Rabu, 22 Maret 2017

Bangilan Tuban, Kota Kelahiran Abah Hasyim Muzadi

Bangilan Tuban, Kota Kelahiran Abah Hasyim Muzadi
Oleh : Joyojuwoto

Bangilan adalah sebuah kota kecamatan yang berada di Kabupaten Tuban.  Mungkin tidak semua orang mengenal dan tahu kota di mana Abah Hasyim Muzadi, seorang tokoh nasional bahkan internasional dilahirkan. Bangilan memang dalam percaturan politik dikancah nasional tidak begitu penting, sehingga wajar jika jarang yang mengetahuinya. Terlebih lagi Abah Hasyim Muzadi mengawali kariernya bukan dari kota Bangilan, namun dari Jl. Cengger Ayam, Malang Jawa Timur.

Walau demikian, sebenarnya kota kecil di bagian barat daya Tuban ini tidak bisa dipandang sebelah mata. Bangilan dan Senori sejak zaman dahulu sudah sangat masyhur, menjadi kota santri dan kotanya para alim ulama. Dari kota ini banyak terlahir tokoh masyarakat, ulama, dan orang-orang yang berjasa bagi peradaban umat manusia. Dahulu memang penyebutan antara Senori dan Bangilan menjadi satu, walau pada dasarnya dua nama itu adalah dua tempat yang berbeda, namun secara kultur adalah sama.

Sebut Saja ada Mbah Abu Fadhol As-Senory-Al Bangilani, seorang ulama yang memiliki banyak karya tulis berbahasa arab, walau beliau hanya mondok pada KH. Hasyim Asy’ari selama tujuh bulan. Konon karya Mbah Abu Fadhol ini dijadikan rujukan di . Ada pula KH. Misbah Zainil Mustofa, seorang ulama pendiri pondok pesantren Al Balagh yang juga seorang penulis kitab yang produktif. Karya-karya Mbah Misbah sapaan beliau, menjadi rujukan hampir disebagian besar wilayah di Jawa Timur dan Jawa Tengah.

Selain dua nama ulama ternama di atas, masih banyak ulama-ulama hebat yang pernah tinggal mendiami bumi Bangilan. Seperti Mbah Muchit Muzadi, KH. Abd. Moehaimin Tamam, Pendiri pondok pesantren ASSALAM Bangilan, KH. Uzair Zawawi, KH. Gus Nafis Misbah, Gus Badi' Misbah, KH. Shonhadji Nasir, Bu Nyai Hanifah Muzadi, KH. Hasyim Muzadi, dan beberapa kiai-kiai lainnya.

Selain menjadi rumah bagi para kiai, Bangilan-Senori zaman dahulu juga pernah menjadi basis organisasi Nahdlatul Ulama (NU). Bahkan sebelum PCNU ada di kota Tuban, PCNU lebih dulu berdiri di Bangilan- Senori sekitar tahun 1949, perkembangan NU di wilayah Tuban bagian selatan tidak terlepas dari jasa KH. Nur Salim, alumni pesantren Tebuireng. Sedang NU di Tuban pertama kali berdiri di Desa Kaliuntu, Kecamatan Jenu tahun 1935. Tidak heran jika ada guyonan masyarakat yang mengatakan bahwa Jenu itu berasal dari kata JElas NU.

Secara historis, ternyata Bangilan memiliki peran penting bagi perkembangan organisasi Nahdlatul Ulama yang ada di Kota Tuban, oleh karena itu tidak mengherankan jika saat itu kakak dari Abah Hasyim Muzadi, yaitu Mbah Muchit Muzadi ikut mengenalkan Hasyim Muzadi kepada tokoh-tokoh NU, sehingga hal ini menjadi bekal bagi kepemimpinan dari Abah Hasyim Muzadi kelak saat beliau menjadi pimpinan di organisasi terbesar yang ada di tanah air ini.


Dari kota kecil Bangilan inilah, Abah Hasyim Muzadi terlahir, kemudian beliau secara bertahap  dari nol, dari bawah berjuang dengan keras dan akhirnya menjadi tokoh yang berkiprah dan diperhitungkan oleh dunia internasional. Semoga jasa-jasa beliau mendapatkan balasan yang kebaikan dari Allah Swt, dan semoga kehidupan beliau menginspirasi kita semua, khususnya masyarakat Bangilan. Aamiin.

Mutiara Surat At Tin

Mutiara Surat At Tin
Oleh : Joyo Juwoto

Surat At Tin termasuk surat yang diturunkan di kota Makkah, jumlah ayatnya ada delapan. At-Tin di sini adalah merujuk pada nama sebuah pohon yang banyak tumbuh di daerah timur tengah, namun tanaman ini sekarang juga banyak dibudidayakan di Indonesia.

Nama pohon Tin ini disebut satu kali, yaitu dalam surat At-Tin ayat 1, “Demi (buah) Tin dan (buah) Zaitun”. Jika Allah menjadikan pohon ini sebagai lafal sumpah, tentu pohon ini punya keistimewaan yang lebih dibandingkan dengan pohon-pohon yang lainnya. Bahkan Rasulullah menyebutnya buah Tin sebagai salah satu buah dari di surga.

          Dalam sebuah hadits Rasulullah Saw, bersabda mengenai buah Tin ini :
“Rasulullah telah diberi hadiah satu wadah buah Tin, kemudian Nabi Bersabda : “Makanlah kalian!” lalu beliau pun memakannya dan berkata, “Jika engkau berkata ada buah yang diturunkan dari surga, maka aku bisa katakan inilah buahnya, karena sesungguhnya buah dari surga tanpa biji. Oleh karena itu makanlah, karena buah Tin ini dapat menyembuhkan penyakit wasir dan encok.” (HR. Abu Darda)”.

          Selain berfungsi sebagai obat wasir dan encok, buah Tin ini banyak mengandung senyawa garam, kalsium, fosfor, dan zat besi. Selain itu juga mengandung vitamin A dan B. Buah Tin juga banyak mengandung vitamin C dan K yang memiliki fungsi menghentikan pendarahan saat proses pembekuan darah.

Pohon Tin ini selain keramat menurut pandangan umat Islam, dalam literatur agama samawi lainnya seperti Yahudi dan Nasrani juga menyebut mengenai pohon Tin ini. Yesus Kristus bahkan menjadikan pohon Tin atau pohon Ara sebagai perumpamaan yang diajarkan kepada murid-muridnya. “Tariklah pelajaran dari perumpamaan pohon ara: Apabila ranting-rantingnya melembut dan mulai bertunas, kamu tahu, bahwa musim panas sudah dekat...”.

Selain memiliki manfaat sebagai obat dan sebagai penanda musim, pohon Tin ini disebutkan dalam tafsir Ibnu Katsir Juz III, bahwa Ibnu Abbas ketika menafsiri lafadz “Waraqal Jannah” (daun-daun surga), dalam surat Thaha ayat 121, bahwa daun surga yang dimaksud itu adalah daun dari pohon Tin. Daun-daun Tin inilah yang dipakai oleh Adam dan Hawa untuk menutupi aurat-aurat mereka yang terbuka setelah memakan buah Khuldi atas bujukan dan rayuan sesat dari syetan.

