunia ini pun bukan milik Nabi Isa yang bisa menghidupkan orang mati, bukan milik Nabi Musa yang tongkatnya bisa membelas lautan, bukan pula milik Nabi Ibrahim yang tidak mempan dibakar api yang berkobar-kobar, namun mu’jizat terbesar adalah milik Nabi Muhammad Saw, yaitu berupa buku, tulisan di dalam kitab suci Al-Qur’an.

Menyitir dari perkataan Somerset Maugham di dalam buku “SOS” yang ditulis oleh Pak Emcho (Much. Khoiri ), dikatakan bahwa : “We do not write because we want to; we write because we have to,” Kita tidak menulis karena kita ingin menulis; kita menulis karena harus menulis. Dari perkataan ini menyatakan menulis adalah sebuah keharusan dan keniscayaan, oleh karena itu menulislah dan lakukan sekarang juga. Nun Wal Qalami Wa Maa Yasthuruun.


Selasa, 18 April 2017

Setiap Doa Pasti Dikabulkan Oleh Tuhan

Setiap Doa Pasti Dikabulkan Oleh Tuhan
Oleh : Joyojuwoto

Doa adalah segalanya, karena berdoa adalah bentuk intimnya ibadah seorang hamba kepada Tuhannya. Berdoa kadang hanya difahami sebagai permintaan hamba kepada Tuhan saja, namun lebih daripada itu, hakekatnya do’a adalah inti dari segala ibadah itu sendiri. Sholat adalah ibadah wajib yang jika diperas secara hakekat intinya juga doa. Oleh karena itu Nabi Muhammad bersabda : Ad-Du’a Mukhhul Ibadah, doa adalah inti dari ibadah.

Saya mengatakan bahwa setiap doa seorang hamba pasti dikabulkan oleh Tuhan bukan tanpa alasan, dalam berbagai firman-Nya, Tuhan telah menjanjikan akan mengabulkan doa-doa seorang hamba. Jika yang berjanji itu Tuhan sendiri apakah kita tidak yakin ? Di dalam kitab suci Allah Swt, telah berfirman : “Ud’uunii Astajib Lakum” (Berdo’alah kepadaKu, maka akan Aku kabulkan doamu).

Keraguan akan diterima atau ditolaknya permohonan seorang hamba ini pada hakekatnya menjadi salah satu sebab tertolaknya doa itu sendiri. Jadi jika kita memohon kita harus yakin bahwa permohonan itu pasti akan diperkenankan-Nya. Jangan ragu dan yakinlah, pasti Tuhan akan menjawab setiap lantunan doa yang kita munajatkan kepada-Nya.

Dalam kitab Hikam yang ditulis oleh Ibnu Athaillah as-Sakandari dikatakan bahwa “Ketika seorang hamba berdoa kepada Allah, lebih-lebih doa itu dipanjatkan dengan penuh istiqomah, maka pastilah doa itu akan dijawab dan diijabahi-Nya. Karena mustahil bagi Allah mengingkari janji-Nya.

Rasulullah Saw, dalam sebuah haditsnya juga menegaskan : “Setiap doa yang dipanjatkan oleh seorang hamba kepada Allah asal tidak bercampur dengan dosa dan memutuskan tali silaturrahmi, doa itu akan dikabulkan dalam tiga pilihan : (1) Diturunkan seketika di dunia dalam bentuk pemberian sesuai dengan permintaan; (2) Dijadikan simpanan di akhirat sebagai kafarat dari dosa-dosanya; (3) Digantikan sebagai ganti musibah yang tidak jadi diturunkan demi keselamatannya.”

Demikianlah doa seorang hamba kepada Tuhannya, sebagai benteng dan sebagai senjata utama dalam kehidupan seorang hamba. Oleh karena itu berdoalah selalu kepada Tuhanmu, semoga Allah memberikan taufiq, hidayah, dan ma’unah-nya kepada kita semua. Aamiin.