          Sedangkan nama Zaitun disebut dalam Al Qur’an sebanyak 7 (tujuh) kali, yait pada surat Al An’am ayat 99; An Nahl ayat 11; al Mukminun ayat 20; an-Nur ayat 35; Abasa ayat 29; dan dalam surat At Tin ayat 1.

          Sebagaimana pohon Tin, pohon zaitun juga banyak memiliki manfaat. Sekarang ini produk olahan dari buah zaitun sangat banyak, dipakai sebagai obat maupun untuk komoditi lain, semisal sebagai bahan pembuatan sabun, kalium karbonat, sebagai obat penawar racun, bahan baku salep, sebagai pewarna produk-produk tekstil dan lain-lain. Hal ini juga sesuai yang disabdakan oleh Rasulullah Saw, bahwasanya Zaitun memiliki banyak manfaat dan keberkahan. Dalam sebuah hadits Nabi Bersabda : “Makanlah buah zaitun dan peraslah minyaknya, karena dia pohon yang membawa berkah.”

          Setelah Allah bersumpah dengan menyebut Tin dan Zaitun, dalam ayat kedua Allah menyebut Thursina, yaitu nama sebuah gunung yang berada di Semenanjung Sinai. Di gunung inilah Nabi Musa berbicara langsung dengan Allah, oleh karena itu Nabi Musa mendapatkan julukan “Kalimullah” maksudnya adalah beliau langsung bercakap-cakap dengan Allah tanpa melalui perantara Malaikat saat menerima wahyu di puncak bukit Thursina. Hal ini sebagaimana yang difirmankan oleh Allah Swt dalam surat An Nisa’ ayat 164 yang artinya : “Dan Allah telah berbicara kepada Musa dengan langsung.”

          Di ayat ketiga, Allah Swt, bersumpah demi negeri yang dijadikan aman. Dalam tafsir Al Iklil yang ditulis oleh KH. Misbah Zainil Mustofa, dinyatakan bahwa negeri yang dimaksud adalah negeri Makkah. Negeri Makkah adalah tempat yang mendapatkan perlindungan langsung dari Allah Swt ketika pasukan gajah yang dipimpin oleh Raja Abrahah saat akan menghancurkan Ka’bah. Di tempat ini pula setiap orang akan merindukannya untuk menyempurnakan rukun Islam yang kelima, yaitu berangkat menunaikan ibdah haji.

          Ayat keempat dan kelima Allah menyatakan bahwa manusia diciptakan dalam bentuk yang baik dan sempurna. Secara lahiriah kesempurnaan manusia sebagai makhluk Tuhan lama kelamaan akan sirna, mulai dari kelahiran, masa kanak-kanak, remaja, dewasa, dan akhirnya akan menua. Seperti pohon-pohon hijau yang lama kelamaan akan menguning dan kering, kemudian luruh ke tanah dan akhirnya mati.

          Yang mampu mengabadikan kesempurnaan manusia adalah keimanannya dan amal sholeh yang diperbuatnya, karena dengan iman dan amal sholeh itulah manusia akan mendapatkan ganjaran yang tiada terputus. Demikian sebagaimana yang disebutkan dalam ayat yang keenam.

Di ayat yang ketujuh Allah Swt, menegaskan dengan sebuah pertanyaan “Maka apakah yang menyebabkan kamu mendustakan (hari) pembalasan sesudah (adanya keterangan-keterangan) itu ? Ayat ini memberikan gambaran bahwa Allah pasti akan memberikan balasan yang baik bagi orang-orang yang beriman dan beramal sholeh, sedangkan orang yang tidak beriman dan membuat kerusakan akan direndahkan oleh Allah dengan serendah-rendahnya di akhirat kelak.

Kemudian surat At-Tin ditutup dengan penegasan dan pernyataan dalam bentuk pertanyaan, “Bukankah Allah Hakim yang adil ? di dalam tafsirnya, Mbah Yai Misbah memberikan keterangan di ayat terakhir ini, bahwasanya Rasulullah Saw bersabda : Barangsiapa yang membaca surat At-Tin hingga akhir ayat, sebaiknya kemudian membaca :
بلى وانا على ذلك من الشاهدين


Maksud dari bacaan di atas adalah kita mengiyakan dan bersaksi bahwa Allah Swt Dzat yang Maha Adil dengan segala hukum-hukumnya. Kita tunduk dan taat kepada hukum Allah dan ridha dengan segala qadha-Nya. Demikianlah para ulama dahulu bertata karma dalam menyikapi sebuah ayat.

Selasa, 21 Maret 2017

Abah Hasyim Muzadi, Kiai Kelahiran Bangilan Tuban

Abah Hasyim Muzadi, Kiai Kelahiran Bangilan Tuban
Oleh : Joyojuwoto

Bangilan Kota Kelahiran Abah Hasyim Muzadi

Abah Hasyim Muzadi, terlahir dengan nama Achmad Hasyim, beliau lahir di Bangilan Tuban, tanggal, 08-08-1943. Abah Hasyim terlahir dari pasangan Pak Muzadi dan Ibu Rumyati. Dari kota  kecil Bangilan, Abah Hasyim menjelma menjadi tokoh, ulama, yang kiprahnya diakui oleh dunia internasional.

Walau Abah Hasyim banyak menghabiskan waktunya di Malang dan Depok untuk urusan umat serta mengurusi pesantren Al Hikam yang beliau dirikan, namun secara perasaan saya merasa dekat dengan beliaunya. Kedekatan ini saya kira wajar, seorang santri merasa dekat dengan kiainya, walau saya sendiri secara langsung juga tidak nyantri pada beliau. Selain ikatan batin antara santri kepada Kiainya, saya juga dekat dengan keluarga Abah Hasyim Muzadi yang ada di Bangilan.

Kebetulan saya nyantri kalong di pondok pesantren ASSALAM Bangilan, sebuah pesantren yang didirikan oleh Abah Moehaimin Tamam. Kiai saya, Abah Moehaimin masih sepupu dari Abah Hasyim Muzadi. Selain sepupu, adik dari Abah Moehaimin, Bu Nyai Mutammimah adalah istri dari Abah Hasyim Muzadi. Jadi tidak berlebihan jika saya merasa dekat dengan Abah Hasyim Muzadi, karena beliau masih adik ipar dari kiai saya.

Ayah dan Ibu, Abah Hasyim Muzadi

Pak Muzadi, ayah dari Abah Hasyim adalah seorang pedagang yang sukses. Sedang Bu Rumyati adalah ibu rumah tangga yang juga berjualan jajanan bolu. Walau  bukan seorang kiai beliau sangat dekat dan senang dengan kiai. Dalam dunia santri, jika kita ingin pandai atau anak keturunan kita menjadi alim, maka hendaknya cinta kepada orang alim. Tidak heran jika putra-putri Pak Muzadi  menjadi kiai yang alim. Seperti Mbah Muchit Muzadi, Bu Nyai Hanifah Muzadi, Abah Hasyim Muzadi, dan putra-putri beliau lainnya.

Pak Muzadi adalah seorang pedagang tembakau, selain itu beliau juga mempunyai usaha merangkai sepeda onthel. Pada waktu itu tidak sembarang orang memiliki onthel, hanya orang-orang kaya saja yang punya. Pak Muzadi juga punya hobi memelihara burung perkutut, bahkan dari hobinya ini, sekitar tahun 1934 beliau berhasil menjual pekutut dengan harga yang tinggi kemudian dibelikan sebuah mobil sedan touring, merknya  Chevrolet yang lagi ngetrend masa itu. Pada waktu itu di Bangilan hanya ada dua orang yang punya mobil, satunya adalah Pak Muzadi. Pada waktu itu Camat Bangilan jika ingin pergi ke Tuban, meminjam mobilnya Pak Muzadi.

Pak Muzadi Merintis Madrasah di Bangilan

Sekitar tahun 1930-an, tidak semua orang bisa sekolah, Di Bangilan hanya terdapat dua sekolahan, yaitu sekolah Volk School dan Vervolg School. Atau masyarakat lebih sering menyebutnya sebagai sekolah ongko siji dan sekolah ongko loro. Tidak semua kecamatan memiliki sekolah, namun kedua jenjang sekolah itu ada di Bangilan. 

Sekolah Volk School atau sekolah tingkat dasar ditempuh selama tiga tahun, sedangkan sekolah Vervolg School atau sekolah lanjutan ditempuh selama enam tahun. namun tidak semua orang pada masa itu bisa sekolah. Di Bangilan pada waktu itu yang berhasil tamat sekolah Vervolg School enam tahun adalah H. Badrut Tamam. Beliau ini ayah dari kiai saya Abah Moehaimin Tamam, yang juga mertua dari Abah Hasyim Muzadi.

Karena model sekolah baik Volk School maupun Vervolg School bercorak Belanda, siswanya memakai celana pendek yang tidak sesuai dengan ajaran Islam, maka Pak Muzadi merintis madrasah sendiri yang dikenal dengan nama Madrasah Miftahus Salamah. Pak Muzadi ini yang mondar-mandir mencari guru dan murid. Karena ketokohan dari Pak Muzadi, waktu itu mendapatkan sebanyak 12 murid. Beliau juga mendatangkan guru dari Kajen Jawa Tengah. Pada waktu itu istri Pak Muzadi punya adik ipar lulusan Madrasah Matholiul Falah yang didirikan oleh  KH. Abdus Salam tahun 1922, namanya Maskoen. Pak Maskoen inilah yang nanti akan dinikahkan dengan Bu Muyassaroh, binti Muzadi, yang tak lain kakak dari Abah Hasyim Muzadi.

Waktu itu untuk mencari guru sangat susah, apalagi menjadi guru Madrasah yang baru dirintis. Oleh karena itu Pak Muzadi punya kiat khusus dalam rangka menjaring guru. Beliau sebagai pengusaha perakit sepeda onthel, akan memberikan kemudahan bagi guru madrasah untuk membeli sepeda onthel yang waktu itu masih menjadi barang yang langka dan istimewa. Hanya para mandor dan sinder kehutanan saja yang mampu membeli dan mengkredit sepeda buatan Pak Muzadi. Harganya sekitar dua gulden, kalau dikurs dengan mata uang sekarang setara dengan dua ratus ribu rupiah.

Waktu itu madrasah menempati sebuah loji milik orang abangan, entah sebab apa tiba-tiba loji itu diminta oleh pemiliknya dengan alasan yang tidak jelas. Akhirnya Pak Muzadi mencari tempat lain, maka dipilihlah sebidang tanah miliknya yang ditempati langgarnya Kiai Ridwan, seorang kiai sepuh dari Bangilan. Madrasah Miftahus Salamah akhirnya berdiri dan pembelajaran berjalan dengan dengan baik, namun setelah berlangsung selama tiga tahun madrasah itu kembali vakum. Salah satu murid dari sekolah yang dirintis oleh Pak Muzadi adalah anaknya sendiri, yaitu Mbah Muchit yang waktu itu berumur 10 tahun, kakak dari Abah Hasyim. Sedang Abah Hasyim sendiri belum lahir.

Keluarga Yang Grapyak Semanak

Dengan Pak Muzadi, saya tidak pernah ketemu, namun yang istri beliau Mbah Rumyati saya sempat ngonani. Bahkan ketika beliau wafat saya ikut bertakziyah, waktu itu kalau tidak salah saya duduk di kelas satu MTs. Keluarga besar dari Abah Hasyim Muzadi ini dikenal sebagai keluarga yang grapyak dan semanak. Suka menolong dan baik terhadap tetangga kiri kanan. Kebetulan saya menjadi santri ASSALAM Bangilan Tuban yang memang masih satu keluarga dengan Abah Hasyim Muzadi. Ketika Bu Nyai Hanifah (Kakak Abah Hasyim) masih sugeng,  Saya  sering di ndalemya, bahkan pernah menempati rumahnya Bu Muyassaroh, bersama santri-santri lainnya (baca : http://4bangilan.blogspot.co.id/2015/04/sepenggal-kisah-bu-nyai-hj-hanifah.html). Dari sinilah saya tahu bahwa keluarga Abah Hasyim Muzadi adalah keluarga yang sangat baik kepada siapapun.

Pendidikan dan Karier Abah Hasyim Muzadi

Pendidikan Abah Hasyim Muzadi dimulai dari MI Bangilan, kemudian beliau sekolah di Tuban kota hingga SMP. Setelah dari SMP beliau kemudian melanjutkan mondok di Gontor Ponorogo, bareng dengan kiai saya, Abah Moehaimin Tamam. Menurut Abah Moehaimin, walaupun satu pondok tetapi mereka jarang ketemu. Karena Gontor menerapkan sistem santri tidak boleh satu kamar dengan santri yang berasal dari satu daerah. 

Setamat dari Gontor, Abah Hasyim nyantri di Mbah Fadhol, Senori. Selain itu beliau juga nyantri di Lasem Jawa Tengah. Sekitar tahun 1964, Abah hasyim melanjutkan pendidikannya di kota Malang. Pada saat di Malang ini, menurut kiai saya, Abah Hasyim kuliah sambil bekerja. Abah Hasyim jualan kecap dengan cara berkeliling menawarkan dagangannya di kota Malang. Suatu ketika, pas hari Jumat, Abah Hasyim jualan kecap seperti biasa, karena waktunya mendekati shalat Jumat beliau berhenti di salah satu masjid. Ketepatan waktu itu khatibnya berhalangan hadir, karena tidak ada yang maju, Abah Hasyim entah karena apa dipanggil untuk menjadi khatib.

Walau tanpa persiapan khutbah, Abah Hasyim yang lulusan Gontor mampu berkhutbah dengan baik, bahkan hingga menyihir para jamaah. Memang Abah Hasyim memiliki keistimewaan dalam hal ini. Setelah khutbah itulah akhirnya Abah Hasyim di dekati oleh seorang tokoh setempat, agar beliau bersedia mengisi pengajian di masjid tersebut. Dari sinilah karier Abah Hasyim mulai dikenal oleh masyarakat hingga beliau menjadi tokoh dan ulama yang dikenal luas oleh dunia. Ini yang saya dengar dari cerita kiai saya, Abah Moehaimin Tamam, saat saya nyantri dulu.

Demikian sedikit kisah Abah Hasyim Muzadi, semoga dengan mengenang orang-orang baik, kita ikut ketularan kebaikannya. Dan semoga Abah Hasyim Muzadi terus mengabadi dalam jiwa dan karya generasi penerusnya. Aamiin.

Owh, ya ! foto yang saya pajang dengan Abah Hasyim Muzadi itu bukan foto saya, karena saya tidak pernah foto dengan Abah Hasyim Muzadi. Lagian wajah saya lebih ganteng sedikit dibanding pemilik foto yang asli. Itu adalah foto dari salah satu santri kinasihnya Abah hasyim Muzadi. Sekian terima kasih.


Sabtu, 18 Maret 2017

Tawadhu’nya KH. Hasyim Muzadi

Tawadhu’nya KH. Hasyim Muzadi
Oleh : Joyo Juwoto

Ibarat seperti padi, semakin berisi semakin merunduk, begitupula dengan seorang yang alim, semakin tinggi keilmuannya semakin rendah hatinya. Demikian saya menggambarkan sosok Abah Hasyim Muzadi, walau saya tidak nyantri langsung kepada beliau, namun karena antara Abah Hasyim Muzadi dan kiai saya, Abah Moehaimin Tamam masih kerabat, maka Abah Hasyim ini kadang-kadang ke pondok saya. Memberi mauidhoh dalam acara haflah akhirussanah, maupun acara-acara di pondok yang berada di tempat kelahiran beliau.

Selain mendengar nasehat-nasehat dari Abah Hasyim, kadang saya juga mendengar cerita tentang Abah Hasyim dari Bu Nyai Hanifah Muzadi (almh). Pernah suatu malam bakda isya’ Abah Hasyim dolan ke Bangilan di rumah punjer Bani Wustho yang ditempati oleh Bu Nyai Hanifah. Waktu itu saya sedang di jalan raya karena suatu keperluan, saat di jalan itulah saya ketemu seorang yang berjalan sambil berdzikir memegang tasbih, setelah saya perhatikan ternyata beliau adalah Abah Hasyim Muzadi dari ndalemnya  Bu Nyai Hanifah menuju pondok pesantren ASSALAM. Abah Hasyim ndolani kiai saya, Abah Moehaimin Tamam. Karena selain kerabat, Bu Nyai Mutammimah, istri dari Abah Hasyim adalah adiknya Abah Moehaimin Tamam, kiai saya.

Melihat Abah Hasyim secara langsung dari dekat hati ini rasanya marem dan maknyess. Membekas hingga tulisan ini saya buat. Saya juga masih merasakan keteduhan dari wajah Abah Hasyim Muzadi. Beliau begitu tawadhu’ dan grapyak sumanak. Orang yang ditemuinya di jalan disapa dengan senyum yang ramah, waktu itu saya tidak berani mendekat, hanya melihatnya saja, dan itu terasa cukup bagi saya.

Memandang wajah orang alim itu memang menyejukkan, seperti memandang purnama dua belas yang indah menawan. Bahkan dalam kitab Lubabul Hadits disebutkan, bahwasanya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

“Barang siapa yang memandang wajah orang alim dengan satu pandangan, lalu dia merasa senang dengannya, maka Allah Ta’ala menciptakan malaikat dari pandangan itu yang memohonkan ampunan kepadanya sampai hari kiamat” (Al Hadits).

Saya berharap dan berdoa kepada Allah Swt, semoga satu pandangan saya dahulu melihat keteduhan dari wajah Abah Hasyim Muzadi adalah pandangan sebagaimana yang disebutkan dalam hadits Nabi di atas.

Setelah itu saya jarang melihat secara langsung Abah Hasyim Muzadi, walaupun Abah Hasyim juga beberapa kali ke Bangilan, paling lihat ya di koran, di Tv, maupun di media sosial. Memandang secara langsung dengan melalui media perantara memang terasa beda, alaqah batiniah, dan rasa kadang tidak kita dapati dari sebuah perantara. Oleh karena itu bermuwajahah secara langsung dengan orang alim itu sangat luar biasa pengaruhnya ke dalam alam batiniah kita.

Abah Hasyim Muzadi pernah suatu ketika pidato dalam satu acara di pondok pesantren ASSALAM Bangilan, beliau  menyatakan bahwa, Abah Moehaimin Tamam itu orangnya istiqamah, ulet, disiplin, dan tekun, “Saya masih kalah dengan beliau.” kata Abah Hasyim Muzadi merendah. Tentu ini adalah teladan yang diberikan oleh Abah Hasyim Muzadi, bahwa seseorang itu harus tawadhu’ kepada siapapun.

Demikian sekilas kenangan saya tentang Abah  Hasyim Muzadi, saya menuliskannya semoga ini menjadi obat kerinduan dan kesedihan saya dengan berpulangnya beliau ke rahmatullah. Semoga Allah Swt menempatkan beliau di sisi-Nya.



Kamis, 16 Maret 2017

Inilah Beberapa Quote dari KH. Hasyim Muzadi

Inilah Beberapa Quote dari KH. Hasyim Muzadi
Oleh : Joyojuwoto

Harimau mati meninggalkan belang, gajah mati meninggalkan gading, sedang jika manusia mati ia meninggalkan nama. Demikian pepatah yang sering dikutip oleh para bijak, agar kita selalu ingat jika kita mati maka kita bisa meninggalkan nama yang baik dan harum.

Demikian pula, hari ini (16 Maret 2016) salah satu putra terbaik Indonesia meninggal dunia. Beliau Abah KH. Hasyim Muzadi seorang ulama asli kelahiran dari Bangilan Tuban. Mantan Ketua PBNU ini telah pulah ke rohmatullah dengan tenang, dan meninggalkan nama yang harum serta amal kebaikan yang sangat banyak.

Diantara amal kebaikan Abah KH. Hasyim Muzadi adalah ilmun nafi’ , ilmu yang bermanfaat, baik yang beliau ajarkan di majelis-majelis ilmu maupun yang beliau teladankan dalam kehidupannya sehari-hari.

Berikut saya kutipkan beberapa kalimat-kalimat hikmah dari Abah Hasyim Muzadi yang menginspirasi, yang saya kumpulkan baik dari internet maupun yang tersebar di media sosial :

1.      Doa adalah Iktiar Bathiniah, sedangkan ikhtiar adalah doa lahiriah
2.   Berdoa dan bekerja keras itu memang perintah Allah, dan Allah akan memberi anugerah, tapi bukan berarti doa dan kerja keras kita itu dapat memaksa Allah.
3.   Jika yang kosong adalah akalnya, isilah ia dengan ilmu. Jika yang kosong adalah hatinya, isilah ia dengan zikir. kesatuan zikir dan pikir akan membentuk ulul albab.
4. Akal bukan segala-galanya, jika kejiwaan terguncang, akal ikut terguncang.
5.    Kecerdasan dan kepandaian itu bukan segalanya, ia masih bergantung pada kejiwaan, ketika kejiwaan itu goncang, maka kecerdasan pun goncang. Intelektualitas bisa goncang karena instabilitas rohani.
6.   Keikhlasan itu tidak tampak, dan tidak perlu ditampak-tampakkan, tetapi Allah akan menampakkan hasil dari keikhlasan itu.
7.   Orang yang memperjuangkan umat tidak akan kekurangan, dan orang yang memperjuangkan diri sendiri belum tentu berkelebihan.
8.   Orang yang tidak berbuat apapun untuk kemaslahatan umat justru akan dililit oleh permasalahannya sendiri.
9.   Jangan takut berkorban, agar kalian tidak menjadi korban.
10.Tingkatkan kedisiplinan dalam setiap aktivitas baik ibadah maupun prestasi ilmiah
11.Nasionalisme bukan hanya dengan simbol-simbol dan slogan, tapi dengan pengabdian dan menggunakan disiplin ilmu yang dimiliki.
12.Pikirkan kekuranganmu sehingga kamu tidak sempat memikirkan kejelekan orang lain.
13.Di kalangan umat Islam seluruh dunia ada tiga hal yang tidak boleh disinggung atau direndahkan, yakni : Allah Swt, Rasulullah Saw, dan kitab suci Al Qur’an. Apabila salah satu, apalagi ketiganya disinggung dan direndahkan pasti mendapat reaksi spontan dari umat Islam tanpa disuruh siapapun.
14. Saya optimis Gontor mampu mengemban misi kebangkitan umat.
15.Janji Allah selalu bersyarat dan rahmat Allah selalu minta tanggungjawab.

Demikian beberapa quote (kalimat hikmah) dari KH. Hasyim Muzadi, semoga kita bisa mengikuti dan mengamalkan dari apa yang telah beliau contohkan. Amin.


Selasa, 14 Maret 2017

Berguru Di Toko Buku

Berguru Di Toko Buku
Oleh : Joyojuwoto

Tadi pagi sekitar pukul 09.30 WIB, saya pergi ke toko kitab di jalan raya pasar Bangilan untuk membeli kitab tafsirnya Mbah Misbah. Saya memang punya keinginan untuk mengoleksi kitab tafsir al-Iklil fi Ma’ani al-Tanzil, yang ditulis oleh pendiri pondok pesantren Al Balagh Bangilan Tuban. Sebagai orang Bangilan, tentu saya bangga di tanah kelahiran saya ada kiai hebat yang mempunyai karya tulis yang sangat banyak, termasuk diantaranya adalah kitab tafsir yang akan saya beli.

Sampai saat ini saya sudah membeli tafsir Ak-Iklil sebanyak 25 juz, mulai dari juz 1 sampai juz 25, tinggal 5 juz lagi yang belum saya beli. Saya memang punya kegemaran mengoleksi buku, kalau kitab sebenarnya juga suka, cuma bacanya yang susah, berbahasa arab, bahkan gundul lagi. lengkap deh pusingnya. Tapi untuk kitab tafsirnya mbah Misbah ini memang saya punya rencana untuk mengoleksinya. Semoga selain mengoleksi saya juga sempat membaca dan mentadabburinya.

Saya masih ingat, pada saat nyantri pernah didawuhi kiai saya, alm. KH. Abd. Moehaimin Tamam, pendiri pondok pesantren ASSALAM Bangilan Tuban Indonesia. Beliau dawuh, bahwa menuntut ilmu tidak hanya di bangku sekolah saja, di manapun kita bisa menuntut ilmu. Termasuk di toko buku. Semenjak didawuhi seperti itu, saya sangat suka sekali pergi ke toko buku, walau kadang hanya melihat-lihat saja. Seneng rasanya melihat tumpukan dan pajangan buku dengan cover-cover yang beraneka warna dan ragamnya, damai rasanya membaca judul buku di rak-rak toko buku, pokoknya saya suka betah jika sedang di toko buku. Walau kadang ya hanya melihat-lihat saja.

Di bangilan sendiri toko yang khusus menyediakan buku bacaan belum ada, jika ada, paling masih bercampur-baur dengan toko ATK dan foto copy, buku hanya dijadikan pelengkap saja. Saya sebenarnya juga punya keinginan membuka toko buku di kota kelahiranku ini. Namun karena sesuatu hal, keinginan itu belum terwujud. Kalau toko kitab di Bangilan ada, yaitu di toko yang saya kunjungi tadi pagi.

Saya selalu meyakini bahwa tidak ada yang kebetulan di dunia ini, mulai dari hal terbesar sampai pada butiran molekul, debu, pasir, pasti ada garis Tuhan yang mengaturnya. Tidak sengaja, tadi pagi pas saya membeli kitab, saya bertemu dengan seorang setengah sepuh yang juga membeli kitab. Sebenarnya beliau sudah selesai bertransaksi dan tinggal pulangnya, Cuma karena menunggu foto copy, beliau masih duduk di toko itu. Setelah ngobrol-ngobrol, ternyata beliau adalah seorang kiai dari Leran Senori, dan kebetulannya lagi beliau adalah  murid dari kiai kondang yang melegenda seantero Nusantara, Kiai Abu Fadhol As-Senori (Mbah Dhol).

Saya sangat senang beliau bercerita mengenai kehidupan Mbah Dhol. Menurut beliau, Mbah Dhol adalah ulama laduni, mbah Dhol menghafal Al Qur’an hanya dalam waktu seratusan hari, tidak hanya itu, pada saat bulan ramadhan, selain sibuk mbalah kitab, mbah Dhol juga selalu mengkhatamkan Al-Qur’an tidak kurang dari 22 kali. Padahal mbah Dhol mbalah kitabnya pagi, siang, sore dan malam.

Selain itu, Mbah Dhol juga memiliki banyak karya tulis. Karya-karya Mbah Dhol bahkan menjadi bacaan di negeri-negeri timur tengah. Mbah Kiai ini tadi juga punya kitab tulisan asli tangan mbah Dhol yang diijazahkan kepada beliau saat nyantri di mbah Dhol. Mbah Kiai ini juga banyak mendapatkan ijazah sanad keilmuan dari mbah Dhol.

Selain mengoleksi karya tulis mbah Misbah, saya juga punya keinginan mengoleksi karya-karya mbah Abu Fadhol As-Senori.

 Saya punya satu karya Mbah Dhol, milik seorang teman, judulnya "Pangrekso Agama" yang ditulis oleh Mbah Dhol dengan huruf pegon. Itu pun saya belum berani memfoto copinya, sebelum mendapat ijin dari ahlinya. Pucuk dicinta ulam pun tiba, pagi itu saya ketemu langsung dengan murid beliau yang sekarang telah menjadi kiai di Leran Senori. Akhirnya saya bertanya mengenai karya-karya mbah Dhol.

Kemudian saya juga bertanya kepada pemilik toko kitab, apakah ada kitabnya mbah Dhol. Kang Santri pemilik toko kitab itu secara kebetulan ternyata beliau putra dari santrinya Mbah Dhol juga, teman mbah kiai dari senori tadi. Dan saya kemudian diambilkan dua kitab karya mbah Dhol yang sudah dicetak. Saya pun membelinya. Alhamdulillah, selain mendapatkan kitab tafsirnya Mbah Misbah, saya mendapatkan kitab karya dari kiai senori yang saya kagumi.

Dan yang luar biasa saya juga sempat mendengarkan mbah kiai dari Leran Senori tadi memberikan ijazah sanad keilmuan salah satu kitab foto copi dari tulisan tangan mbah Dhol kepada pemilik toko kitab yang dipanggil Gus, oleh Mbah kiai. Saya pun ikut khusyu’ menyimaknya.

Semoga pertemuan singkat saya di toko kitab dengan mbah kiai tadi mengandung berkah dan manfaat. Aamin ya Rabbal ‘alamin.





Minggu, 12 Maret 2017

ASSALAM Sudah Begini Ataukah Baru Begini?

Pic. Mbah Moel
ASSALAM sudah begini ataukah baru begini?
Oleh : Joyojuwoto*

“ASSALAM sudah begini ataukah baru begini?.” Begitulah salah satu pertanyaan yang disampaikan oleh Abah Moehaimin, pendiri Pondok Pesantren ASSALAM Bangilan  Tuban kepada salah satu alumni era 80-an. Hal ini saya baca dalam buku “Surgaku Adalah Mengajar” sebuah buku kumpulan tulisan untuk mengenang KH. Abd. Moehaimin Tamam.

Dari pertanyaan Abah Mohtam di atas, para Hawariy penerus perjuangan Abah Mohtam harus menjawab dengan sebuah tindakan yang nyata, jelas, dan terukur agar apa yang ditanyakan oleh pendiri dari pondok pesantren ASSALAM ini menemukan titik jawaban yang memuaskan. Pertanyaan dari Abah mengandung sebuah harapan besar, agar kelak pondok pesantren ASSALAM Bangilan terus berbenah dan berkembang yang lebih baik lagi.

Perubahan-perubahan zaman adalah sebuah keniscayaan, dan jika pondok pesantren ingin tetap eksis tentunya harus menyesuaikan dengan perubahan-perubahan itu. Kita tidak akan mungkin menang melawan perubahan zaman, jika kia tidak mengikuti arus besar perubahan, maka bersiap-siaplah untuk digulung, dihantam, dihempaskan dan akhirnya dihancurkan oleh arus perubahan itu  sendiri. Ingat teori evolusi, bahwa makhluk hidup yang tidak mampu beradaptasi dengan lingkungannya lama kelamaan akan punah. Yang tertinggal hanyalah mereka yang mampu beradaptasi dengan lingkungannya, begitu pula teori ini juga berlaku bagi pondok pesantren yang tidak mampu melihat arah perubahan zaman.

Perubahan-perubahan yang saya maksud untuk diikuti tentu bukan sembarang perubahan, masalah prinsip, masalah pokok tetaplah harus kita pegang erat, kita pertahankan, kita pegang teguh, namun kita juga jangan terlalu kolot statis, yang tidak bisa melihat modernitas dengan segala potensi kebaikan dan kemajuannya. Saya kira ulama-ulama salafus sholihin pun mengajarkan akan hal ini. Dalam sebuah kaidah ushul fiqih sering kita ucapkan “Al-muhaafadhotu ‘alal Qadiimis Shoolih, Wal akhdu bil Jadiidil Ashlah” (Memelihara tradisi lama yang baik, dan mengambil tradisi baru yang lebih baik).

Dari kaidah ushul fiqih di atas, mengajarkan akan dinamika perubahan harus diikuti, pesantren haruslah menerapkan dan melakukan gerakan inovasi positif untuk mampu mempertahankan diri dari perubahan zaman, pesantren harus bisa mempertahankan dan memelihara tradisi lama yang baik, sekaligus mampu mengambil nilai-nilai baru yang lebih baik lagi. Oleh karena itu saya sangat tertarik dengan sebuah ungkapan yang luar biasa “Al Ma’hadu La Yanaamu Abadan” Pondok tidak pernah tidur, pondok selalu terbangun, pondok tidak pernah berhenti, pondok harus terus bergerak. Bergerak berarti hidup, bergerak berarti dinamis, bergerak untuk terus mengasilkan kebaikan bagi umat.

Jadi sebuah pondok pesantren tidak perlu alergi dengan perubahan yang membawa kebaikan bersama, karena itu ada dalilnya, ada petunjuknya dari ulama-ulama salaf, tinggal kita yang perlu merumuskan dengan baik perubahan seperti apa yang diinginkan.

Pondok Pesantren ASSALAM sejak mulai berdiri sudah memiliki visi dan misi yang besar, hal ini selalu digemblengkan oleh Abah Mohtam yang merujuk pada nilai dan ajaran dari Gontor bahwa, “Pondok pesantren ASSALAM berdiri di atas dan untuk semua golongan.” Visi dan misi besar ini harus diejawentahkan dalam program pesantren.

Abah Mohtam, adalah seorang yang visioner, beliau mendirikan pesantren tidak hanya untuk kelompok dan golongan saja, hanya untuk satu dan dua ormas saja, lebih-lebih hanya untuk keluarga. Abah Mohtam adalah seorang yang berjiwa besar karena visi dan misinya yang menglobal dengan semboyan beliau : “ASSALAM Lana Wa Lil Muslimiina, ASSALAM Fauqol Jamik, Wa Lil Maslahati Jamik.” jadi mengutip pertanyaan Abah Mohtam, ASSALAM sudah begini ataukah baru begini?


Sabtu, 11 Maret 2017

Tafsir Al-Iklil

Tafsir Al-Iklil
Oleh : Joyojuwoto

Tafsir al-Iklil atau judul lengkapnya Tafsir al-Iklil fi Ma’ani al-Tanzil, adalah sebuah kitab tafsir Al Qur’an yang ditulis oleh KH. Misbah Zainal Musthafa, seorang ulama ternama dari Bangilan Tuban. Mbah Bah, sapaan akrab beliau di Bangilan, terlahir dari keluarga kiai di Kampung Sawahan, Rembang Jawa Tengah, tahun 1916 M dari pasangan H. Zaenal Musthafa dan Ibu Khadijah. Nama kecil Mbah Misbah adalah Masruh, kemudian setelah menuaikan ibadah haji, nama beliau diganti menjadi Misbah Zainal Musthafa.

Mbah Bah sendiri menetap di Bangilan Tuban setelah beliau dijodohkan oleh KH. Achmad bin Syu’ab dari Sarang, Rembang tahun 1940 dengan Ning dari Bangilan, yaitu putri dari KH. Ridwan. Setelah mertuanya meninggal dunia, Mbah Bah fokus mengurusi pondok pesantren yang bernama Al Balagh.

Mbah Misbah termasuk ulama yang juga seorang penulis. Beliau sangat rajin dan produktif sekali dalam hal dunia tulis-menulis ini. Karya-karyanya sangat banyak dan masih dikaji hingga sekarang. Mungkin kebiasaan menulis mbah Bah terinspirasi dari kakaknya, Bisri Musthafa yang juga menekuni dunia karang mengarang ini, Mbah Bisri sendiri memiliki banyak karya tulis, diantara karya monumental beliau adalah kitab tafsir Al-Ibriz li Ma’rifati Al Qur’an al-Aziz.  

Karya-karya tulisan KH. Misbah Zainal Musthafa selain kitab tafsir al-Iklil sangat banyak, diantaranya adalah : Masail al faraid dalam bahasa Jawa, terjemah bahasa jawa kitab Minah Al Saniyyah, Alfiyah Al Kubro (Jawa), Tajul Muslimin Juz I-IV, Tafsir Jalalain bahasa Jawa, Fadhilah Yasin terjemah Jawa, Terjemah Jawa kitab Al Itqan karya Imam Suyuti, Bait-bait Syi’ir Tanda Kiamat dan lain-lain.

Kita generasi santri sekarang layak berterima kasih kepada ulama-ulama yang banyak menelurkan karya besar mereka yang sangat luar biasa, dengan tulisan-tulisan beliau-beliau itulah kita bisa belajar agama kepada ulama yang otoratif, tidak hanya sekedar belajar dari mbah google saja.

Saya menuliskan sedikit mengenai Mbah Misbah dengan karya tafsirnya ini dilatar belakangi oleh seorang yang SMS saya. Rumahnya cukup jauh dari Bangilan Tuban, yaitu Temanggung. Setelah SMS Kang Jalu, nama beliau, bertanya kepada saya lewat telepon tentang pengajian tafsir Al Iklil. Kang Jalu mengetahui informasi tentang tafsir al-Iklil dari tulisan saya yang ada di blog.
Menurut Kang Jalu, kita harus belajar agama itu dari ulama yang otoratif dalam bidang keagamaan, jangan hanya dari internet, karena sekarang banyak sekali orang yang belajarnya cukup lewat media sosial. Sehingga Kang Jalu ini berencana ke Bangilan untuk diantar sowan kepada kiai-kiai sepuh, untuk belajar mengaji kepada para kiai.

Di era sekarang, melihat semangat dari Kang Jalu untuk tholabul ilmi ini membuat saya malu sekaligus takjub. Malu, karena saya yang asli Bangilan terus terang saja belum pernah ikut pengajian tafsirnya Mbah Misbah. Takjub, kok ya ada ya, jauh-jauh dari Temanggung mau sowan dan ngaji di Bangilan. Ini tentu sesuatu yang sangat luar biasa. Kita patut meneladani semangatnya dalam berthalabul ilmi.

Mbah Misbah sendiri wafat kalau tidak salah sekitar tahun 1997, waktu itu saya masih duduk di bangku MTs, dan saya belum pernah sowan atau ketemu beliau hingga wafat. Setelah Mbah Bah wafat, pengajian Tafsir Al Iklil dilanjutkan oleh putra beliau, yaitu Gus Nafis, hingga Gus Nafis wafat pun (2016), saya juga belum bisa mengikuti majelis pengajian tafsir Al Iklil.

Oleh karena itu, tahun kemarin saya mulai mencari kitab-kitabnya Mbah Misbah, masak orang Bangilan sendiri kok belum membaca dan tidak punya kitab-kitab ulama dari kampungnya sendiri, kan lucu. Saya punya harapan bisa membaca seluruh karya mbah Misbah, dan bisa membaginya kepada publik baik lewat tulisan saya di blog, atau nantinya saya bisa menuliskannya kembali ke hadirat pembaca dalam bentuk buku yang berbahasa Indonesia. Atau juga bisa menjadikan karya-karya Mbah Misbah sebagai rujukan tulisan-tulisan saya. Semoga  saja Allah Swt, meridloi dan memudahkan segala urusan ini. Aamiin.


Rabu, 08 Maret 2017

Selamat Ulang Tahun Anakku, Nafa

Tanggal 7 Maret adalah hari ulang tahunmu anakku, walau tidak setiap tahun abimu bisa memberikan ucapan ulang tahun dengan tulisan ataupun lisan, tapi yakinlah seluruh doa dan cinta kasih sayang abimu ini untukmu sayang. Untuk Umimu dan Mbak Naila tentunya.

Tahun ini adalah tahun di mana usiamu menapaki angka empat, anakku. Abi, Umi, dan mbak Naila sangat menyayangi dirimu. Sebentar lagi Nafa akan masuk sekolah, sesuai yang selalu Nafa damba-dambakan. Biar Nafa bisa menyanyi gembira dengan teman-temanmu, dan juga bisa bermain, bercanda, berlari dan menari bersama dengan teman-temanmu dengan penuh ceria.

Anakku, engkau pun ingin segera menenteng tas ke sekolah, memakai sepatu sendiri, membeli crayon, membeli buku gambar, dan tidak ketinggalan buku-buku cerita. Abimu sangat senang melihatmu bersemangat untuk segera bisa menuntut ilmu. Semoga Allah selalu menjadikan dirimu sebagai sang pembelajar disetiap waktu.

Tiada kebahagiaan bagi orang tua, kecuali melihat buah hatinya sehat, bahagia, dan tentu menjadi anak yang sholihah. itu yang selalu menjadi untaian doa-doa abimu. Cukup dulu ya sayang, Abi, umi, dan mbak Naila sayang pada Nafa. Semoga bahagia selalu anakku, di dunia dan juga diakhiratnya. Aamiin. 

Selamat tumbuh kembang, sayangku Nafa. 


Abimu yang selalu mencintaimu. :)


Penggembala

google.com
Penggembala
Oleh : Joyojuwoto

Penggembala yang saya maksud di sini adalah merujuk kepada seseorang yang aktivitasnya menjaga dan memiara hewan ternak baik itu sapi, kerbau, atau pun kambing. Bukan penggembala yang mengacu pada istilah yang dipakai dalam misionaris Kristen. Penggembala binatang ternak ini biasanya melepaskan hewan-hewan gembalaannya di padang rumput, tanah lapang atau di hutan. Aktivitas menggembala  biasa dilakukan oleh anak-anak desa di pinggiran hutan, atau di tempat yang memiliki padang rumput yang luas.

Dahulu saat saya masa kecil hingga beranjak remaja, menggembala dan menyabit rumput menjadi aktivitas sehari-hari sepulang dari sekolah, atau pada saat hari libur. Walau pekerjaan menjaga dan mengurusi binatang ternak kadang membosankan, tapi menggembala dan menyabit rumput menjadi kenangan indah yang sulit saya lupakan. Saya masih selalu bahagia jika mengenang momen-momen menggembala.

Waktu itu bapak saya memiliki dua ekor sapi, karena bapak dan emak sibuk mengurus sawah dan ladang, maka sebagai anak sulung, sayalah yang punya tugas untuk menggembalakan sapi-sapi itu. Biasanya bersama teman-teman di kampung, saya bawa sapi-sapi ke pinggiran hutan. Di sana kami tinggal melepaskan sapi-sapi itu merumput. Dan kami tinggal menunggu sambil bermain-main di persil, membuat rumah pohon, mencari buah juwet, mencari sarang burung, mencari jangkrik, belalang, atau kadang juga kami tinggal rumpuk jagung atau singkong.

Sangat menyenangkan, di tepi hutan bersama teman-teman mbakar jagung, singkong ataupun telo. Sambil menunggu sapi yang merumput, kami makan bersama, bercanda, bercerita, dengan penuh keakraban. Untuk minum biasanya kami bawa sebotol air dari rumah, kalau tidak begitu kami pun tidak perlu susah. Di tepi hutan banyak tersimpan sumber air atau belik yang bisa kami minum tanpa perlu memasakknya terlebih dahulu. Atau lebih ekstrim lagi kami juga biasa minum dari leng yuyu degan sedotan dari papah pohon pepaya.

Jika kami dapat belalang atau manuk emprit, biasanya kami bakar dengan bara api yang kami buat dengan kotoran sapi kering, atau biasanya kami bawa umplung wadah cat ukuran sedang. Umplung itu kedua sisinya kami beri tali dari kawat biar bisa  dicangking kemana-mana.  Umplung yang telah kami lubangi sisi-sisinya itu kami isi dengan kayu atau arang, kemudian kami nyalakan sebagai tungku untuk membakar binatang buruan tadi.

Selain berfungsi sebagai tungku, umplung itu juga kami pakai untuk mengasapi sapi agar terhindar dari gigitan nyamuk, lalat, dan pela-pelu. Biasanya tungku umplung itu kami bawa jika kami menggembala seharian mulai dari pagi hingga sore hari. Selain itu juga kami pakai untuk penghangat badan  saat menggembala di musim bediding.

Rutinitas menggembala pada musim kemarau lebih sering saya lakukan daripada musim penghujan, karena di musim kemarau untuk mencari rumput susah, sehingga lebih baik sapinya dilepas di padang gembala saja. Jika di musim hujan saya agak jarang membawa sapi-sapi itu ke padang rumput, karena selain banyak rumput yang bisa di sabit untuk makanan sapi, biasanya di musim penghujan sapi-sapi itu dipakai oleh bapak saya untuk menggarap lahan sawah dan ladangnya.

Waktu itu memang alat membajak sawah seperti traktor belum ada, kalaupun ada itupun masih sangat sedikit dan hanya dipunyai oleh petani kaya. Sedang petani seperti bapak saya cukup memakai alat bajak tradisional yang ditarik dengan sapi-sapi yang kami pelihara sendiri. Yah, mungkin seperti marhaen, petani kecil mandiri, yang konon ditemui oleh Bung Karno saat beliau jalan-jalan di pedalaman Bandung, Jawa Barat.

Mungkin nanti tentang bapak saya yang mirip marhean akan saya ceritakan sendiri dibagian lain tulisan saya. Di sini saya ingin bernostalgia dengan masa-masa kecil saya saat menggembalakan sapi-sapi di padang rumput, di tegalan dan di tepian hutan.

Namun sayang aktivitas menggembala sekarang sudah jarang dilakukan oleh anak-anak desa, selain sekarang para pemilik sapi lebih suka membeli pakan untuk sapinya, anak-anak sekarang juga lebih asyik dan sibuk dengan sekolahnya, dengan lesnya, dengan ngajinya, dan seabrek aktivitas lain yang membuat anak kehilangan masa bermainnya. Anak-anak sekarang sudah jarang bermain menikmati alam terbuka, di sawah, tegalan, kali, dan hutan-hutan.

Tapi mungkin itu sudah menjadi tuntutan zaman, dan kita tidak mungkin melawan jika zaman telah menuntut. Tapi yang pasti anak-anak perlu dikenalkan dengan alam di mana mereka tinggal. Karena alam juga bagian dari guru kehidupan.


Selasa, 07 Maret 2017

Menjadi Muslim Yang Rahmatan Lil ‘Alamin

Menjadi Muslim Yang Rahmatan Lil ‘Alamin
Oleh : Joyojuwoto

Jika Islam adalah agama yang rahmatan lil 'alamin, maka seorang muslim yang baik tentu juga seorang muslim yang bisa menjadi rahmatan lil ‘alamin. Rahmatan lil 'alamin ini menjadi rahmat, mengayomi, baik bagi dirinya sendiri, orang lain, kepada lingkungan, tanaman, hewan-hewan dan seluruh makhluk di muka bumi. 

Menjadi muslim adalah bentuk kepasrahan total kepada Allah Swt,  berusaha menebarkan manfaat keselamatan, keamanan, dan ketentraman bagi kehidupan di alam semesta. Menjadi Muslim berarti selamat dan menyelamatkan. Selamat untuk dirinya sendiri, dan menyelamatkan orang lain untuk menggapai rahmat dan ridho Allah Swt.

Di zaman sekarang, kadang kita lupa untuk menjadi muslim yang rahmatan lil ‘alamin. Ada seorang muslim yang  hanya bisa menjadi rahmat untuk sesama muslim saja, ada yang bisanya hanya menjadi rahmat untuk bangsanya saja, dan ada yang hanya bisa menjadi rahmat untuk kelompok masyarakat yang berbeda agama dan keyakinan saja. Padahal seharusnya menjadi muslim adalah menjadi rahmat bagi semesta.

Sudah seharusnya, menjadi muslim itu harus kaffah, sebagaimana yang disebutkan di dalam Al Qur’an surat Al Baqarah ayat 208 yang berbunyi :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا ادْخُلُوا فِي السِّلْمِ كَافَّةً وَلا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ (٢٠٨)

Artinya : “Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu”. (Q.S. 2 : 208)

Jika kita memproklamirkan diri sebagai seorang mukmin, kita juga harus menjadi muslim yang sejati, atau masuk islam yang sempurna, yang kaffah. Dan menjadi muslim yang kaffah, adalah menjadi rahmat bagi semua umat manusia, tidak memilah dan memilih, dan yang pasti menjadi kaffah adalah bentuk ketaatan dan ketundukan kita yang mutlak terhadap ajaran Islam. Namun ingat, Allah mewanti-wanti bahwa kaffah kita akan mendapatkan godaan dari setan, yang menjadi musuh yang nyata bagi umat manusia.

Menjadi rahmat lil ‘alamin berarti menebar manfaat bagi segenap umat manusia di dunia, tidak pandang bulu dan tidak membedakan antara yang ini dan itu. Tidak membedakan kelompok dan golongan tertentu, bahkan tidak membedakan apakah dia seorang muslim atau bukan. Semuanya berhak mendapatkan manfaat dari kemusliman kita. Karena dalam sebuah hadits Rasulullah Saw bersabda :
أَحَبُّ الْخَلْقِ الَى اللهِ أَنْفَعُهُمْ لِلنًّاسِ

Artinya : “Orang yang paling dicintai oleh Allah adalah orang yang paling memberikan manfaat kepada manusia”. (HR. Ath-Thabrani).

        Inilah salah satu gambaran dari seorang muslim yang rahmatan lil ‘alamin yaitu muslim yang banyak memberi manfaat kepada manusia, dan bukan menjadi muslim yang menebar madharat bagi kehidupan orang lain.

        Oleh karena itu, mari menebar manfaat bagi kehidupan di dunia ini agar kita mendapatkan predikat sebagai muslim yang dicintai oleh Allah Swt, dan tidak ada kebahagiaan yang tinggi tentunya, kecuali kita dicintai oleh-Nya.